
"Kakekmu ingin bertemu Ayaz!" ucap Sam, ia mengungkapkan permintaan Ayah angkatnya kemarin, ingin bertemu Ayaz sekali lagi.
"Kenapa?"
"Temuilah dia!" pinta Sam lagi.
"Apa kau benar-benar sudah berpihak padanya?"
"Aku juga sama seperti kau memandang Marco, Ayaz aku juga punya hutang budi padanya, kalau saja waktu itu Tuan Donulai tidak menyelamatkan aku karena mengira aku adalah kau, mungkin aku sudah mati!" ungkap Sam. "Dan kita tidak akan pernah bisa berbicara seperti ini!"
"Haaahhh!" Ayaz menghela napasnya berat, "Kapan dia ingin bertemu?" tanya Ayaz kemudian.
"Aku bisa mengataurnya, kapan saja kau mau!" jawab Sam.
"Baiklah, kau atur saja! Kapanpun aku bisa menemuinya!"
Sam mengangguk, "Beliau mengatakan kalau ini adalah yang terakhir kalinya membujukmu, jadi aku harap kau bisa memikirkannya dengan baik! Keputusan yang akan kau ambil, beliau menyerahkan semuanya padamu!"
"Heh! Apa pada akhirnya beliau menyerah?" remeh Ayaz.
"Temuilah dulu, maka kau akan menemukan jawabannya, entah menyerah atau mengikhlaskan!" sahut Sam kemudian berlalu.
Sementara itu,
Rymi mendengar percakapan antara Sam dan Ayaz, dia bisa mengerti kesulitan Ayaz maupun kesulitan yang dirasakan Sam.
__ADS_1
Wanita itu berniat menemui Daddynya untuk menanyakan perihal Donulai, bagaimana sebenarnya perkembangan raja bisnis itu.
"Daddy, apa Daddy sedang sibuk?" tanya Rymi manja saat masuk ke ruangan kerja Daddynya.
"Hemmm!" sahut Marco sekenanya, ia masih sedikit takut kalau saja Rymi menemuinya karena ingin meminta yang macam-macam lagi dengan dalih anak yang dikandung, haruskah ia mengumpat tentang hari itu, sungguh Marco ingin sekali.
"Daddy..." manja Rymi lagi karena merasa tidak ada tanggapan.
"Kenapa?" tanya Marco, menatap Rymi sekilas kemudian melanjutkan lagi mengerjakan sesuatu di ponsel pintarnya.
"Ini tentang Donulai!" ungkap Rymi, yang ia yakini sejurus kemudian Daddynya itu pasti menghentikan aktifitasnya.
"Donulai?" tanya heran Marco.
"Heem!" angguk Rymi.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan antara Sam dan Ayaz, Donulai meminta Ayaz untuk bertemu sekali lagi!" jelas Rymi, ia merebahkan satu sisi kepalanya di meja kerja Marco.
"Apa Ayaz menyetujuinya?"
Rymi mengangkat jempolnya menandakan 'iya'.
"Anak itu... Apa kelihatannya dia benar-benar bersedia?"
"Aku tidak tau Daddy, aku bukan cenayang!" ucap kesal Rymi. Kedatangannya ke sini untuk memberitahukan itu dan berharap tanggapan Daddynya dengan cepat, misalnya menemui Ayaz atau mencari tau apa yang akan Donulai lakukan, apa yang saat ini sedang Donulai rencanakan, namun semenjak hari di mana ia berhasil menarik rambut Marco dengan tanpa belas kasih, mengapa Daddynya ini menjadi orang yang payah.
__ADS_1
"Apa aku harus bertemu Donulai?" Menurutmu?" tanya Marco bergumam.
"Menurut Daddy?"
"Apa harus?" Marco meragu.
"Sejak kapan Daddyku ini menjadi seperti orang yang tidak punya nyali?" ledek Rymi.
"Entahlah, aku hanya malas menemuinya Rym bukannya takut! Kau tau kan Daddymu ini tidak mempunyai ketakutan akan apapun!"
"Ya sudah, kalau begitu temui saja, kita harus bertindak cepat Daddy, mengapa rasanya Daddy sekarang menjadi lamban dan payah?" gerutu Rymi.
"Otakku hampir lepas semenjak hari itu dan kau masih bertanya kenapa? Dasar anak durhaka!" umpat Marco, ia kembali kesal lagi.
"Daddy..." manja Rymi, "Itukan permintaan bayinya Samudra, jadi kalau Daddy ingin marah, marah saja pada Ayahnya!" Rymi berkata dengan begitu sangat lemah dan dengan tanpa bersalah malah menjual nama Sam.
"Oohh, Samudra yaaa?"
Rymi mengangguk pasti untuk menyempurnakan aktingnya.
"Heh, kau pikir aku tidak tau? Hei anak durhaka! Apa kau sudah puas balas dendamnya?" tanya Marco yang sejurus berhasil mengejutkan Rymi, jadi... Apa itu artinya Daddynya ini sudah tau perihal drama ibu hamil kemarin?
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1
Â