Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bagaimana jika kami mulai dari kamar di sebelah sana?


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu?" tanya Rymi. Ia meminta pendapat Sam tentang apa yang terjadi pada kediaman Huculak.


"Kau melakukannya seperti kau yang memiliki dendam?" sahut Sam sembari membenarkan posisi duduknya. Tepat di hadapan Rymi jadi ia bisa melihat wajah wanitanya itu dengan jelas.


"Aku memang suka!" ucap Rymi. Ia mengambil pisau di keranjang buah lalu mengupas apel yang sudah berada di tangannya.


"Aku memang suka bertarung dengan orang yang menganggap dirinya hebat." lanjut Rymi.


"Rym... Apa kau melakukan ini semua demi Ayaz?" tanya Sam. Ia sudah jatuh hati pada wanita itu, tapi jika kedekatan Rymi dan Ayaz yang dilihatnya sudah seperti ini, maka ia tidak yakin jika dua orang itu hanya sebatas kakak dan adik.


"Hemmm... Kenapa?" tanya balik Rymi.


"Jawab saja apa susahnya?"


"Awalnya iya!" Rymi mengangguk, "Tapi, di samping itu aku juga senang bermain-main, aku suka saat menumbangkan lawan, moment itu akan memberikan sensasi kepuasan tersendiri karena aku yang melakukannya." Rymi tersenyum senang, ia melihat wajah Amla yang merah padam, seperti ketakutan yang sedang berusaha wanita ular itu tahan.


"Kita harus merayakannya Samudra!" ucap Rymi, lalu ia bangkit dan mengambil sebotol wine dari dalam lemari penyimpanan, "Aku yakin sekali, kali ini aku akan berhasil lagi." ucapnya sembari mulai menuangkan minuman, sedikit saja di gelas miliknya dan sedikit juga untuk Sam.


Sam menurut, Rymi mengajaknya bersulang "Ting..." suara perpaduan gelas kaca itu menjadi saksi bahwa hari ini Rymi tampak begitu bahagia atas pencapaiannya.


Keduanya minum sembari menunggu berita sangat mereka nantikan. Amla, wanita itu kini selangkah lagi benar-benar akan masuk dalam perangkap Rymi.


...***...


Mobil melaju cepat, Amla menarik napasnya dalam mencoba untuk tetap tenang, "Ini bukan apa-apa Amla, sudah kau selidiki waktu itu, Erra tidak berada di sana, yah... Tidak akan terjadi apapun!" gumamnya sangat pelan.


Terlihat dengan jelas gurat wajah khawatirnya, ia harus segera merubah mimik wajahnya ini saat sudah sampai di Villa nantinya.


Tak lama mereka akhirnya sampai, di belakang mobilnya terlihat juga mobil penyidik yang menepi dan beberapa mobil yang berisikan pengawal di kediamannya.


Sebenarnya apa yang sudah mereka katakan, mengapa Villa ini sampai harus diselidiki?


Amla tidak habis pikir, ia benar-benar merasa ada beberapa pengawalnya yang berkhianat, mungkinkah mereka mengetahui kematian Dale Adrie yang sebenarnya, atau salah satu dari pengawal itulah yang membunuh Dale Adrie dengan racun.

__ADS_1


Ahh, sungguh pelik, namun jika ia menolak menyetujui pemeriksaan terhadap Villa ini, hal itu tentunya pasti akan menyulut kecurigaan.


"Baik, akan aku ikuti alurnya, sebenarnya apa yang mereka inginkan?" gumamnya lagi.


Kemudian dengan wajah tenangnya ia menyapa penyidik itu dan mempersilahkan untuk memasuki Villa lama keluarga Huculak ini.


"Villa ini tampak bersih! Tidak seperti apa yang Nyonya Amla katakan tadi?" sindir salah satu penyidik.


"Aahhh, yaaa mungkin beberapa hari yang lalu suamiku menyuruh orang untuk membersihkannya, dia itu tidak pernah mengabariku jika hanya urusan kecil seperti ini." jawab Amla beralasan.


"Oohh begitu ya, Tuan Sian ternyata orang yang pengertian!"


Amla mengangguk, ia memaksakan senyumnya, suaminya itu bahkan sudah hilang sekitar setengah bulan lamanya, dan tempat ini tampak bersih terawat, Amla mulai merasakan keganjalan.


