
"Bagaimana kalian bisa melupakanku? Meski mungkin kehadiranku di antara kalian ini tidak penting, tapi aku adalah orang yang bertanggung jawab untuk Yaren, DIA ADIKKU!" pekik Jovan marah, ia merasa beberapa hari ini ia sudah menuruti kemauan Ayaz, ia sudah menjaga Sian dengan baik, bahkan mengalah saat Ayaz melarangnya untuk menyelamatkan Yaren saat diculik. Namun tidak sedikitpun baktinya seperti dihargai, hanya ingin mendengar bagaimana kabar adiknya saja, apa benar-benar tidak bisa? Lalu tiba-tiba saja hari ini ia mendengar Yaren disakiti lagi, apa dia harus diam saja sebagai seorang kakak?
"Jovan, jaga batasanmu!" pekik Marco tidak kalah garang, baginya ia sudah melakukan hal yang terbaik untuk menyelamatkan Yaren.
"Batasan?" Jovan tersenyum miris, "Kau bicara tentang batasan? Batasan seperti apa? Kau kira hubungan darah ini bisa terlihat batasnya, katakan! Katakan kalau sesuatu terjadi pada keluargamu, apa di sini tidak sesak menahan sakit?" Jovan menunjuk dada Marco, entah dari mana ia dapatkan keberanian itu, jangankan dengan Marco, dengan Ayaz saja ia tidak akan berani bersikap selancang itu. Namun, rasanya kali ini benar-benar berbeda, rasanya ia terlalu menderita.
"Apa di sini tidak berdenyut memikirkannya?" Jovan beralih menunjuk kepala Marco.
"Dan kau, masih bisa bicara tentang batasan? AKU TIDAK LAGI PUNYA ORANG TUA, YAREN DAN CEMIR ADALAH ADIK-ADIKKU, LALU KAU PIKIR AKU BERTAHAN UNTUK SIAPA?" teriak Jovan, kali ini ia benar-benar bagai habis kesabaran.
"Kau sadar apa yang kau katakan?"
"Ya!" lagi lagi Jovan hanya bisa tersenyum miris, suasana hatinya kacau, ia merasa meski ia berkuasa namun hidupnya bagai menyerah saja saat Ayaz dan Marco mengendalikannya. "Aku marah begini, aku bahkan lupa, kau sendirian Tuan Marco, kau tidak punya keluarga, Rym hanya anak angkatmu kan, mudah saja bagimu!" sindir Jovan.
"JOVAN!" Marco menatap garang Jovan.
"Hahahahaha, kau marah Tuan? Mengapa? Apa karena aku menyinggung Rym diantara apa yang kau sebut batasan-batasanku ini?"
"Kau tidak berhak mengatakan itu padaku!" Marco menatap tajam Jovan, namun karena Jovan sedang merasakan kecewa, jadi ia tidak begitu memedulikan tatapan membunuh Marco.
"Tidak berhak? Ya, aku cukup tau diri, orang sepertimu tidak akan pernah memperhitungkan apa saja yang sudah aku kontribusikan, jujur saja Ayaz selalu bisa melindungi dirinya tapi mengapa dia tidak bisa melindungi adikku?" tanya Jovan parau.
Tiba-tiba saja ia juga ingat percakapannya dan Yaren waktu itu,
Tidakkah kami sudah membuat hubungan yang aku kira sudah kusimpulkan erat, namun nyatanya... Dia bisa pergi kapan saja tanpa mengabariku, dia bisa datang saja tanpa menyapaku, apakah aku tidak berarti baginya, tolong tanyakan apa artinya aku baginya?
Kau tau, aku merasakan bahagia sekaligus sakit saat bersamanya.
__ADS_1
Dia mengikatku, tapi dia juga sulit sekali untuk kugapai.
Yaren pernah mengatakan kalau adiknya itu tidak yakin akan Ayaz, apa Ayaz benar-benar mencintainya, adiknya itu pernah berkeluh kesah padanya, mencurahkan isi hati, saat itu ia mencoba menguatkan Yaren, meyakinkan adiknya itu bahwa Ayaz tidak seburuk itu.
Namun kali ini, mengapa ia rasanya meragu, Ayaz bisa mudah saja mempertaruhkan keselamatan Yaren, apa itu yang dinamakan benar-benar mencintai?
"Kau! Tidak berhak menanyakan siapa yang melindungi siapa?"
"Kenapa? Apa kau merasa sudah sangat benar Tuan? Ah ya, lagi pula mengapa sepertinya kau begitu urus akan hal anak buahmu, urusanku sebenarnya hanya dengan Ayaz, aku hanya bekerja sama dengannya, ku kira kau tidak perlu sejauh ini."
"Bugh!" Marco kalap, ia tidak tahan lagi mendengarkan atas apa yang keluar dari mulut pedas Jovan, tidak taukah Jovan kalau ia juga sama, sama-sama ingin melindungi Yaren, Yaren adalah menantunya bagaimana bisa ia bersikap abai.
