Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Maafkan suamimu ini!


__ADS_3

"Brakkk!"


Rymi, dengan napas tersengal berhasil menemui Ayaz dengan cepat sebelum keadaan menjadi lebih memburuk.


"Apa begitu tidak sabarnya? Kau bertindak sesukamu, Marco bahkan memarahiku atas apa yang kau lakukan ini!" berang Rymi.


"Aku?" tanya Ayaz. Mengapa dirinya, bukankah Rymi sudah mengetahui bahwa inilah yang dirinya inginkan.


"Kau hanya menuruti egomu tanpa memikirkan ada seseorang yang harus kau lindungi, pergi sana!" usir Rymi berteriak, Ayaz menjadi semakin bingung,


"Rumahmu kebakaran dan akibatnya Yaren shock berat karena menghadapinya sendirian, kau itu sedang menjadi incaran, jangan bertindak tanpa perencanaan yang matang, ini benar-benar gila, belum selesai satu masalah malah sudah bermunculan masalah lainnya." ucap Rymi garang. terlihat dari wajahnya, wanita itu benar-benar marah.


Ayaz tercengang saat mendengar penjelasan Rymi, benar! Karena terlalu memikirkan balas dendamnya bahkan ia hari ini sudah bertindak gegabah.


Seharusnya ia menyadari kalau rumahnya sudah diawasi, hingga orang-orang suruhan Sian akhirnya bisa mengikutinya sampai di sini, dan Yaren, istrinya itu bagai tumbal yang ditargetkan oleh orang-orang suruhan Sian, bagi mereka pun sama, nyawa harus dibayar dengan nyawa.


"Lalu, di mana Yaren sekarang?" tanya Ayaz panik.


"Dia berhasil di selamatkan Marco, Marco membawanya ke Mansion, lain kali, jangan pernah meninggalkan Yaren sendirian, kau sedang diincar Ayaz, sesuatu bisa saja terjadi." ucap Rymi.


Tadi, sepeninggalan Ayaz, Marco yang hendak mengatakan sesuatu pada anaknya itu berniat mengunjungi Ayaz di kediaman putranya itu, namun alangkah terkejutnya ia kala saat ia sampai di sana, beberapa warga malah sedang giatnya memadamkan api karena rumah Ayaz yang terbakar.


Marco berlari mendekat, didengarnya dari beberapa warga mengatakan bahwa istrinya Ayaz sedang berada di rumah itu, sementara Ayaz pergi sekitar beberapa menit yang lalu. Tanpa pikir panjang lagi, Marco menyelinap masuk, dilihatnya Yaren yang sudah terbatuk-batuk dan tampak kesusahan di kamar, dengan langkah cepat Marco menyelamatkan Yaren, ia membawa Yaren melewati api yang mungkin saja bisa menghanguskan tubuh mereka berdua kalau saja Marco bukan seseorang yang berpengalaman.


Beberapa orang melihat mereka, dan memuji tindakan Marco.


Marco memperkenalkan diri dan mengatakan kalau Yaren adalah menantunya, dan dia akan membawa Yaren ke rumah sakit untuk diberikan penanganan medis dan para warga pun setuju, untuk urusan rumah yang kebakaran para warga mengatakan akan mengurusnya.


Tak jauh dari tempat kejadian, Marco bisa melihat beberapa orang tersenyum puas akan pencapaian mereka, dari situ Marco bisa mengetahui kalau kejadian ini erat kaitannya dengan Sian keparat itu.


Ia juga sedikit kecewa dengan Ayaz, karena baginya Ayaz terlalu memikirkan ego, tanpa pemikiran yang matang malah dengan beraninya meninggalkan Yaren sendirian.

__ADS_1


Lalu Marco menghubungi Rymi, mengatakan untuk anaknya itu segera mencari Ayaz di kapal, lalu ia akan mengurus Yaren.


"Rym, aku berterimakasih pada kalian!" ucap Ayaz, lalu tanpa memedulikan Sian, Ayaz gegas berlari pergi.


...***...


Jovan membalikkan badannya, lalu dengan senyum tidak tau dirinya ia menyapa orang-orang suruhan Sian itu.


"Apa aku menghancurkan rencana kalian?" tanyanya santai.


"Sialan!" umpat salah satu orang suruhan Sian.


"Di mana Ayaz?" tanya yang satunya lagi.


"Ayaz? Aku pikir kalian bukan mencariku?" ledek Jovan.


"Di mana kau sembunyikan Tuan Sian?"