"Apa Tuan Sian sering menghabiskan waktu di sini?" tanya penyidik itu lagi.


Salah satu dari mereka meraba pintu utama Villa itu, tampak bersih, bagaimana bisa Amla mengatakan kalau Villa lama ini tidak terawat, sungguh mencurigakan, apakah perkataan itu tadi hanya sebuah alasan supaya mereka tidak jadi menggeledah tempat ini, pikir penyidik.


"Setahuku tidak!" jawab Amla, kali ini ia memang jujur, setahunya suaminya itu bahkan tidak pernah mengunjungi Villa ini, itulah juga alasannya ia ingin mengungsikan sementara Erra waktu itu. Karena Sian tidak pernah peduli lagi akan keberadaan Villa ini.


"Ya... Dia kadang menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkannya."


"Apa kami sudah bisa masuk?"


"Ah ya..." Amla kikuk, kemudian ia masuk ke dalam Villa itu berikut dengan pihak penyidik. "Silakan..."


Para penyidik mengedarkan pandangan, Ilham tidak bersama mereka karena pengawal itu meminta untuk mereka merahasiakan identitasnya. Namun pria itu turut hadir juga bersama beberapa pengawal yang menunggu diluar.


"Panggil ketua pengawalnya."


"Baik Pak!"


Ilham yang mengetahui bahwa ketua pengawal mereka akan dipanggil segera memasangkan sebuah kamera tersembunyi berbentuk bolpoin.

__ADS_1


"Apa ini Ham?"


"Kita harus merekamnya, apa saja bisa terjadi, ini hanya untuk berjaga-jaga." jawab Ilham beralasan.


"Tapi..."


"Dan! Percayalah, ini akan membantu." Ilham meyakinkan ketuanya, ia juga tidak punya pilihan lain, kembalinya ia ke istana megah Tuannya itu hanyalah untuk menjebak Amla, itu perintah Rymi yang tidak bisa ditawar dengan apapun.


Ilham hanya ingin tugasnya ini cepat terselesaikan, ia ingin pulang kembali ke pelukan istrinya serta memeluk hangat putrinya yang baru saja lahir. Ia merindukan keluarganya, Ibunya juga...


Dan para rekannya yang saat ini sedang menunggu hasil dari pekerjaannya ini, mereka semua sudah berunding dan menyetujui tindakannya yang ingin melawan Amla. Meski Sian adalah Tuan mereka, namun bagi mereka Amla tidak akan pernah menjadi Tuan yang berada di hati mereka. Sian dan Amla adalah dua orang yang berbeda.


Ketua pengawal bergegas masuk ke Villa itu, ia akan ikut memeriksa setiap ruangan.


"Ada apa? Mengapa sampai Villa ini juga harus diselidiki?" tanya Amla berbisik, ia semakin ingin marah san melampiaskan kekesalannya saat melihat ketua pengawal itu.


"Maafkan saya Nyonya, saya tidak mengetahui apapun. Setelah pulang dari sini saya akan mengurus segalanya, menanyai satu persatu anak buah saya tentang apa saja yang sudah mereka katakan di ruangan introgasi tadi." jawab ketua pengawal itu memulai sandiwaranya.


"Yah lakukan, cari penghianat itu sampai dapat, jangan biarkan dia hidup." bisik Amla lagi.


Ketua pengawal hanya bisa mengangguk, ia memejamkan matanya lalu tanpa sepengetahuan Amla ia tersenyum miring.


Anda tidak akan pernah mengetahui siapa pelakunya, karena saya pun juga termasuk orang yang sangat ingin anda berada di posisi ini.


"Nyonya Amla!" seru pihak penyidik, "Apakah kami sudah bisa memulai pemeriksaan?"


"Sudah, silakan... Silakan memulai." sahut Amla dengan menahan gugupnya. Sungguh kali ini nyalinya benar-benar sedang diuji.


"Anda juga harus berpartisipasi dalam pemeriksaan ini Pak Ketua!" ucap kepala penyidik itu pada kepala pengawal yang terdengar seperti sebuah perintah.


"Akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya." sahut ketua pengawal. Ia mengangguk perlahan tanda ia yang sama sekali tidak keberatan.


"Baiklah, Nyonya Amla... Bagaimana jika kami mulai dari kamar di sebelah sana?" tanya penyidik itu pada Amla yang saat ini sudah terbaca sekali gerak gerik mencurigakannya.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2