
"Hah?" kaget Rymi, apa dirinya tidak salah dengar, bagaimana bisa Marco punya pikiran seperti itu?
"Iya, bagaimana kalau kau menikah dengan Rangga, dia anak yang baik, kau tau dia bahkan dengan beraninya menyelamatkan Ayaz." lanjut Marco lagi.
"Daddy!" berang Rymi, "Apa kesedihan Daddy tadi sudah benar-benar hilang? Bisa-bisanya menanyakan itu, kalau Daddy begitu menginginkan sebuah pernikahan, mengapa tidak Daddy saja yang menikah?" Rymi benar-benar kesal. Ia meninggalkan Marco dari ruangan itu, membanting pintu dengan keras berharap Marco akan mengerti kalau saat ini ia sedang marah.
Sudah cukup saja dirinya yang tidak mau menikah ini, lalu malah dengan tanpa memikirkan perasaannya sang Daddy malah menyuruhnya menikah dengan Rangga, apa semua orang di bumi ini sudah gila, selalu saja mengatur-atur hidupnya.
"Aku tidak akan memaksa, aku kan hanya bertanya!" teriak Marco sembari Rymi yang membanting pintu dengan kerasnya.
...***...
"Ini erat kaitannya dengan Ayaz, dan juga Ibu kandungku sedang menjadi tawanan mereka." ucap Sam pada Ayah angkatnya itu.
"Bagaimana, apa mereka sudah menemukan keberadaan Sian?" tanya Tuan Donulai.
Sam menggeleng, "Ayaz menyembunyikan Sian di tempat yang benar-benar tidak bisa diketahui, aku sudah menemukan kediaman Ayaz selama ini, apa Ayah ingin ikut bersamaku untuk menemuinya?" tanya Sam.
"Apa dia sudah berubah pikiran? Maksudku, apa dia sepertinya sudah memaafkan kami?"
Lagi dan lagi Sam harus menggeleng, "Namun setidaknya, kita bisa mencobanya lagi." ucapnya mencoba meyakinkan.
"Dia pewaris satu-satunya, sebenarnya jika saja Ayah tidak menentang keputusan Daslah dulunya, maka tidak akan pernah terjadi hal seperti ini." ucap sesal Tuan Donulai.
Lalu ia dan Sam langsung saja menuju kediaman Ayaz, mereka akan membujuk Ayaz sekali lagi untuk bekerja sama, paling tidak untuk menghancurkan Sian.
Urusan membujuk Ayaz untuk menerima Donulai, mungkin akan mereka ungkapkan saat Ayaz sudah bisa berbagi masalah dengan mereka. Tuan Donulai berharap banyak untuk itu.
__ADS_1
"Kau yakin ini rumahnya?" tanya Tuan Donulai, sebuah rumah yang sudah hangus terbakar, apa benar itu adalah rumah yang didiami Ayaz dengan cucu menantunya.
"Mereka mengatakan ini." jawab Sam meragu.
Lalu Sam memilih bertanya pada salah satu warga yang lewat, apa benar rumah uang yang terbakar ini adalah kediaman Ayaz dan Yaren, dan warga yang ditanyainya itu mengangguk membenarkan.
"Yarennya langsung dibawa ke rumah sakit oleh mertuanya, dan Ayaz mungkin juga sedang berada di rumah sakit saat ini." jawab salah satu warga itu.
Sam mengangguk, saat hendak menanyakan di rumah sakit mana istrinya Ayaz di bawa, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti dekat bangunan yang terbakar itu, tak lama setelahnya Sam melihat Ayaz keluar dari sebuah mobil itu.
Sam langsung saja menghampiri Ayaz, banyak sekali hal yang ingin dirinya tanyakan pada sahabatnya itu.
"Sam!" sapa Ayaz sedikit terkejut.
"Ayaz, apa kau baru saja pulang dari rumah sakit?" tanya Sam.
"Emm, ya... Baru saja!" jawab Ayaz canggung.
Saat Ayaz hendak menjawab, seorang pria paruh baya yang sayangnya adalah sang kakek tiba-tjba saja datang menghampirinya, "Apa kau baik-baik saja?" tanya Tuan Donulai sekalian menyapa.
"Apa aku harus menjawabnya?" sindir Ayaz.
