Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Selamat berusaha!


__ADS_3

"Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Awalnya, saya cukup tenang, menganggap kematian Pak Ali, rekan saya itu sebagai takdir meski nyatanya saya juga harus dilibatkan dalam masalah ini. Semuanya juga sudah selesai, saya juga tidak memperpanjang kala sebuah media yang mengabarkan saya adalah orang yang pantas bertanggung jawab, namun berita itu hanya dirilis sebentar, saya dengar pihak media itu bahkan menarik semua koran yang masih tersisa hari itu untuk dimusnahkan."


"Apa kalian juga menyelidiki itu? Atau, kalian adalah dalang dari semuanya."


"Pak Dean, anda jangan melewati batas."


"Bagi saya, tidak ada batasan sama sekali untuk sebuah tindakan, karena hidup saya tidak akan pernah tunduk pada siapapun."


"Saya harus mengatakan apa, dengan sikap saya yang seperti ini, apa saya sudah termasuk pemberontak?"


"Kasus ini kembali di buka karena pihak keluarga Ali Yarkan merasa tidak puas bukan?"


"Kalau begitu, saya di sini sebagai saksi, selain menjawab apa yang kalian tanyakan, namun saya juga berhak mengajukan argumen."


"Sama seperti mereka yang melakukan ini terhadap saya, saya berharap mereka tidak akan keberatan jika harus ditanyai sekali lagi, dan juga bisakah anda melakukan penggeledahan di rumah mereka karena saya juga tidak keberatan jika rumah saya harus digeledah." ucap Ayaz.


Kepala penyidik memejamkan matanya, orang tua dari Ali Yarkan memang sedikit memaksakan kehendak, dan terus saja bersikeras mengatakan bahwa Dean Aries adalah pembunuhnya, sementara Dean Aries waktu penyidikan pertama ia sama sekali tidak menyalahkan siapapun atau memberikan pendapat siapa yang patut dicurigai, baru kali ini mereka mendengar Dean Aries melayangkan tindakan, anggap saja perkataannya ini adalah sebuah tindakan untuk dirinya membela diri, benarkah?


"Baik, akan kami buatkan jadwalnya, dan segera menyampaikan surat pada mereka." ucap kepala penyidik itu menyetujui.


Lalu, Ayaz menyelesaikan sisa pertanyaan, tidak ada masalah, Ayaz memberikan jawaban sesuai dengan hasil BAP penyidikan waktu itu, hal itu juga memperkuat bahwa Dean Aries berkemungkinan tidak terlibat, meski botol itu ditemukan di kamarnya.


Karena meski botol itu ditemukan di kamarnya, namun hal yang paling bisa menyelamatkannya adalah tidak ada sama sekali sidik jarinya ditemukan di botol tersebut, justru malah kebalikannya, sidik jari Ali Yarkan lah yang ditemukan di botol itu meski kenyataan ini masih ditutupi oleh pihak kepolisian. Sebuah bukti yang memperkuat dugaan Ali Yarkan memilih mengakhiri hidupnya.


...***...


Argantara hanya bisa merasakan sesak di dadanya, kala dirinya sebagai seorang Ayah tidak bisa berbuat apapun pada putri bungsunya. Raisa, putrinya itu sama sekali tidak mau membuka mulut untuk mengatakan siapa ayah dari bayi itu.


"Kenapa Raisa?" tanyanya pelan. Mengasari Raisa sama saja menyakiti perasaannya, Argantara justru semakin sesak melihat tangis putrinya itu.


Raisa masih diam tertunduk, bagaimanapun ia tidak tau apa yang akan dijelaskannya, bagaimana ia bisa tau siapa yang menghamilinya. Sedang waktu itu saja ia dalam keadaan tidak sadar, namun ia bisa meyakini kalau ayah dari bayi yang dikandungnya ini bukanlah Jovan.

__ADS_1


"Katakan Nak, siapapun itu? Papa hanya ingin tau!" bujuk Argantara.


Wana, di sudut kamar Raisa, wanita itu tak bisa menghentikan isak tangisnya, mengapa kejadian seperti ini harus menimpa putrinya.


Awalnya meski ia sempat marah pada Raisa karena hamil di luar nikah, namun ia yang kemarin begitu yakin kalau Raisa tengah mengandung anaknya Jovan seketika hati Wana menjadi tenang, bayi itu rencananya akan ia gunakan untuk mengikat pengusaha muda itu.


