Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Maafkan aku Tuan, abdimu ini tidak bisa lagi memegang janji...


__ADS_3

Marco dan Ayaz membawa anak itu menuju mansion mewah milik Marco, setelah sebelumnya anak itu sudah disuntikkan obat penenang oleh Marco.


Anak itu dibawa menuju ruang perawatan, Mike sudah diperintahkan oleh Marco untuk menanganinya.


"Anak siapa itu?" tanya Marco. Ia menatap Ayaz menyelidik.


"Kemarin aku bertemu dia di panti, dia sedikit berbeda, jadi aku berniat..."


"Kau peduli?" tanya Marco. Ia tampak heran.


"Aku tidak ingin membahasnya!" sahut Ayaz.


"Yaren, bisa tinggalkan kami?" tanya Marco pada Yaren yang juga berada tidak jauh dari Ayaz.


"Kau bisa pergi ke kamar yang waktu itu pernah kau tempati!" lanjut Marco.


Yaren mengangguk, lalu ia meninggalkan Ayaz dan Marco.


"Ada apa?" tanya Marco setelah Yaren pergi, percakapannya kali ini dengan Ayaz, Marco merasa Yaren belum saatnya mengetahui. Ia bisa membaca itu kala Ayaz mengatakan tidak ingin membahasnya.


"Dia kehilangan Ibunya!" sahut Ayaz.


"Lalu?"


"Aku rasa aku tidak tega jika membiarkannya!"


"Apa kau berpikir anak itu memiliki kesamaan hidup denganmu?"


"Entahlah, saat menatap matanya yang penuh dendam namun bersamaan dengan itu ada ketakutan besar juga yang menyulut di matanya, aku rasa aku hanya tidak bisa mengabaikannya begitu saja."


"Salah!" tepis Marco. "Kau bukan hanya merasa kau tidak bisa mengabaikannya, saat ini kau sudah ditahap peduli padanya!"


"Aku juga tidak tau apa yang ada di pikiranku."

__ADS_1


Marco menepuk pundak Ayaz, "Aku tau kau sedang merindukannya, tapi dia sudah tenang di sana. Kau merasa perlu menyelamatkan anak itu karena menganggap dia memiliki kesamaan denganmu, tidak apa... Kadang ada kalanya memang kita harus peduli terhadap orang lain."


"Aku saja yang tidak pernah peduli waktu itu, entah mengapa memilih mempedulikanmu, jadi aku rasa sewajarnya, aku akan mendukungmu..."


Ayaz menatap Marco haru, namun rasanya perasaan itu sangatlah tidak sesuai dirinya rasakan, mengingat dulunya jika Marco mengatakan itu seharusnya ia membenci, namun apa ini... Sayangnya ia malah terharu. Apa Marco sudah benar-benar menempati ruang penting di hatinya. Apa dia benar-benar sudah bisa menerima pria paruh baya yang adalah ayahnya itu?


Ingin mengucapkan terimakasih namun lidahnya seolah kelu tak bisa berkata apapun.


...***...


Penyidikan sudah berjalan setengah, semakin banyak orang yang mereka introgasi mengatakan bahwa Dale Adrie adalah rekan mereka yang mempunyai kepribadian baik, dan semasa bekerja di sini Dale tidak pernah terlibat pertengkaran dan masalah apapun.


Namun satu yang juga menjadi acuan penyidik, kala ada beberapa pengawal yang mengatakan kalau Dale Adrie mendapatkan tugas oleh Amla Huculak untuk mengantarkan sesuatu, dan setelah itu mereka tidak pernah melihat Dale lagi, dan tak lama mengetahui bahwa ada penemuan mayat.


Para pengawal juga mengatakan, mereka tidak menyangka bahwa mayat itu adalah mayat rekan mereka.


Dan sekarang, penyidik tengah mengintrogasi seorang pengawal yang bernama Ilham Furyansah. Pengawal itu mengatakan bahwa memiliki sesuatu untuk diberitahukan, ini mengenai kasus kematian Tuan mereka, dan juga mungkin bisa saja berhubungan dengan kematian yang dialami Dale Adri, rekannya.


"Katakan?" titah penyidik.


"Apa yang kalian alami?"


"Kekerasan fisik, di mana kami dipaksa harus menurut pada mereka yang ternyata adalah, orang-orangnya Nyonya Amla!"


"Apa kau bisa mempertanggungjawabkan perkataanmu ini?" tanya penyidik itu, ia menatap mata Ilham, menilik kebohongan, ia mencurigai itu.


