Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Di sekitar sprei?


__ADS_3

"Kau yakin?" tanya Yaren canggung.


"Ya!"


"Apa kau menyukaiku?" tanya Yaren lagi, kali ini nadanya lebih berhati-hati, takut saja kalau Ayaz sampai tersinggung.


Ayaz bangkit dari ranjang, mendekati Yaren yang dari tadi hanya mematung di dekat pintu. Polos sekali, Ayaz mau tertawa saja rasanya saat melihat ekspresi wajahnya, satu kata, menggemaskan!


"Memangnya kau siapa? Apa yang kau harapkan, aku menyukaimu? heh!" Ayaz terkekeh tepat di hadapan Yaren, pria itu juga masih bingung dengan perasaannya, tidak ingin jauh dari Yaren, apa itu bisa dikatakan menyukai? Namun rasanya terlalu dini bagi Ayaz, apa lagi Yaren bukan tipenya.


"Sebaiknya kau berkaca, dan lihat kira-kira apa yang bisa kau jual padaku?" ucap Ayaz yang tanpa sadar melukai hati Yaren.


"Lalu kenapa kau ingin tidur denganku?" tanya Yaren menantang, semenjak Ayaz berlaku buruk padanya, ia sudah tidak mau lagi menganggap Ayaz sebagai teman, Ayaz memang pantas disebut bajingan.


"Hutangmu terlalu banyak padaku, dan aku membutuhkan teman ranjang, aku rasa itu sepadan, jika kau masih perawan aku anggap semua hutangmu lunas dan kau bisa menjadi ratu di rumah ini, namun jika aku bukan yang pertama bagimu, jangan harap aku bisa memperlakukanmu dengan baik!" jelas Ayaz dengan penuh penekanan, meski terdengar sebagai hinaan, namun tidak bisa Ayaz pungkiri dirinya juga berharap Yaren masih perawan.


Tidak ada yang bisa Ayaz lakukan jika sampai Yaren benar-benar masih suci, karena sayangnya pria itu tidak mau terikat dalam hubungan pernikahan, namun benar jika dirinya bisa membuat Yaren menjadi ratu di rumah hutannya, Ayaz bisa memastikan Yaren hidup dengan baik bersamanya, meski keselamatannya juga sedang di pertaruhkan.


"Kau gila Ayaz, kesepakatan itu tidak ada yang baik bagiku?" keluh Yaren.


"Hei Nona, memangnya siapa yang mau memikirkanmu, kau senang atau tidak apa peduliku?" Ayaz membuka bajunya, dia mulai gerah, sepertinya akan turun hujan.


Ayaz sudah hapal tentang suasana di rumahnya, jika panas gerah seperti ini di malam hari, biasanya pasti sebentar lagi akan turun hujan.


"Kau mau apa?" kaget Yaren.


"Mau apa?" heran Ayaz.

__ADS_1


"Jangan bertelanjang dada di hadapanku!" protes Yaren saat Ayaz sudah menanggalkan bajunya.


"Ck, menyusahkan, kau ini benar-benar polos apa hanya sok polos? Tidurlah di sini, hari sudah malam." ucap Ayaz.


Gayanya saja ingin menjadikan Yaren teman ranjang seolah dirinya sudah sangat berpengalaman, padahal ini juga yang pertama baginya, dasar Ayaz.


Tapi Ayaz tau teorinya! Tenang saja, Ayaz bukanlah pria yang lugu mengenai cara bercinta, pemuda itu sering kali menjelajah di dunia perbo*epan, hanya tinggal praktek saja yang belum dirinya gelarkan.


Yaren meneguk salivanya kelat, bagaimana ia bisa melakukan itu secara sadar, tidur dengan Ayaz, bagaimana jika mereka melakukan hal macam-macam, ah tidak maksudnya bagaimana jika Ayaz yang melakukan hal macam-macam padanya?


"Lakukan saja seperti malam kemarin, kau dengan beraninya mendatangiku ke kamar ini, lalu tidur denganku!" sentak Ayaz, membangunkan Yaren dari lamunannya.


Berbohong lagi, dan bodohnya Yaren percaya. "Aku melakukan itu tanpa sadar, jadi..."


"Lalu?" Ayaz bagai manusia yang tidak akan pernah peduli meski dunia mau runtuh, berbicara seenaknya bersikap semaunya.


"Kalau begitu lakukan saja dengan kesadaranmu, sadar akan hutangmu dan kau diwajibkan membayarnya padaku, masih untung aku tidak menambahkan bunganya." ucap Ayaz bagai tidak mau rugi.