Tidak ada lagi kebahagiaan terpancar di raut wajahnya, hanya ada duka, anak itu tidak jelas asal-usulnya bagaimana bisa Wana menerimanya dengan lapang.


"Aku..." gugup Raisa, Argantara membiarkannya, ia menunggu dengan sabar untuk Raisa berbicara padanya.


"Katakan saja Raisa." ucap Argantara, pria paruh baya itu duduk bersimpuh di hadapan putrinya, memegang lembut tangan Raisa dan mengusapnya pelan, sekali lah hendak memberikan kekuatan, mengatakan bahwa Papanya ada dan akan selamanya ada.


Andai waktu itu Argantara bisa bersikap seperti ini saat Yaren terjatuh, mungkin Yaren tidak akan mengalami penderitaan di luar sana, saat itu bukanlah harta yang Yaren butuhkan, hanya sebuah kepercayaan dan dukungan, namun Argantara lebih memilih mengusirnya tanpa mau mendengar apapun penjelasannya.


Seharusnya, Argantara tidak harus melihat air mata yang Yaren tumpahkan waktu itu bukan.


"Pa..." Raisa tidak kuasa lagi membendungnya, gadis itu langsung saja memeluk erat Papanya, sikap peduli Argantara terhadapnya nyatanya malah memberikan kesakitan untuk Raisa.


"Aku benar-benar tidak tau Pa." bisiknya.


"Mengapa bisa tidak tau, dengan siapa, katakan meski dari keluarga yang tidak berada pun Papa akan menerima."


Tangis Raisa pecah, mendengar bujukan Papanya malah membuatnya semakin berat untuk berkata.


...***...


"Bagus! Kau sudah bekerja keras!" ucap Jovan, pria itu sedang menemui dokter Amri di sebuah taman.


"Katakan di mana Yaren?" tanya dokter Amri langsung, dia melakukan ini semua hanyalah demi Yaren.


"Lihatlah, entah bagaimana kau bisa menjadi seorang dokter sedang dirimu ini nyatanya dama sekali tidak memiliki kesabaran"

__ADS_1


"Jangan banyak omong kosong, katakan!" berang dokter Amri, baginya Jovan, pria kaya itu benar-benar mempunyai sifat yang menyebalkan.


"Kau tidak seharusnya mencarinya Bung." Jovan menepuk pundak Dokter Amri lembut.


"Bajingan, kau sudah berjanji akan mengatakannya." geram Dokter Amri.


"Ya ya ya, kuakui!" Jovan menghela napasya berat. "Tapi, Yaren sudah menikah, apa masih pantas jika kau ingin menemuinya?" tanya Jovan.


Menikah, menikah, menikah, kenyataannya kabar itu selalu saja mengganggu kinerja otak dokter Amri, benarkah seperti itu?


"Aku hanya ingin menemuinya!" tegas Dokter Amri, tidak peduli apapun dirinya hanya ingin menemui Yaren, ingin melepaskan rindu dan melihat apa wanita itu baik-baik saja.


"Aku tidak bisa mempertemukan Yaren denganmu, tapi... Jika kau mau lebih sedikit berusaha, aku akan menunjukkan jalannya." ucap Jovan lagi.


Meski hanya pernikahan siri, namun Yaren dan Ayaz benar-benar sudah menikah, tidak akan pantas membiarkan seseorang masuk di antara keduanya. Apalagi, orang itu adalah orang yang dirinya kenal, bisa bertarung sampai mati dirinya dan Ayaz nanti.


"Apa? Bagaimana?"


Jovan memberikan sebuah nomor telpon, "Kau harus izin pada pawangnya dulu, siapkan mentalmu karena pawangnya ini memang sedikit gila." ucap Jovan tanpa dosa.


"Maksudnya?"


"Itu adalah nomor ponsel suaminya Yaren, jika kau ingin menemuinya, temuilah Yaren secara baik-baik, jika pria gila itu mengizinkan maka itu adalah sebuah keberuntungan yang memihak padamu, namun jika tidak, kuharapkan kau menyerah saja."


"Kau!"


"Selamat berusaha!" Jovan mengangkat tangannya memberikan semangat, pria itu dengan tanpa dosa berlalu meninggalkan Dokter Amri, baginya ia tidak ada hubungan balas budi lagi terhadap Dokter itu, jalannya sudah ia buka tinggal bagaimana cara Dokter Amri saja menyikapinya.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2