
Paginya, mereka semua sedang berada dalam satu meja makan. Marco menatap Yaren penuh kekaguman, karena nyatanya menantunya itu sama sekali tidak membencinya.
Setelah selesai makan, semua orang dipinta oleh Marco untuk tinggal sebentar, dia ingin bicara.
"Ayaz..." Marco memulai pembicaraannya, semua orang menyimpan, terutama Yaren yang memang begitu minim pengetahuan tentang mereka.
"Kau akan tinggal di sini, bersama Yaren. Kau mungkin tau apa yang akan terjadi jika kau terlalu sering menampakkan diri, maka mengertilah setidaknya untuk dua sampai tiga tahun ini." lanjutnya.
"Hemmm!" sahut Ayaz seadanya, sementara Yaren tidak berani bersuara.
"Tuan Marco, aku ingin bertanya!" kali ini Jovan, "Apa jika Ayaz dan Yaren harus tinggal di sini, aku bisa mengunjungi mereka?"
Jovan sangat takut tidak bisa bertemu dengan adiknya itu setelah ini, mau bagaimanapun rasanya ia juga tidak bisa berjauhan dengan Yaren.
"Bukan masalah, tapi... Aku sarankan jika kau ingin mengunjungi mereka setidaknya sebulan sekali sekalian mengantarkan kebutuhan mereka." jawab Marco.
"Cih, dia lagi!" dengus Ayaz, yang langsung saja mendapat cubitan dari Yaren.
"Baiklah Tuan, saya akan mengunjungi mereka sebulan sekali!" ujar Jovan.
"Kau masih penasaran Yaren?" tanya Marco, dia beralih menatap menantunya itu.
__ADS_1
"Aaa aku..." gugup Yaren.
"Daddy sengaja memalsukan kematian Ayaz, supaya dia tidak mengalami hal yang menyedihkan, dia tidak ingin melepaskanmu, apa lagi sampai berpisah karena dia harus dipenjara!" jelas Marco.
"Jadi untuk itulah kalian harus mengungsi di sini, maafkan Daddy!"
Yaren mengangguk, meski ia belum cukup paham namun sebisa mungkin dirinya mengerti.
"Dan kau Ayaz? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Marco.
"Tidak ada, aku sudah mengerti!" sahutnya.
"Baiklah, jika semuanya sudah memahami, Daddy rasa kami semua sudah siap untuk meninggalkan kalian di sini!"
"Lalu untuk bulan nanti, mungkin Jo atau yang lainnya akan mengantarkan kebutuhan kalian, kau bisa mengatakan apapun yang kau inginkan, ingat untuk setahun ini kau paling pantang berada di sekitaran kota!"
Marco benar-benar menegaskan poin terakhir, tentu saja ia tidak mau usahanya menjadi sia-sia hanya karena Ayaz yang masih ingin bermain-main. Kalau sampai ketahuan tentunya akan sulit untuk dirinya memperbaiki lagi.
Ayaz mengangguk, "Baiklah!" ujarnya setuju.
"Hei kau! Dengarkan itu, berhenti membuat masalah, kau tau aku benar-benar pusing meghadapi masalahmu yang tidak habis-habis!" gerutu Rymi.
__ADS_1
"Heh, sialan!" umpat Ayaz.
"Kau bilang apa?" Rymi menggeram.
"Kau ini memang pemarah sekali, bukannya sudah biasa aku memanggilmu begitu!"
"Ayaz kau!"
"Sudah sudah, kalian ini mengapa tidak pernah akur? Rymi, mau bagaimana pun dia itu saudaramu!" ujar Marco mengingatkan.
"Ya, terpaksa menjadi saudara, cih!" decih Rymi.
Lalu semua orang bubar, nanti sore baru rencananya Marco, Rymi, dan Jovan akan kembali, mereka akan membuat sedikit perayaan sebelum meninggalkan rumah hutan ini tentunya.
Ayaz bergabung dengan mereka di teras belakang, sementara Yaren di kamar, wanita itu mengatakan tidak enak badan.
Yaren merasa mungkin dia sedikit demam karena beberapa hari ini dirinya memang tidak makan sama sekali, barulah semalam dan pagi tadi ada makanan yang bisa masuk ke mulutnya.
Yaren benar-benar belum mengetahui kalau dirinya sedang hamil, ada nyawa yang sudah menempati rahimnya saat ini.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....