Jovan tersenyum miris, pukulan seperti ini sudah biasa dirinya tanggung, jadi tidak apa dia tidak akan mendidih seperti orang kesetanan hanya karena sebuah pukulan.
"Itu untuk menyadarkanmu!" geram Marco.
"Dia sedang trauma, Ayaz sedang menemaninya, biarkan mereka mendapatkan waktu berdua!" ucap Marco.
"Lagi?" tanya Jovan. "Sudah kubilang, aku Kakaknya, aku juga berhak atas Yaren!" ucap Jovan lantang.
"Dia sudah menikah dengan Ayaz, Ayaz yang akan bertanggung jawab dengannya!" sahut Marco, meski juga kecewa dengan Ayaz, namun sebagai orang tua tentu saja ia akan lebih memihak pada anaknya. Terlebih kondisi Yaren memang belum memungkinkan untuk menerima kunjungan.
"Bertanggung jawab? Suami yang selalu saja tidak pernah mengabari bagaimana keadaannya, pergi pagi tanpa pamit, lalu pulang entah kapan, tidak peduli akan kesepian yang dirasakan adikku? Datang dan pergi sesuka hati, lalu yang baru saja terjadi, mengapa suami yang bertanggung jawab itu bisa meninggalkan istrinya sendirian, sedang dia tau kalau ia sedang berada dalam masalah? Tidak cukupkah kejadian Yaren diculik? Bahkan malam itu Yaren menghubungiku, menanyakan di mana kiranya keberadaan suami bertanggungjawab jawabnya itu, karena Ayaz yang tidak sekalipun mengangkat panggilan telepon darinya, apa Ayaz tau seberapa besar Yaren mencemaskannya? Menungguinya yang tidak kunjung datang, apa susahnya memberi kabar?"
Marco terdiam, ia mengakui itu, Ayaz memang sepetinya belum terbiasa akan kehadiran seseorang istri dalam dunianya. Ingin membela, namun memang kenyataannya seperti itu.
"Apa Tuan tau, malam itu aku langsung saja bergegas menuju rumahnya, dia sendirian di tengah larutnya malam? Dan siapa yang berani jamin kalau adiku akan baik-baik saja? Nyatanya, orang yang pertama kali mendapati kenyataan dia diculik adalah aku, orang yang kau suruh menjaga batasannya ini!"
__ADS_1
"Aku kakaknya, jadi... Jangan bicara tentang batasan kepadaku!"
"Kau tau, mungkin ya! Kau memang kakaknya, tapi seorang kakak tentu saja akan melakukan hal yang terbaik untuk adiknya, dia sedang mengalami trauma di sana, dengan sikapmu yang marah-marah begini apa akan membantunya? Tidak bisakah kau bersabar sedikit, lalu jika kondisinya sudah berangsur stabil maka bukankah aku pun tidak akan bisa melarang kalian Kakak dan adik untuk bertemu!" ucap Marco berusaha untuk bijak menyikapi masalah kali ini.
"Aku sudah pernah bersabar Bung, saat adikku di culik waktu itu, kaki ini hanya bisa gemetar tidak karuan, tidak bisa untuk berdiam diri, ingin pergi dari kapal itu dan lalu menyelamatkan dia, namun Ayaz malah memaksamu untuk tetap tinggal di sana."
"Kau akan merasakannya jika kau benar-benar punya keluarga, jika kau benar-benar punya hubungan darah yang katanya lebih kental dari air, jika kau tidak punya itu, maka memang akan sulit untuk kau memahami posisiku!"
"JOVAN!" pekik Marco. Ia amat tidak senang mendengar perkataan seperti itu lagi terlontar dari mulut Jovan, karena dia juga merasakan itu.
"Kenapa? Apa aku salah bicara?" Jovan menatap remeh Marco.
"Kau!" Marco menggeleng pelan, tidak jangan terbawa emosi.
"Kenapa? Apa kedekatanmu dengan Rym, bisa berpotensi membuatmu merasakan hal seperti aku juga nantinya?"
"Hentikan Jovan, kau tidak tau apapun bagaimana perasaanku, mengenai hidupku!"
Jovan mengkerutkan keningnya, "Kau, apa benar harus seroyal itu hanya untuk seorang anak buah, heh!" sindir Jovan.
"AYAZ... DIA BUKAN HANYA SEKEDAR ANAK BUAHKU, TAPI DIA PUTRAKU, DIA ANAK KANDUNGKU, JADI KAU TIDAK TAU BAGAIMANA RASANYA SAAT DARAH DAGINGMU SENDIRI BAHKAN HARUS BERTARUNG NYAWA ANTARA HIDUP DAN MATI, BAHKAN KAU TERANCAM BISA KEHILANGANNYA, APA KAU TAU RASANYA, SUDAH PERNAH MERASAKANNYA???"
"Praanggg..."
Nampan berisikan bekas makanan itu jatuh tak terhindarkan, dibalik pintu sana ada yang begitu terkejut saat mendengar sebuah kenyataan.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...