Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dokter Amri.


__ADS_3

"Raisa kenapa Ma?" tanya Argantara, pria paruh baya itu menatap khawatir pada putrinya.


"Nggak tau Pa, salah makan kali, muntah mulu!" jawab Wana.


"Suruh Dokter Amri aja ke sini, kasih obat muntah, kali aja asam lambung kayak Yaren..." ucapan Argantara terhenti kala menyebutkan nama anak sulungnya itu.


Yaren, kemarin dirinya baru saja menikahkan putri sulungnya itu pada seorang pemuda yang dicapnya pembuat masalah, Argantara masih mengingat wajah Ayaz yang telah menggagalkan pernikahan Yaren dengan Juragan Marli waktu itu.


Entah anaknya itu benar-benar hamil atau tidak, namun bagi Argantara tidak seharusnya Yaren tinggal serumah dengan pria itu.


Padahal, Argantara sungguh tidak berpikir, kalau bukan dengan Ayaz, lalu Yaren mau tinggal di mana lagi? Dengan tidak membawa uang sepeserpun, apa ada orang yang dengan sukarela mau menampungnya.


Dengan Ayaz saja, Argantara tidak tau saja, Yaren mengalami begitu banyak tekanan hanya karena mau numpang berteduh.


"Ngapain sih sama-samain Raisa sama si Yaren, Yaren itu hamil, asam lambung apanya!" protes Wana, tidak mau putrinya itu disamakan dengan Yaren yang baginya pembawa sial.


"Ma!" Argantara mulai meninggikan nada bicaranya, "Yaren tidak seburuk itu!" bela Argantara.


"Terus aja Pa, terus aja belain! Yang kemarin bikin malu emangnya siapa? Udah jelas-jelas mau dinikahin, hancur reputasi kita, 1 M kita harus bayar ganti rugi sama Juragan Marli, nah si Yaren kebanggan Papa itu emangnya ada mau ngertiin keluarganya! Malah kabur sama pria lain." dengus Wana kesal.


"Haahh!" Argantara menghembuskan napasnya berat.


Wana tidak tau pernikahan Yaren dan Ayaz, kemarin Argantara berangkat pagi-pagi sekali ke hotel yang lumayan jauh dari kediamannya, baginya meski dirinya dirundung kekecewaan, namun sudah tugasnya untuk menikahkan Yaren. Sehingga tugas itu sudah selesai, Yaren sudah menjadi milik Ayaz, katakanlah dia bagai seorang Ayah yang tidak bertanggung jawab, namun mengetahui Yaren hamil diluar nikah, dan lagi sudah tinggal bersama dengan seorang pria, hal itu bahkan semakin menyulutnya pada emosi.


"Papa telpon Dokter Amri ya!" ucap Argantara pada Raisa, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Raisa, wanita itu memang tengah lemas tidak berdaya saat ini, dirinya hanya bisa mengangguk menyetujui saat Papanya menawarkan untuk memanggil dokter Amri, dokter keluarga mereka.


Selang setengah jam, Dokter Amri sudah sampai di kediaman keluarga Argantara, dirinya langsung di suruh masuk menemui Raisa di kamarnya.


Dokter Amri langsung saja memeriksa keadaan Raisa.


"Apa mualnya begitu mengganggu?" tanya Dokter Amri.


"Saat pagi begitu sulit dihentikan Dok, kenapa ya?" tanya Raisa bingung.

__ADS_1


"Apa ada gejala lainnya?"


"Pusing Dok, bawaannya ya itu pengen muntah." jelas Raisa.


"Saya periksa dulu."


Dokter Amri sedikit terkejut akan apa yang ditemuinya, namun dirinya tidak berani untuk memperjelas semuanya, dirinya punya rencana untuk menghadapi situasi semacam ini di keluarga Argantara.


Wana, istri dari Tuan Argantara adalah wanita yang begitu licik, tidak mudah untuk membuat wanita itu jatuh begitu saja hanya dalam satu atau dua langkah penyerangan.


Dokter Amri sedikit kecewa karena tindakan Argantara yang mengusir Yaren tanpa menyelidiki kebenarannya. Dan dia yakin sekali semua yang terjadi pada Yaren adalah ulah dari Wana dan Raisa.