"Ayaz, kau tidak bisa terus saja bersikap begini, meski bagaimanapun tidak akan bisa mengubah kalau kau adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis Donulai." jelas Tuan Donulai.
"Apa kau tidak lihat? Rumahku baru saja terbakar hangus, tanpa sisa, apa kau sedang menunjukkan belas kasihmu membicarakan perihal itu, kau pikir aku akan tertarik? Kau salah Tuan!" tolak Ayaz mentah.
"Ayaz!" selalu saja seperti ini, Tuan Donulai pasti akan sulit menahan emosinya jika berhadapan dengan cucunya ini.
__ADS_1
"Sam lebih membutuhkannya, aku tidak keberatan jika dia yang mengambil alih semuanya, karena aku sama sekali tidak butuh hartamu!" ucap Ayaz yakin.
"Ayaz..." Kali ini Sam, ia sungguh tidak setuju saat Ayaz mengatakan itu.
"Dengar, Tuan Donulai yang berkuasa, jika kau benar-benar berkuasa, seharusnya kau mempunyai hati dua puluh satu tahun yang lalu, saat di mana aku begitu membutuhkan bantuan kalian, belas kasih kalian, aku hanya meminta satu kali di seumur hidupku dan kalian bahkan tidak tau apapun tentang diriku, tiba-tiba saja ingin mengambil hidupku? Merayuku dengan harta duniamu yang katanya tidak akan pernah habis itu, kau benar-benar salah jika aku akan tertarik." ucap Ayaz geram.
"Aku bahkan sudah berhasil membalaskan dendam ku pada Sian, dan aku juga sudah menemukan siapa ayah kandungku, jadi aku anggap aku sudah tidak membutuhkan kalian lagi, karena satu-satunya alasanku ingin menemui kalian waktu itu bukanlah meminta kekayaan kalian, hal itu kulakukan karena aku hanya ingin mengetahui siapa ayah kandungku!" lanjutnya.
Tuna Donulai tersentak, harapan itu bagai hancur seketika, pelan tubuhnya melemas bagai mati rasa, dadanya sesak, ia merasakan sakit tak tertahankan, Sam memeganginya, samar ia juga mendengar Sam menyerukan namanya, namun ia seolah tidak bisa berbuat apapun, untuk menyahut saja ia tidak sanggup.
"Ayah... Ayah..." seru Sam, ia panik kala melihat tubuh Tuan Donulai yang tiba-tiba saja ambruk jika ia tidak langsung menahannya.
"Ayaz, bagaimana ini?" tanya Sam, pria itu benar-benar panik.
"Kalian punya segalanya, mengapa harus bertanya padaku?" sahut Ayaz, ia benar-benar tidak peduli.
"Ayaz, kau, tolong bantu aku memapahnya ke mobil, tolong!" pinta Sam.
"Aisshhh, menyusahkan sekali, dari semenjak aku dilahirkan sampai setua ini, aku bahkan belum pernah sekalipun menyusahkannya, namun lihatlah dia, belum apa-apa sudah menyusahkan saja." gerutu Ayaz tidak terima, ia sungguh tidak ikhlas harus menolong Tuan Donulai, kalau saja bukan karena Rangga dia pasti sudah meninggalkan pria itu begitu saja, jangan pernah berharap akan kepeduliannya.
Tapi Sam juga tidak peduli, ia cukup mengerti, namun ia juga tidak bisa berbuat apapun. Hati Ayaz memang sudah diliputi kekecewaan, wajar saja ia adalah saksi perjalanan hidup sahabatnya itu, akan sangat egois jika ia bisa menasihati Ayaz untuk menerima Donulai dengan mudah.
Tubuh lemah Tuan Donulai berhasil di bawa ke mobil, sopir yang menunggu mereka di mobil langsung saja bergegas membawa Tuannya itu ke rumah sakit. Sepertinya penyakit jantung Tuan Donulai pastilah kambuh lagi.
"Aisshhh, dia itu, belum apa-apa sudah jantungan!" gerutu Ayaz lagi.
Lalu ia kembali menuju rumahnya yang sudah hangus terbakar, matanya terpejam saat melihat itu, ia membayangkan Yaren yang sudah pasti kebingungan karena harus menghadapi itu sendirian. Tangannya mengepal, "Amla sialan, aku pastikan kau akan membayar ini lebih pedih lagi." ucap Ayaz begitu marah.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...