"Sampai saat ini pun aku masih mempunyai rasa takut, tapi... Hal ini aku lakukan bukan hanya demi aku, ini juga demi kematian Tuanku, aku tidak bisa membiarkan ini." ucap Ilham, setengah mati ia menahan kegentaran di raut wajahnya supaya terlihat meyakinkan.


"Lalu di mana rekan-rekanmu saat ini?" tanya penyidik.


"Mereka sudah menyebar, mereka tidak berani kembali ke sini."


"Lalu kau?"

__ADS_1


"Aku merasa ini tidak benar, bagaimanapun nyawa ibuku pernah diselamatkan oleh Tuan Sian, jadi aku merasa apa begitu menyedihkannya menjadi Tuan kami, meski nantinya hasil otopsi keluar dan menyebutkan hasilnya bahwa Tuan kami mati karena disiksa. Tapi aku bisa yakin, Nyonya Amla pasti tidak akan terlibat. Sebagai anak buahnya, aku hanya merasa inilah bentuk baktiku yang terakhir." jelas Ilham.


Penyidik itupun saling pandang, "Apa maksudmu... Nyonya Amla terlibat dalam kasus kematian Tuan Sian?" tanyanya.


"Kami melihat Nyonya Amla menyiksa Tuan Sian di ruangan lainnya di Villa lama itu, tapi kami tidak bisa berbuat apapun." sahut Ilham.


"Laporanmu akan kami buat terlebih dahulu, kami harus mengumpulkan bukti untuk membenarkan tuduhanmu, dan yaaa... Kau sadar apa yang kau katakan tadi? Jika pernyataanmu tadi tidak bisa dipertanggungjawabkan maka kau akan menanggung semua itu."


"Jikapun pernyataanku tadi tidak memiliki bukti, maka tentu saja buktinya sudah dihilangkan oleh Nyonya Amla."


"Ini sudah beberapa hari, sementara aku dan rekan-rekanku baru bisa lolos dua hari yang lalu, kembali ke sini bagiku juga butuh banyak pertimbangan, aku sedang berjuang untuk keadilan, tidak bisakah kalian menghargai itu?"


"Apa karena aku hanya seorang pengawal? Kami juga manusia, kalian mungkin menganggapku rendahan, tapi... Setidaknya aku masih tau caranya membalas budi, yang sedang aku perjuangkan saat ini adalah keadilan!"


"Kalian bisa mencari bukti di Villa itu, tapi entahlah itupun jika masih ada. Namun, bukannya sebagai penyidik kalian harusnya mempertimbangkan laporan pihak lainnya, tidak mungkin kalian berpihak pada satu pihak saja?"


"Tuan Ilham, kami bisa mengerti, kami akan mempertimbangkan itu!" ucap penyidik pada akhirnya.


"Lalu, apa lagi yang kau lihat di sana?" tanya penyidik itu lagi, mereka barulah bertindak serius membuat laporan Ilham.


"Tuan Sian diikat menggunakan kawat besi, mata sebelah kiri Tuan Sian waktu itu sudah bernanah, kemeja putihnya penuh noda darah, tubuhnya penuh luka, dan... Tuan Sian disiksa tidak pernah diberikan makan apapun."


"Kalian bisa mengetahui itu bagaimana?"


"Kami ditanyai satu persatu, orang-orangnya Nyonya Amla memberikan penawaran pada kami, menyuruh kami berkhianat, namun tidak ada satupun dari kami yang berpihak padanya, sehingga hari itu kami harus mengorbankan satu rekan kami mati ditembak." jelas Ilham, ia merekayasa, menceritakan adegan yang pernah dilakukan Rymi, namun berdusta dan menganggap seolah yang waktu itu bertindak demikian adalah orangnya Amla. Sehingga saat Ilham menceritakan itu, pihak penyidik pun merasakan aura Ilham yang benar-benar pernah mengalami itu semua. Dan mereka seketika mempercayai bahwa mungkin apa yang Ilham nyatakan adalah benar. Meski mereka masih juga harus mencari bukti untuk meyakinkannya.


"Kami melihat penyiksaan Tuan Sian dengan mata kepala kami sendiri."


"Lalu kenapa kalian tidak berkhianat?"


"Ini bukan hanya masalah menyelamatkan hidup Tuan kami, tapi tentang sebuah janji, setidaknya sampai Tuan kami mati pun kami tidak pernah mengkhianatinya." jelas Ilham. Dadanya sesak saat mengatakan itu, karena hari ini ia sudah berkhianat.


Maafkan aku Tuan, abdimu ini tidak bisa lagi memegang janji...

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2