Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Adalah seorang kriminal.


__ADS_3

Ayaz tidak tahan akan keadaan yang menimpanya saat ini, sudah terbiasa tidur bersama membuatnya begitu kesulitan kala Yaren tidak berada di sampingnya.


Terlebih, Ayaz setidaknya sudah dua kali terbangun akibat mimpi buruk. Meski ia sudah berhasil membalaskan dendamnya pada Sian, namun bayangan Sian yang selalu menyiksanya serta detik-detik sang Ibunda tiada sungguh benar-benar membuat tidurnya tidak nyenyak. Insomnia itu kembali melanda, dan menurutnya hanya Yarenlah yang bisa menjinakkan penyakitnya ini.


Ia sungguh tersiksa, Yaren mengunci pintu kamar dan dia sungguh tidak bisa melakukan apapun.


Berulang kali Ayaz menghembuskan napasnya berat, harus berapa lama ia bertahan, sampai pagi? Ia tidak akan bisa tidur jika terus bertahan seperti ini.


"Yaren benar-benar keterlaluan, mentang-mentang ini rumah saudaranya!" gerutu Ayaz.


Ayaz mengatur posisinya, ia membalikkan badan mencoba memejamkan mata, namun sekeras apapun ia mencoba namun usahanya tidak berhasil jua.


Dua puluh menit berlalu, Ayaz melirik sedikit jam dinding di ruang tamu, pukul setengah dua dini hari, Yaren benar-benar harus diberi pelajaran kali ini menurutnya.


Ayaz bangkit, gegas ia menuju kamar Jovan, tidak peduli pria itu sedang apa, yang terpenting dirinya harus bisa menerjang masuk ke kamar dan tidur dengan istrinya.


Tok tok tok,


Ayaz mulai mengetuk pintu kamar Jovan! Berkali-kali berharap Jovan akan segera membukakan pintu.


Ceklek, Jovan menyeringit heran dengan wajah khas bangun tidurnya, "Ada apa?" tanyanya parau.


"Kunci kamar Yaren?" tanya Ayaz.


Jovan nampak berpikir, kesadaran yang belum sempurna itu dipaksanya untuk mengerti apa yang dimaksudkan Ayaz, mengapa menanyakan kunci pikirnya, namun sejurus kemudian Jovan mengangguk paham.


"Kau yakin?" tanyanya.


"Berikan saja!" pinta Ayaz.


Jovan melangkah keluar, ia menuju sebuah lemari hias, lalu mengambil sebuah kunci dari laci. "Jika dia marah, jangan sebut namaku!" ucap Jovan. Ia sudah wanti-wanti.


Ayaz tampak acuh, tidak peduli yang terpenting ia bisa tidur bersama dengan istri tercintanya.

__ADS_1


"Ini!" Jovan memberikan kunci kamar Yaren, "Ingat ya, kalau dia marah, jangan sebut nama aku!" Jovan mengingatkan lagi.


Ayaz dengan senyum tengilnya dan tetap saja bodo amat akan peringatan Jovan.


Pria itu mulai melangkah menuju kamar, dia membuka pintu dan dilihatnya Yaren yang sedang tertidur pulas, Ayaz mendekat, disingkapnya helai rambut yang menutupi wajah cantik Yaren, hati Ayaz sakit saat melihat kenyataan mata Yaren yang terlihat sembab, mungkin saja istrinya itu kembali menangis tadi.


Ayaz mengecup singkat dahi Yaren, sungguh ia benar-benar sudah mencintai wanita itu.


"Maafkan aku!" bisiknya pelan.


Yah, maafkan dirinya yang tidak sengaja harus menyakiti, lagi dan lagi.


Maafkanlah dirinya yang tidak bisa bertindak jantan, mengakui kesalahan dan menyerahkan diri, hal yang menahan Ayaz melakukan semua itu adalah hanya karena Yaren seorang, dia tidak ingin berpisah dari Yaren dengan keadaan seperti itu, sungguh lebih baik Ayaz mati saja.


Maafkanlah dirinya yang tidak bisa keluar begitu saja dalam dunia hitamnya ini, kehidupan seperti itu sudah menjarah dalam dirinya, jadi Ayaz benar-benar dilema jika harus memilih menjadi baik secara tiba-tiba.


Ayaz menarik dirinya dan mulai membaringkan diri di samping Yaren, bau harum khas tubuh istrinya seolah menjadi pelepas penatnya, Yaren benar-benar mempunyai arti kuat bagi hidup seorang Ayaz.


