
Pagi-pagi sekali Ayaz pergi menemui Sam di lobby hotel, Sam sudah membelikan beberapa pasang pakaian untuk Yaren pakai di beberapa hari ini mendatang selama di Itali.
Lalu setelahnya pria itu menuju kamar Marco untuk menanyakan apakah kiranya Ayahnya itu akan pergi ke rumah duka atau tidak.
Tok tok tok, pintu diketuk oleh Ayaz.
Marco dengan wajah khas bangun tidurnya membukakan pintu lalu menyapa Ayaz.
"Kau nyenyak sekali!" sindir Ayaz.
"Untuk apa tidurku harus tidur terjaga?" Tanya Marco namun Ayaz tidak lagi menanggapi.
"Apa kau akan ikut?" tanya Ayaz langsung saja.
"Apa harus?"
"Terserah padamu!"
"Apa aku boleh mengatakan tidak? Seharusnya begitu kan!" Marco sungguh malas menemui keluarga Donulai, di sana nanti memang tidak ada siapa-siapa lagi yang mengenalnya karena nyonya Daslah tentunya sudah meninggal dunia, hanya Tuan Donulai, dan Marco rasa orang terkaya itu tidak akan mengenalnya juga.
"Aku akan bersiap-siap!" ucap Marco pada akhirnya.
Ayaz mengangguk, lalu ia mengatakan akan pergi menemui Yaren di kamar.
...*** ...
Cuaca sedang terik teriknya namun tidak meluruhkan semangat Rymi untuk melakukan sesuatu.
Ia akan menangani kasus Ali Yarkan ini sendiri, nanti setelah semuanya selesai barulah ia menyerahkan sisanya pada Ayaz.
__ADS_1
Ia sudah mengetahui pergerakan Amla yang membeberkan sebuah rahasia Ayaz pada keluarga Ali Yarkan kemarin.
Namun bukan didikan Marco namanya jika tidak bisa mengatasi masalah semacam itu, Ayaz saja yang terlalu ceroboh hingga melibatkan Jovan dalam kasusnya padahal menurut Rymi ini adalah masalah di antara mereka bertiga. Jadi jika pun ada yang harus dilibatkan kalau tidak dirinya seharusnya Ayaz lebih percaya pada Marco dari pada Jovan.
Rymi menatap lagi dari kejauhan pergerakan Amla Yang sepertinya tampak tidak tenang. Sian belum juga ditemukan jadi mungkin wanita itu merasa begitu tidak nyaman.
"Dasar wanita licik, tapi kau ternyata tidak lebih licik dariku!" Gumam Rini bangga pada dirinya sendiri.
Rymi berlalu pergi, iya akan pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah lainnya, lagi dan lagi masalah yang ditimbulkan Ayaz benar-benar tidak ada habisnya. Jika mengingat itu Rymi tentu saja kesal namun Ayaz baginya adalah saudara, dia tidak bisa membiarkan saudaranya mendekam di penjara begitu saja, meski ia tahu ini adalah kesalahan mereka bertiga.
Dua jam berlalu Rymi sudah sampai di pelabuhan ia mengambil beberapa senjata dari yang tersimpan di mobilnya, hari ini ia tidak akan memberi pengampunan kecuali orang-orang yang setia itu mau berbalik padanya.
Rymi melangkah maju, tidak ada keraguan dalam hatinya, ia memasuki kapal besar milik Marco yang semula menjadi tempat penyekapan Sian itu, ia menuju suatu ruangan yang sudah Jovan pilihkan untuk menyekap beberapa orang suruhan Sian saat itu.
Rymi membuka pintu, maka terlihatlah ada sekitar puluhan orang yang menderita kelaparan, wajah begitu kusut dan lusuh, dilihatnya beberapa juga sangat tidak terawat, bau pesing di mana-mana mungkin mereka juga terpaksa membuang hajat mereka di tempat hingga tubuh mereka harus berbaur dengan busuknya bau tidak sedap itu.
"Apa kalian mengenalku?" tanya Rymi santai.
Semua anak buah Sian itu tampak bingung dan lagi mereka juga tidak punya cukup tenaga untuk mendengar apa yang Rymi bicarakan. Namun salah satu dari mereka yang mungkin masih kuat untuk menjawab berkata, "Pastinya kau ke sini datang bukan untuk menyelamatkan kami, maka dari pada kau berlama-lama untuk menyiksa kami seperti ini lebih baik kau bunuh saja kami!" minta salah satu orang itu.
