Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kau sudah berani yaaa?


__ADS_3

"Yaren, ada apa?" tanya Ayaz, dirinya baru kembali ke kamar setelah mendiskusikan tentang Rymi pada Mike dan Marco, hari sudah larut malam dan ketika ia masuk, Ayaz melihat Yaren yang duduk di tepian ranjang seperti orang yang sedang menahan tangis.


"Kau kenapa?" tanya Ayaz sekali lagi.


Yaren hanya menatap Aya sekilas, lalu menyembunyikan wajah muramnya, ia benar-benar rapuh dan butuh sandaran saat ini, namun apakah Ayaz mau melihat kesedihannya ini, mengingat yang sedang dirinya tangisi adalah keluarganya yang sudah hancur.


Yah, Yaren menangis karena baru saja ia melihat pemberitaan di televisi, Argantara menjadi sasaran gunjingan netizen, nama keluarga yang melahirkannya itu dianggap sebagai keluarga penipu. Hati mana yang tak sakit, apa lagi melihat kondisi sang ayah yang ternyata tidak baik-baik saja setelah bangun dari koma.


Kondisi terkini mengabarkan bahwa Argantara mengalami stroke yang mengakibatkan disfungsi pada wajah bagian kiri dan kedua tangannya.


Wana adalah penyebab semuanya terjadi, lalu bagaimana Raisa, Yaren tengah memikirkan nasib adik tirinya itu, bagaimana Raisa bisa menerima segala hinaan itu, adiknya itu tentu tidak terbiasa akan hal buruk semacam ini, lain halnya dirinya yang memang kesehariannya saja dulu selalu menjadi bahan gunjingan.


Jadi, bagaimana bisa dirinya bersikap tenang, berakting di hadapan Ayaz seolah semuanya baik-baik saja, Yaren sangat ingin melakukannya namun sayangnya ia benar-benar tidak bisa.


Ayaz membelai lembut pipi Yaren, "Kau melihatnya?" tebak Ayaz.


Yaren mengalihkan wajahnya menghadap Ayaz, "Ayaz, bisakah kita tidak membahas ini..."


"Shuttt..." Ayaz langsung saja memeluk Yaren, "Badai pasti berlalu, Papamu tengah memperbaiki diri, dia pasti bisa melewatinya, kau saja yang tidak memiliki apapun bisa tetap tegar hingga kini, dia akan baik-baik saja Yaren." ucap Ayaz.


Namun Yaren sama sekali tidak menghiraukan, baginya Ayaz benar-benar sudah keterlaluan, tapi sayangnya mau bagaimana lagi, Yaren juga tau Ayaz melakukan semua itu untuk membuatnya tidak lagi selalu di hina, tidak lagi selalu dipandang rendah oleh Papanya. Dan Ayaz benar-benar berhasil untuk itu.


"Kau sudah berjanji Yaren..." ucap Ayaz lagi sembari mengusap punggung Yaren.


"Aku hanya merasa, mengapa Papaku harus mengalami semua ini, tidak bisakah..."

__ADS_1


"Tidak bisa!" tegas Ayaz.


Kalau sudah begini Yaren hanya bisa tertunduk diam, mau kecewa pun tidak ada yang akan menanggapinya, Ia kalah lagi dengan Ayaz.


"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan dia hidup bebas setelah apa yang dia lakukan padamu!" bentak Ayaz.


"Bukankah kau yang memilihku, jadi tetaplah pada pilihanmu atau kau akan melihat dia menderita lebih san lebih menyedihkan lagi." ancam Ayaz.


Tadinya masalah Rymi, dan saat dirinya masuk ke kamar Yaren malah menampilkan wajah kusut seperti begitu banyak beban, Ayaz benar-benar ingin marah saat ini. Dan sayang sekali harus Yaren yang mendapatkan jackpotnya.


"Aa... Aayaz..." lirih Yaren.


Suaminya ini, meski berkali-kali mengatakan mencintainya, namun sifat kejamnya bagai sudah mendarah daging, menyangkut hal seperti membalas dendam Yaren bahkan tidak diizinkan untuk memberikan pendapat, apa lagi berkeinginan untuk mencegah hal itu terjadi.


"Cih!" Ayaz bersedih, "Buang rasa kasihanmu itu, atau kau akan terus menatap kasihan pada Argantara karena aku yang tidak akan membiarkannya hidup dengan mudah, semua pilihan ada di tanganmu, aku tak pernah memaksa jika kau ingin cara yang lebih sulit." ucap Ayaz.


"Ayaz..."


Ayaz, mengapa kau begitu kejam, kau masih saja tidak punya hati...


Kemudian, Ayaz berbaring di ranjang, ia membuka atasan kaos yang dikenakannya dan tanpa menghiraukan Yaren ia mulai memejamkan matanya. Hari ini begitu melelahkan rasanya Ayaz hanya ingin mengistirahatkan bekerja otaknya dengan segera. Begitu banyak hal yang ia hadapi hari ini. Datang ke kamar berharap Yaren akan memanjakannya, namun siapa sangka Ayaz malah kecewa karena Yaren masih saja memedulikan Argantara.


"Ayaz..." seru Yaren, ia merasa Ayaz benar-benar marah, dan Yaren, ia yang begitu takut akan kemurkaan suaminya itu merasa harus segera membujuknya, sebelum api benar-benar makan ilalang.


Tidak ada sahutan, Ayaz masih mencoba menenggelamkan dirinya menuju alam bawah sadar.

__ADS_1


"Ayaz..." seru Yaren lagi.


"Hemm..." sahut Ayaz, meski benci namun nyatanya Ayaz tidak bisa untuk mengabaikan Yaren.


"Apa kau marah? Maafkan aku, aku berjanji tidak akan menangis lagi." ucap Yaren dengan nada bicara yang terdengar begitu menyesal.


"Hemmm..." sahut Ayaz, ia enggan menanggapi, baginya biarkanlah Yaren larut dalam penyesalannya, dan berharap tidak akan pernah memedulikan Argantara lagi, kalau pun harus peduli setidaknya jangan pernah lagi Yaren tampakkan di hadapannya.


"Ayaz..." Yaren mulai berani menoel sedikit lengan suaminya yang saat ini sedang berbaring membelakanginya.


Tidak ada jawaban lagi, membuat Yaren benar-benar merasa bersalah.


"Ayaz, maafkan aku..." Yaren menambah kadar keberaniannya, ia mengguncang tubuh suaminya itu pelan.


"Ayaz..."


"Ayaz..."


"Ayaz..."


Namun tidak juga ada jawaban, Yaren memberengut kesal, kemudian Yaren mengguncang lengan Ayaz dengan sedikit kasar dan "Tap!" tangan Ayaz segera mengambil tangan Yaren dan dengan sigap kemudian mengungkung Yaren di bawah tubuhnya.


"Kau sudah berani yaaa?" tanya Ayaz, percayalah ia sudah tidak marah lagi, yang ada saat ini ia begitu gemas dengan tingkah Yaren.


"Aaa... Ayaz..." seru Yaren terbata, bagaimana bisa kini dirinya sudah berada di posisi int*m seperti ini, Ayaz begitu cepat melakukannya hingga berhasil membuat Yaren begitu gugup.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2