...***...


Sam melihat seorang wanita yang diseret paksa itu, keadaannya begitu menyedihkan, tangan dan tubuh terikat serta kaki yang terkunci oleh rantai, apa itu Ibunya? Sam mulai berpikiran buruk. Jika benar itu Ibunya, baginya Amla benar-benar keterlaluan.


Sam hendak menghampiri, namun saat dirinya hampir mendekat, Rymi bahkan membantu wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


Tak lama Rymi juga terlihat berbicara dengan Amla, Sam menyimak, dengan jarak yang sudah dekat seperti ini, untungnya ia bisa mendengar apa yang Rymi katakan.


"Nyonya, apa saya bisa bicara dengan rekan saya sebentar? Saya belum mengatakan kalau Nyonya sudah memberinya izin." ucap Rymi.


Amla mengangguk, lalu wanita itu menepuk tangannya bagai sedang membersihkan kotoran, hal itu ia lakukan karena merasa tidak sudi bersentuhan dengan Ibunya Sam.


Rymi membalikkan badannya, pelan langkahnya menuju Sam, Sam juga sedikit maju menghampirinya.


"Bagaimana!" tanya Sam panik.

__ADS_1


"Apa itu Ibumu?" tanya balik Rymi.


Sam menggeleng, Rymi menyeringit heran, "Aku tidak tau, wanita itu sangat kurus, rasanya saat terakhir bertemu Ibuku tidak sekurus itu? Kau tau siapa namanya tadi?"


"Kau pikir aku punya banyak kewenangan dengan seragam seperti ini? Gila saja kau! Ya Samudra Rangga, benar sekali! Harusnya aku mengajaknya berkenalan dan menanyakan apakah dia mengenalmu? Hemmm, kau mau mati hah?" gerutu Rymi bisa-bisanya Sam menanyakan itu disaat seperti ini.


Sam sedikit kecewa, ia benar-benar tidak yakin kalau itu Ibunya, tampak berbeda sekali yang dilihatnya.


"Begini saja, entah itu Ibumu atau bukan, kita selamatkan saja wanita itu, aku meminta izin pada Amla, aku bilang kau punya masalah tentang perut dan dia percaya, kau sudah diizinkannya pulang, jadi aku akan mendampingi wanita itu, dan kau... Saat mobil itu keluar gerbang kau harus sudah siap untuk mengikutinya jangan sampai ketinggalan jejak dan juga jangan sampai ketahuan, jaga jarak jangan sampai terlalu mencurigakan!" perintah Rymi.


Sam mengangguk, dalam pemikirannya ia tidak ingin percaya kalau itu adalah Ibunya, tapi nuraninya yang selalu saja tidak pernah tega melihat orang kesakitan itu membujuknya untuk membantu wanita itu meski wanita itu bukan Ibunya.


Rymi menepuk pundak Sam, "Sebagiannya aku yang tangani, dan sebagian lainnya aku serahkan padamu!" ucapnya.


Begitulah saat ia dan Ayaz menyelesaikan misi, Ayaz selalu mengatakan itu padanya.


"Rym, bagian ini aku yang urus, sebagian lainnya aku serahkan padamu! Lakukan yang terbaik untuk nyawamu, ingat! Aku tidak akan bisa menolongmu jika pun kau harus mati!"


Setelah mengatakan itu, Rymi memegangi dadanya yang sesak, bahkan Ayaz tidak menghubunginya sekalipun hari ini, mungkinkah rekan seperjuangannya itu begitu kecewa terhadapnya.


Tanpa terasa air mata itu sedikit menganak, tolong jangan benci dirinya seperti ini.


Jangan membenciku Ayaz, aku sungguh tidak bisa menangani ini, maaf!


Sam melihat punggung Rymi yang semakin menjauh, benarkah ia bisa bekerja sama dengan wanita itu, rasanya Sam tidak percaya.


Pagi tadi wanita itu menjelaskan sendiri tentang siapa Rymi Arash padanya.


Pelik memang, dan pagi tadi Sam menganggap wanita itu gila, mengatakan pernah berniat menipunya, wanita secantik itu rasanya tidak mungkin bisa seperti itu, tidak cocok sama sekali menurutnya. Namun setelah melihat ini, Sam sepertinya mau tidak mau harus percaya dan mengakui. Wanita itu, wanita yang disukainya itu, adalah benar seorang yang berkecimpung di dunia hitam, Rymi Arash adalah seorang kriminal.


Bersambung...


...Like, koment, dan Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2