Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Yang baru saja kau dengar itu memang benar!


__ADS_3

Yaren seperti mengetahui arah jalan yang mereka tuju, mobil Marco masuk ke arah hutan, tempat itu cukup familiar baginya karena di tempat inilah pertama kalinya ia jatuh cinta pada suaminya itu.


"Daddy!" serunya pada Marco.


"Hemmm..." sahut Marco.


"Mengapa harus ke sini?" tanya Yaren lagi.


Di dalam mobil hanya ada Yaren, Marco, dan juga Rymi, sementara Sam yang tadi ingin ikut malah diberikan tugas oleh Rymi, Sam di suruhnya mengurus Amla dan kedua orang tuanya. Hal itu semata-mata Rymi lakukan supaya Sam tidak mengetahui kalau Ayaz masih hidup.


"Kita akan menginap di sini malam ini!" ujar Rymi.


Mendengar itu, tiba-tiba saja Yaren berubah takut, karena tadi Rymi sempat berkata padanya tentang maukah dia mati menyusul Ayaz.


"Rym apa maksudmu?" tanya Yaren.


"Aku? Tidak ada maksud apapun?"


"Kau ingin membunuhku yaaa?" tanyanya panik.


Rymi membuang muka, ia mendengus kesal, bagaimana bisa tadinya Yaren berkata ingin menyusul Ayaz namun sekarang lihatlah wajah ketakutannya itu.


"Aku?" Rymi menunjuk dirinya sendiri, lalu tiba-tiba muncullah sebuah ide gila untuk mengerjai Yaren. "Aku hanya mau mengantarkanmu pada Ayaz!" jujurnya. Namun Yaren menanggapinya lain, karena jelas saja, bagaimana mungkin mengantarkannya menemui Ayaz, sedang Ayaz saja dikiranya sudah mati.

__ADS_1


"Rym!" bentak Marco, mengapa juga Rymi harus mengatakan itu.


"Sudahlah Daddy, tidak ada siapapun juga di sini!" sahut Rymi santai.


"Apa maksudmu Rym, kau benar-benar ingin membunuhku?" tanya Yaren lagi. Wajahnya memerah.


"Aku kan hanya membantumu! Bukankah kau bilang merindukan Ayaz?" enteng Rymi.


"Tapi..."


Yaren pasrah, jikapun ia harus dibunuh di sini sudahlah, rasanya memang lebih baik begitu, hidup pun percuma. Meski dia juga belum siap untuk mati.


"Kau suka kan!" tanya Rymi dengan nada yang menakutkan.


"Lakukan saja apapun yang kau inginkan!" ketus Yaren.


Marco di posisi kemudi hanya bisa menggeleng, "Rym jangan keterlaluan!" ujar Marco.


"Aku tidak keterlaluan, aku hanya meluruskan niatnya, tanya saja!" sahut Rymi.


"Hei Yaren! Benar kan, kau yang mengatakan tidak sanggup untuk berpisah dari Ayaz, kau bilang kau mau menyusulnya?" tanya Rymi.


Yaren heran dengan ayah dan adik dari suaminya ini, mengapa terlihat seolah santai saja, terutama Marco, padahal yang mati adalah anaknya, anak kandungnya pula, mengapa tidak terlihat kesedihan di wajah pria paruh baya itu.

__ADS_1


Rymi juga, masih bisa bersikap seolah santai saja dari kemarin, lain halnya dengan dirinya yang seakan nyawa yang dirinya punya mau lepas saat itu juga.


"Jawab!" tanya lagi Rymi tidak sabar.


"Rym..." tegur Marco lagi.


"Daddy diam, aku sedang bertanya pada kaum budak cinta ini!" ketus Rymi.


"Aku... Aku..."


"Ayaz masih hidup Yaren!" ujar Marco, pria paruh baya itu tidak tega karena melihat wajah Yaren yang tertekan.


Jika dia menuruti Rymi yang tidak waras itu mengerjai Yaren, tentu saja Yaren akan semakin merasa terpuruk, karena bisa saja menganggap keluarga Ayaz sudah tidak memberikan dukungan untuknya, sementara Marco tau Yaren rela melepaskan keluarganya demi untuk hidup dengan putranya itu.


"Daddy..." rengek Rymi, gagal sudah niatnya mengerjai Yaren.


Sementara Yaren, dia tidak berani berkata, menanyakan apa maksud perkataan Marco saja dia tidak berani.


"Kau diam?" tegur Marco lagi.


"Aaa aku..."


"Yang baru saja kau dengar itu memang benar! Ayaz memang masih hidup!" Marco memperjelas lagi perkataannya untuk meyakinkan Yaren.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


__ADS_2