Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Yah, sebentar lagi.


__ADS_3

"Kalian harus selidiki, siapa pengawal yang ikut dengan Dale malam itu?" perintah Amla.


"Baik Nyonya!" ucap orang kepercayaan Sian serempak.


Semuanya keluar menjauhi Amla, mereka ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi malam itu.


"Hei kalian!" ucap salah satu pengawal di antara rombongan mereka.


Langkah kaki semua pengawal itu terhenti, lalu menoleh ke arah satu orang yang berbicara tadi.


"Apa kalian yakin ingin mencari pengawal itu?" tanyanya. Dari name tag-nya pengawal itu bernama Ilham Furyansah.


"Ham, ada apa?" tanya pengawal yang lainnya.


"Aku di sekap berhari-hari di sebuah ruangan kosong, di sana aku pernah melihat Tuan Sian dengan kaki dan tangan yang terikat, aku pikir Tuan Ayaz yang selama ini kita cari lah yang menyekap Tuan Sian seperti itu, tapi pikiranku berubah saat aku melihat Nyonya Amla sendiri yang menyiksa Tuan." ucap Ilham berdusta, mencoba membuat kesalahpahaman untuk memengaruhi pemikiran rekan-rekannya.


"Apa? Kau bilang apa?"


"Benarkah?"


"Apa?"


"Kau berkata sebenarnya?"


Beberapa pengawal seolah mencari kebenaran atas pernyataannya.


Ilham mengangguk, "Kalian sangat mengenal Nyonya Amla, dia adalah orang yang sangat kejam, aku sebenarnya tidak ingin percaya atas pradugaku ini, tapi mau bagaimana lagi, setelah hari itu aku bahkan tidak pernah melihat Tuan Sian lagi."


"Lalu, bagaimana kau bisa keluar dari ruangan penyekapan itu? Di mana tempatnya, bukankah hari itu kalian semua ditugaskan untuk menangkap Tuan Ayaz, di mana rekan yang lainnya?"


"Para sebagian lainnya ditugaskan untuk membakar rumah Tuan Ayaz, dan kami di minta Nyonya Amla untuk mengikuti Tuan Ayaz yang saat itu ternyata menuju sebuah pelabuhan!"


Para pengawal itu berjalan cepat menuju ruangan ganti mereka, bak ibu-ibu arisan yang sedang menantikan gosip terhangat, mereka pun sama ingin mendengar dengan lebih detil dan seksama apa yang akan diceritakan Ilham.


"Lalu?"


"Kalian menemukan Tuan Ayaz?"


"Kami menemukannya, tapi dia hanya mengambil sesuatu dari sebuah kapal yang besar, lalu tak lama Tuan Ayaz mendapat telepon kalau rumahnya terbakar."


"Kami masuk ke kapal itu, dan tidak menemukan apapun."

__ADS_1


"Itu berarti, bukan Tuan Ayaz yang membunuh Tuan Sian?"


"Untuk itu, aku tidak ingin menjawabnya, karena kalian juga mengetahui betapa dendamnya Tuan Ayaz pada Tuan, tapi setidaknya kalian bisa menilai sendiri." jelas Ilham.


"Ham, bagaimana kalian bisa disekap?"


"Saat kami masuk ke dalam mobil, kami kebingungan karena ternyata bukannya malah mengikuti Tuan Ayaz, mobil itu malah membawa kami menuju villa keluarga Huculak. Ternyata, sopirnya sudah berganti, bukan lagi Aslan sopir yang biasanya selalu bersama kami!" terang Ilham lagi.


"Apa?"


"Yang benar saja?"


"Kau tidak berbohong kan?"


"Untuk apa aku bohong, hampir seminggu kami semua di sekap." ucap Ilham.


"Jadi, bagaimana rekan-rekan kita?"


"Mereka tidak berani kembali ke sini, karena Nyonya Amla pasti tidak akan membiarkan mereka hidup, beberapa dari kami menjadi saksi kalau Nyonya Amla pernah menyekap Tuan!"


"Maksudmu? Tuan disekap di Villa keluarga Huculak?"


"Apa kau tau, Erra, si istri pelayan itu juga di sekap di daerah sana, di gedung tua yang bersebelahan dengan Villa itu!"


"Benarkah?"