"Apa aku bekerja untuk kalian? Mengapa aku harus memberitahu di mana keberadaannya?"


Jovan melawan, mungkin kali ini ia juga bisa membalaskan dendamnya, mengingat orang-orang suruhan Sian juga pernah membahayakan nyawa adiknya.


Satu persatu berhasil Jovan hadapi dan akhirnya tumbang kesakitan, ternyata jika sudah dalam situasi terdesak seperti ini, nyatanya kemampuan beladirinya juga tidak buruk. Jovan bahkan bisa berbangga hati atas pencapaiannya.


Saat ingin mengarahkan pasukan lagi, tiba-tiba saja sesuatu terjadi, salah satu orang suruhan Sian yang mengarahkan tindakan itu melotot tidak percaya, jadi hanya mereka yang sudah berhasil dihabisi inilah yang tersisa, lalu ke mana perginya pasukan sebanyak yang sudah ia kerahkan tadi.


"Apa kau kaget?" tanya Jovan meledek lagi.


Tentu saja, setidaknya untuk mencapai tempat di mana ia berdiri saat ini, butuh sekiranya dua belas lorong yang harus mereka lewati. Dan karena Jovan merasa ia tidak akan mampu menghabisi orang-orang suruhan Sian yang terdeteksi begitu banyak itu, maka di setiap lorongnya Jovan sudah menempatkan beberapa anak buah kepercayaannya untuk menghabisi orang-orang suruhan Sian sedikit demi sedikit dan tentunya tanpa jejak.


Dan saat sampai di tempat terakhir, Jovan hanya harus menghabisi sisanya yang hanya tinggal beberapa orang saja. Dan lihatlah, berhasil semua berjalan sesuai rencananya.

__ADS_1


"Sialan!"


"Aisshh, umpatan lagi!" Jovan menepuk tangannya satu kali, lalu beberapa anak buahnya sudah siap menghajar satu orang Sian yang tersisa itu.


"Bawa mereka!" titah Jovan.


...***...


"Yaren, kau tidak apa? Apa ada yang sakit?" tanya Ayaz tidak sabar, ia sudah sampai di mansion, menanyakan pada Marco bagaimana keadaan Yaren, Marco mengatakan Yaren sedang mengalami shock karena kejadian yang menimpanya, Marco juga berkata untuk Ayaz selalu berada di samping Yaren, supaya Yaren bisa segera menghilangkan traumanya.


"Ayaz!" Yaren langsung saja memeluk Ayaz, tubuhnya masih bergetar dan tak lama pundak Ayas juga sepertinya basah, kemudian terdengar isak tangis Yaren, Ayaz benar-benar merasa bersalah.


"Maafkan aku!" ucap Ayaz, "Aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi, aku janji!"


"Ayaz, aku takut!" lirih Yaren di sela isaknya.


"Iya, maafkan aku! Aku di sini, aku di sini, aku bersamamu!" Ayaz mengecup kepala Yaren penuh kasih, ia benar-benar salah kali ini.


"Hiks hiks!"


"Cup cup, ada aku, tenanglah, aku sudah bersamamu!"


Yaren memeluk Ayaz semakin erat, bayangan api yang menyala besar di dekatnya seperti enggan hilang dari penglihatannya, saat itu ia memanggil-manggil Ayaz namun Ayaz tidak datang menyelamatkannya, ingin keluar pun kakinya sudah lemas tidak berdaya, ia takut, takut akan kematian, Yaren benar-benar trauma.


"Ayaz, jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon!" ucap Yaren, ia masih memeluk tubuh suaminya, seolah enggan melepaskan Ayaz lagi, takut saja Ayaz akan pergi lagi.


"Iya, tidak akan, aku berjanji!" sahut Ayaz, ia membelai lembut punggung Yaren untuk menenangkan, mengecupi helai rambut istrinya itu, dalam hatinya Ayaz juga tiada henti berucap maaf.


Ia berjanji, kejadian seperti ini, tidak akan terulang lagi, ia tidak akan pernah membiarkan Yaren berada dalam bahaya lagi, tidak akan pernah sekalipun itu harus mengorbankan nyawanya.


Maaf Yaren, maaf! Karena menikah denganku, kau harus menanggung penderitaan seperti ini, maafkan aku sayang, kau begini karena aku, aku berjanji tidak akan pernah lalai lagi. Maafkan aku yang belum bisa menjagamu dengan baik, sungguh maafkan aku, maafkan suamimu ini!

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2