"Bunuh?" tanya Rymi, "Apa begitu tidak berharganya nyawa di mata kalian? Atau kalian begitu setia pada majikan kalian itu? Majikan yang sudah mati!" ucap Rini menekankan kata 'mati' supaya mereka bisa menyadari bahwa majikan yang sangat mereka agung-agungkan itu sudah tiada dan berhasil dikalahkan oleh Ayaz.
"Apa maumu?" tanya salah satu orang kepercayaan Sian, yang mungkin juga masih punya cukup tenaga.
"Tidak banyak! Mungkin kalian begitu setia pada Sian, tapi aku tidak yakin kalau kalian juga setia dengan istrinya Sian itu, wanita gila itu apa kalian bisa mengkhianatinya?" tanya Rymi.
"Apa kau kira kami bodoh, lebih baik bunuh saja kami!"
"Hmm... Begitu ya? Jadi kalian lebih memilih mati dari pada menghianati Amla sialan itu?"
__ADS_1
"Kami akan tetap setia pada Tuan Sian!" ucap beberapa orang yakin.
"Cih, memuakkan!" decih Rymi.
Rymi lalu mengambil satu orang suruhan siang itu lalu membawanya duduk di sebuah kursi. "Penawaran ini akan aku tawarkan pada kalian satu persatu dan jika satu saja dari kalian bisa menuruti kemauanku maka satu orang itu bisa menyelamatkan kalian semua tapi jika tidak maka kalian semua akan melihat teman kalian satu persatu meregang nyawa!" ucap Rymi penuh dengan ancaman.
Beberapa orang suruhan siang bergidik ngeri, wanita itu mengeluarkan pistol dari saku jasnya, "Harus aku katakan, kalian jangan sampai membuatku kesal karena apa? Karena aku seringkali gemetar saat aku sedang kesal, jadi lebih baik kita berdamai dan selesaikan ini semua toh majikan yang kalian agung-agungkan itu juga sudah tiada bukan!" tawar Rymi.
"Kami akan setia pada Tuan Sian!" teriak seseorang di belakang sana, rupanya lumayan banyak yang masih punya cukup tenaga di sini pikir Rymi.
"Hei kau!" Rymi menodongkan senjata apinya pada pelipis seseorang yang ia dudukkan di sebuah kursi tadi, dengan tangan dan kaki yang masih terikat, "Apa kau mau menghianati Sian?" tanya Rymi, ia tidak terlalu memaksa tapi jika pria itu dengan senang hati mengangguk maka Rymi juga akan senang hati menurut.
Pria itu menggeleng, seumur hidup ia sudah berjanji untuk setia pada Sian, sebenarnya Sian Huculak adalah majikan yang baik menurut mereka, hanya saja pria itu tidak suka dibantah dan jangan sesekali menyinggungnya, pria itu suka kekerasan jadi sebisa mungkin mereka para orang-orang kepercayaannya harus bisa mengambil hati majikannya itu.
"Oh dramatis sekali!" ucap Rymi kagum, "Maka meskipun aku bukan Tuhan, tapi kalian harus percaya bahwa aku bisa mengakhiri hidupnya sekarang juga!" ucap Rymi, dan "Doorrr!" timah panas itu bersarang di kepala pria yang tadi menggeleng itu, Rymi memijit pangkal hidungnya, seolah ia menyesal melakukan itu,
"Sudah kubilang bukan, aku tidak pernah main-main akan perkataanku, jadi jika kalian masih ingin hidup maka tidak ada salahnya bergabung denganku!" ucap Rymi menawarkan kerja sama lagi, bukan apa, ia tidak mau lagi membunuh orang.
Terdengar kasak kusuk dari puluhan orang suruhan Sian itu, melihat apa yang terjadi di depan mata mereka membuat nyali mereka menciut, namun ada beberapa juga sebagian yang sama sekali tidak takut akan kematian, mereka yang setia pada Sian lebih memilih mati seperti itu, yang bagi mereka sungguh lebih terhormat dari pada harus berkhianat.
"Hanya Amla Huculak!" ucap Rini "Anggap saja kalian setia pada Sian, tapi berhubung majikan kalian itu sudah berakhir maka kalian hanya harus menghianati Amla Huculak yang adalah istrinya, aku tahu kalian juga tidak memiliki hubungan baik dengan wanita itu bukan, akui saja, karena tidak ada yang tidak aku ketahui!"
"Begitupun dengan keluarga kalian, dan aku juga mengetahui satu persatu keluarga kalian yang diambang kemalangan!" ucap Rymi sembari tergelak.
"Baik siapa berikutnya?" tawarnya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1