"Ini tidak bisa dibiarkan!" pungkas pengawal lainnya.


"Dale adalah korban, saat kami di sekap Joni juga menjadi korban ketamakan Nyonya Amla."


"Apa? Joni?"


"Iya, dia dibunuh oleh orang-orang yang setia pada Nyonya Amla, jika kita terus begini, bisa-bisa hidup kita akan berakhir dengan saling membunuh." ucap Ilham.


"Yah, kau benar, satu lagi, pengawal itu, apakah kita perlu mencarinya?"


"Kita cari secara diam-diam, jika kita menemukannya jangan pernah memberitahu Nyonya Amla, siapa tau dia bisa memberitahu kita apa yang sebenarnya telah terjadi, Dale bersamanya waktu itu membawa Erra, itupun kalau dia masih hidup."


"Setuju!"


"Dian, tolong kau hitung jumlah pengawal yang masih tersisa, nanti kita akan mengetahui siapa saja yang hilang!"

__ADS_1


"Ham, apa kau masih ingat, siapa saja yang ikut bersamamu waktu itu?"


"Masih, hanya Joni yang mati karena dia melawan perintah orang-orang Nyonya Amla."


"Sumpah setia kita, kalian dengar semua..." ucap ketua pengawal mulai menegaskan, "Tuan kita hanya satu, Tuan Sian Atlas Huculak, bagiku harus berjuang mati-matian melawan Amla pun akan aku lakukan demi membalaskan kematian Tuanku!"


"Siapa yang setuju denganku, maka kalian harus bertekad, mulai hari ini kita semua tidak ada lagi yang mendukung Amla."


"Dan! Untuk saat ini, kita tidak boleh terlihat mencurigakan, kita harus mencari pengawal itu secara diam-diam, dan untuk pihak kepolisian yang akan menyelidiki kita semua, maka perlukah kita bersikap jujur, bahwa Dale adalah rekan kita?" saran Ilham.


"Lakukan seperti kenyataan yang sebenarnya, katakan bahwa Dale tidak memiliki musuh apapun!"


"Apa untuk penyekapan Erra, kita harus mengatakannya juga?"


"Jika kita menyatakannya, maka setelah itu kita semua harus siap berperang melawan Amla."


"Nyonya Amla adalah wanita licik..."


"Tidak ada lagi yang memanggilnya Nyonya mulai detik ini, jika saat kita sedang bersama seperti ini, jangan ada yang memanggilnya Nyonya, dia sama sekali tidak pantas menjadi Tuanku, dia adalah orang yang telah membunuh Tuan kita."


"Baik Dan! Maksudku, Amla adalah wanita licik, kita harus mempersiapkan rencana yang matang untuk menyatakan perang dengannya."


"Pemberontakan! Aku rasa kita bisa memulainya, bagaimana kalau secara diam-diam kita membeberkan fakta ini, sembilan puluh persen para pekerja di sini baik pelayan ataupun hanya penjaga, aku rasa tidak ada yang menyukai Amla!" ucap Ilham.


"Yah, Ilham benar, sisakan saja orang-orang yang selalu menjadi kaki tangan wanita itu saja."


"Baik, aku akan memulai dari para pekerja di dapur!"


"Aku akan mulai dengan penjaga."


"Aku akan mulai dari pelayan wanita, aku punya kenalan di sana."


"Lebih baik kalau berita ini tidak menyebar, cukup diberi tahu saja detilnya, katakan bahwa Amla lah yang membunuh Tuan Sian, tapi usahakan untuk menekankan kalau berita ini jangan sampai didengar Amla."


"Baik Dan!" para pengawal itu menyahut serempak.


Ilham tampak menyeringai, tujuannya sudah berjalan, rekan-rekannya sedang menunggu di kapal itu, caranya mengatasi masalah dan harus menjadikan Amla sebagai tersangka utama adalah tujuannya, semakin cepat semakin baik.


Untung saja sesama pengawal mereka termasuk orang-orang yang memiliki tujuan dan konsep kerja yang sama, hanya menganggap Sian lah sebagai Tuan mereka. Jadi, lebih mudah baginya untuk menghasut sesama rekan.


"Tunggu aku, aku akan menyelamatkan kalian sebentar lagi, yah sebentar lagi.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2