Dokter Amri adalah kerabat jauh almarhumah Mamanya Yaren, umurnya masih muda hanya berjarak dua tahun di atas Yaren. Pria itu sudah sangat lama menyukai Yaren, namun tidak juga mendapatkan kesempatan karena Yaren terlalu menutup dirinya.


lagi pula, meskipun Yaren termasuk termasuk wanita yang halal dirinya nikahi, namun akan sangat tidak mengenakkan jika dirinya menikahi wanita itu. Dirinya dan Yaren masih terikat hubungan keluarga meski sudah sedikit jauh.


"Bagaimana dokter?" tanya Wana panik.


Dokter Amri tersenyum, "Tidak apa, dia hanya kelelahan, mungkin sering begadang saat malam hari, jadi kurang tidur hingga itu berpengaruh pada saat paginya, usahakan istirahat yang cukup, jangan melakukan pekerjaan berat yang bisa membuatnya kelelahan." jelas Dokter Amri.


"Tapi, mualnya akan segera hilang kan?" tanya Wana.


"Oh begitu, ya baiklah, denger itu Sa, kamu nggak boleh begadang, kurang-kurangin nonton drakornya!" ujar Wana mulai sewot.


"Iya Ma, jangan bawel deh!" kesal Raisa, masih sakit juga tega benar Mamanya malah ngendumel.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya, Tuan, Raisa, istirahat yang cukup yah!" ucap Dokter Amri.


"Iya Dok!" ucap ketiganya serempak.


Argantara mengantar Dokter Amri hingga ke pintu utama, sementara Wana masih setia menemani putrinya itu di kamar.


"Terimakasih!" ucap Argantara.


"Sudah menjadi tugas saya! Panggil saja saya jika diperlukan, saya akan segera datang." sahut Dokter Amri.

__ADS_1


"Semoga karirmu semakin lancar!" ucap Argantara.


"Yah, itu doa yang sangat berarti."


"Ah iya, Tuan Argantara, bisakah kita berbincang santai suatu hari nanti, menikmati secangkir kopi di cafe seberang jalan sana!" tanya Dokter Amri.


"Tentu, mengapa, apa kau sudah mau menikah?" tanya Argantara sedikit meledek, dan itu berhasil membuat Dokter Amri jengkel.


Di usia yang mau jalan dua puluh delapan tahun ini, Dokter Amri sebenarnya sudah sering sekali ditanyakan kapan akan menikah, padahal gadis yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta malah kini sudah pergi entah ke mana karena di usir oleh orang yang berada tepat di hadapannya ini.


"Ada yang ingin saya bicarakan!" tatapan Dokter Amri berubah menjadi serius, selain untuk mengalihkan hal yang menjengkelkan tadi, dirinya juga ingin memberitahu Argantara bahwa berbicara padanya ada kala harus dengan begitu baik, usahakan tidak menyinggung perasaannya.


"Membicarakan sesuatu? Tentang apa?" tanya Argantara.


"Akan saya katakan kalau sudah waktunya, Tuan atur saja jadwalnya, usahakan tidak mengganggu jadwal pekerjaan Tuan yang saya dengar masih juga padat." sindir Dokter Amri.


"Ya, ya baiklah, nanti akan aku usahakan." sahut Argantara. Dirinya cukup heran karena tiba-tiba Dokter Amri berubah menjadi sangat serius.


"Saya permisi Tuan!" pamit dokter Amri.


"Baiklah!"


Dokter Amri meninggalkan halaman rumah keluarga Argantara, dirinya tersenyum smirk, kini kartu AS keluarga Argantara sudah berada di tangannya, meski itu tidak akan membuat Wana dan Raisa di usir dari rumah seperti Argantara mengusir Yaren, tapi setidaknya satu kebusukkan keduanya harus terungkap.


"Kenapa dia?" gumam Argantara heran sembari matanya masih tidak lepas menatap punggung Dokter Amri yang semakin menjauh.


"Ada apa Pa?" tanya Wana sang istri yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Eh, Ma!" kaget Argantara.


" Kenapa Pa?" tanya Wana sekali lagi.


"Tidak apa, tadi aku menanyakan kapan anak itu akan menikah, tapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sangat serius dan menyeramkan, apa dia marah padaku yah?" tanya Argantara.


"Mungkin saja!" jawab Wana santai. "Makanya Pa, jangan suka nanyain kapan nikah sama para jomblo, tersinggung kan orangnya! Hihi" Wana malah cekikikan dan kemudian meninggalkan suaminya yang malah dilanda kebingungan.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2