Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dilema Yaren.


__ADS_3

Mungkin halal jika aku bunuh ini manusia.


Tapi kalau aku bunuh dia... Hiii...


Yaren bergidik ngeri membayangkan jika dirinya benar-benar membunuh Ayaz.


Hari sudah pagi, semalaman Yaren menunggui Ayaz pulang ke rumah, namun pria itu tidak juga datang. Hanya bertemankan obor yang dirinya hidupkan saat menjelang malam, Yaren mengurung diri di kamar, menanti kepulangan Ayaz dengan rasa takut.


Takut sendirian, Yaren benar-benar mengutuk Ayaz yang baginya tidak pernah memikirkan perasaannya.


Paginya, Ayaz sudah tidur berada di sampingnya, terlelap dengan begitu damai, tanpa merasa bersalah sudah meninggalkannya semalaman.


Obor juga sudah dimatikan, berganti dengan lampu tidur yang menyala.


“Heh, dasar manusia nggak punya perasaan, berhati batu!” gumam Yaren mengumpat.


“Terus saja, kau pikir dengan mengumpatiku kau bisa mengubah hidupmu yang katamu tidak beruntung itu?” Ayaz tergelak dengan wajah baru bangun tidurnya.


“Kau terlalu banyak omong Nona!”


Ayaz dengan sigap mengungkung Yaren di bawahnya, matanya menatap penuh minat. Yaren, dengan mata sembab seperti habis menangis semalaman, dan rambut berantakan karena baru bangun tidur menambah kesan menggairahkan bagi seorang Ayaz Diren.


“Akan aku tunjukkan, kau tidak akan bisa melakukan apapun.”


“Ayaz...” suara Yaren terdengar serak, setiap kali Ayaz menatapnya begitu, Yaren akan merasakan ketakutan yang luar biasa. Membayangkan dirinya akan habis, menyerahkan tubuhnya pada Ayaz membuatnya selalu ingin menangis.


Ayaz mulai ******* bibir Yaren, menggigit bibir bawah Yaren, dan saat bibir itu terbuka Ayaz dengan sigap langsung menyerukkan lidahnya masuk ke dalam sana.


Tidak dibiarkannya Yaren bisa melawan, dengan satu tangannya mengikat kedua tangan Yaren dan diletakkannya di atas, sementara tangan satunya mulai menyusup dan menjelajahi perut mulus Yaren.


Mencoba membuka baju Yaren, tidak peduli dengan tangis Yaren yang memohon dirinya untuk berhenti, Ayaz tidak sepeduli itu.


“Hentikan Ayaz, aku mohon!” ucap Yaren dengan nafas tersengal saat ciuman paksa itu terlepas.


“Hemmmttt.” Ayaz ******* bibir Yaren lagi, dia hanya membiarkan Yaren sejenak untuk menghirup oksigen saat melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Air mata terus keluar dari mata indah seorang Yaren Motan, lidahnya terasa kebas karena Ayaz menciuminya secara paksa.


Wajahnya dirundung pilu, benar-benar menyedihkan, bajunya sudah terlepas, koyak tidak berbentuk lagi karena dirobek oleh Ayaz, menyisakan bra berwarna hitam yang mungkin sebentar lagi akan selamat tinggal, Ayaz benar-benar tidak mengasihaninya.


Ayaz beralih pada benda kembar milik Yaren, merem*snya sedikit kuat, bibirnya mulai menciumi leher jenjang wanita itu, sejenak Ayaz sangat menikmati pagi panasnya dengan Yaren.


“Ayaz hentikan, Ayaz jangan aku mohon!”


Namun Ayaz, pria itu seolah tidak mendengar apapun yang dikatakan Yaren.


Brengsek, bajingan, pem*rkos*, Ayaz, aku akan mengutukmu, aku benar-benar akan mengutukmu, aku membencimu di seluruh hidupku.


Ayaz menyesap kedua bukit kembar Yaren secara bergantian, wanita itu meronta-ronta minta dilepaskan, tidak ada des*han, hanya ada tangis yang terdengar sangat menyedihkan, Yaren benar-benar hancur.


“Ayaz aku mohon lepaskan.”


“Ayaz, kau menyakitiku!”


“Ayaz...”


Ayaz terus saja melancarkan aksinya, hingga tangannya dengan pasti membuka pakaian bagian bawah Yaren, menyisakan celana da**m berwarna senada dengan bra yang baru saja dirinya lepaskan tadi.


Yaren dengan rasa syukur yang tak terhingga mencoba menyadarkan Ayaz yang sudah blingsatan, “Ayaz, ada suara pintu diketuk.” adu Yaren.