"Kau..." ingin sekali Yaren mengumpat, namun segera dirinya tahan, entah mengapa Ayaz yang sekarang baginya sangat terlihat menakutkan dibandingkan waktu awal pertemuan yang hanya Yaren simpulkan sebagai pria tampan.


Dengan terpaksa Yaren menurut, dirinya memajukan langkah menuju ranjang, beruntung pakaiannya sudah dirinya ganti dengan pakaian baru yang lumayan tertutup, kalau tidak Yaren sungguh akan lebih malu dari ini.


Bersempit-sempitan berbagi ranjang yang memang sebenarnya hanya diperuntungkan untuk satu orang, jika benar hal ini akan berlangsung lama mungkin Yaren harus mengusulkan untuk mengganti ranjang.


Ah, pemikiran macam apa itu, Yaren menarik lagi apa yang sempat ia pikirkan.


Jangan pernah berharap seperti itu Yaren, berharaplah ini tidak akan lama, hari-hari buruk ini akan segera berakhir.

__ADS_1


Yaren berdoa sebelum tidur, berharap esok pagi semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi belaka, terpotong dari saat dirinya mendengar Papanya mengusulkan perjodohannya dengan Juragan Marli waktu itu, yah dari situ saja, sehingga Yaren tidak perlu uring-uringan mencari cara untuk membatalkan perjodohan, sehingga malam itu tidaklah perlu Yaren menolong Ayaz dan mengharapkan balas budi meminta Ayaz untuk menikah dengannya, heh konyol sekali jika mengingat waktu itu, sungguh Yaren yang pemberani.


Dan setidaknya Ayaz tidak perlu datang ke pernikahannya dan menjadi pahlawan kesiangan, mengatakan Yaren mengandung anak pria itu, hingga pada akhirnya Yaren harus menanggung beban ini, diusir dari rumah dan memilih mengikuti Ayaz yang waktu itu diyakini Yaren adalah orang baik.


Yah orang baik, ini adalah salah Yaren sendiri, sudah dikatakan oleh Ayaz bahwa dirinya bukan orang baik, namun Yaren tetap pada pendiriannya, ia yakin Ayaz tidak akan berbuat macam-macam padanya, namun apa ini? Sungguh miris.


Jika Ayaz mengajaknya menikah, mungkin meski berat Yaren masih bisa menerima, setidaknya dirinya menjadi teman ranjang yang halal, namun memikirkan pernyataan Ayaz tentang maksud teman ranjang karena diharuskan membayar hutang, sungguh Yaren tidak akan pernah ikhlas kesuciannya dipermainkan.


Tidak ada kesepakatan yang menguntungkannya, hutang yang harus dibayar, di sini Yaren sudah sangat rugi karena masalah yang menimpanya, padahal sedikit banyaknya masalah itu juga disebabkan karena Ayaz, mulut rombeng pria itu yang sangat tidak punya malu.


Namun sayangnya Ayaz bukanlah orang yang peduli akan sesama, Yaren bisa menyimpulkan itu, sekarang baginya Ayaz bukanlah kawan lagi. Hari-hari yang akan dilewatinya mungkin setiap hari akan menjadi hari-hari yang buruk.


"Kau memikirkan apa?" tanya Ayaz dengan masih memunggungi Yaren, yang membuat Yaren tau bahwa pria itu belum tidur.


"Tidak ada!" jawab Yaren cepat, takut sekali malam ini akan menjadi malam panjang mereka berdua.


"Kau memikirkan malam panas kita?" tanya Ayaz, dirinya berbalik badan menatap Yaren, namun ternyata Yaren berada pada posisi memunggunginya, lalu Ayaz membalikkan tubuh Yaren hingga mata mereka bertemu dan saling tatap.


Yaren menegang, Ayaz mampu membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, tolong jangan bicarakan perihal itu dulu, tidur denganmu saja aku masih belum bisa menerima kenyataan, batin Yaren menggerutu.


Yaren tidak menjawab, wanita itu hanya mengigit bibir bawahnya serta tangannya meremas kain sprei, semua itu ia lakukan untuk menetralkan kerja otak dan jantungnya yang mulai tidak karuan.


Ayaz tidak tahan melihat itu, jangan salahkan dia, Ayaz tergoda saat Yaren menggigit bibir bawahnya begitu, sungguh membangkitkan gairahnya.


"Kau mau malam ini kita lalui hanya di sekitar sprei?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2