“Ayaz, ada orang datang berkunjung.”


“AYAZ!” bentak Yaren dengan begitu meninggikan suaranya, Ayaz sudah tuli karena naf*u yang sudah menguasai tubuhnya.


Pria itu tersentak, dirinya tidak suka dibentak, hendak mengayunkan tangannya untuk memukul Yaren, namun lagi-lagi terdengar suara pintu diketuk semakin keras.


“Oh, s*it!” umpatnya.


Ayaz bersumpah akan melenyapkan siapapun yang bertamu jika berita yang dibawa kali ini tidak penting. Dia hampir saja menikmati sarapan panasnya, berani-beraninya seseorang di balik pintu menggagalkan asmara paginya.


“Kau, jangan sampai kau menunjukkan wajahmu nanti, atau aku akan melakukan hal yang lebih gila dari apa yang kau alami tadi.” ancam Ayaz.

__ADS_1


Yaren meneguk salivanya kelat, dengan terpaksa mengangguk teratur, tubuhnya masih gemetar wajahnya basah karena air mata yang bercampur dengan keringat dingin.


Kemudian Ayaz pergi meninggalkannya, menghilang di balik pintu sudah ditutup.


“Hiks hiks, ya Tuhan, terimakasih sudah menyelamatkanku!” gumam Yaren.


Wanita itu bangkit lalu memunguti pakaiannya yang sudah berserakan di lantai, memakainya cepat, mengikat rambutnya asal, lalu duduk untuk menenangkan perasaannya sejenak.


Menatap sebuah jendela yang berbalutkan teralis, kemungkinan untuknya keluar dari kamar ini lewat jendela sungguh sangat tidak mungkin.


“Berpikir cepat Yaren, kau harus menyelamatkan hidupmu, kau harus pergi dari sini, Ayaz... Dia akan melakukannya.” gumam Yaren, air matanya mengalir begitu saja kala teringat betapa brutal Ayaz melakukan hal gila padanya tadi.


“Kau harus pergi Yaren.” Wanita itu mulai bangkit menuju pintu, pelan-pelan membukanya, dilihatnya Ayaz sedang membelakanginya, pria itu tampak terlibat percakapan serius pada seorang pria paruh baya.


Yaren menutup lagi pintu itu pelan, teringat akan ancaman Ayaz yang mengatakan tidak boleh ada yang melihat keberadaanya di rumah ini.


“Dia tidak akan mengampunimu Yaren, tidak...” lirih Yaren, air mata terang saja masih betah membasahi pipinya.


“Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, aku harus sesegera mungkin pergi dari sini.”


Yaren membuka pintu, sangat pelan dirinya usahakan untuk tidak menimbulkan suara, dengan mengendap-endap dan gerakan secepat kilat ia berlari menuju dapur, Yaren menuju kamar mandi untuk bersembunyi.


“Huftt!” Yaren mengusap dadanya pelan, lalu dirinya keluar kamar mandi, dalam hening dirinya mendengarkan Ayaz sedang meyakinkan tamunya bahwa tidak ada siapapun selain dirinya di rumah ini.


“Aku harus pergi!” Yaren menjadi bertambah yakin akan keputusannya.


Namun saat langkah kakinya baru saja akan keluar dari pintu, sebuah hutan lebat dan rindang langsung saja menyapanya. Kilasan kejadian dirinya yang menjumpai beragam jenis hewan penghuni hutan membuat nyalinya menciut. Apa lagi rombongan babi hutan yang membuatnya harus bersembunyi cukup lama waktu itu. Yaren tidak bisa munafik, memang benar Ayaz lah yang sudah menyelamatkan nyawanya.


Kalau saja hari itu Ayaz tidak segera menemukannya, Yaren tidak tau apa yang akan terjadi padanya, mungkin serangan brutal oleh babi hutan yang mendekatinya waktu itu akan ia terima, mungkin juga Yaren sudah lenyap dari dunia ini.


Yaren kembali menutup pintu dengan pelan, kembali mengusap dadanya, kali ini sesak yang dirinya rasakan, Yaren mati-matian menahan tangis supaya tidak menimbulkan suara, merenungi nasibnya yang begitu tidak beruntung.


Bagai makan buah simalakama, Yaren bagai tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dirinya memilih bertahan dengan Ayaz, maka Ayaz akan memangsanya, menjadikannya pemuas naf*u, teman ranjang yang tidak akan pernah ada nilainya di mata Ayaz, hidupnya akan hancur.


Sementara jika dirinya memilih keluar dari rumah itu, mungkin hari ini adalah hari terkahir dirinya hidup di dunia.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote !!!...


__ADS_2