Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bagaimana bisa dia...


__ADS_3

"Kau akan memberitahukan semua orang?" Ayaz menatap kasihan pada Sian, namun dalam hatinya tersenyum puas.


"Ku rasa kau sudah sedikit mengetahui tentangku, aku yang sekarang bahkan bisa menunjukkan padamu begitu banyak hal yang menakjubkan!"


"Andai melihatmu begini bisa membayar seluruh penderitaan? Mungkin aku akan puas, dan tidak lagi penasaran bagaimana kisah ini akan berakhir!"


Tubuh ringkih yang terikat tali itu terus saja meratapi kesakitan, kadang yang Ayaz dengar, Sian juga sesekali masih mengumpatinya.


"Kau ingat mata ini?" tanya Ayaz.


Dia memaksa Sian mendongakkan kepala, lalu mata mereka bertemu. Sian masih terus kesakitan.


"Kau bahkan tidak ragu untuk membuatku buta!"


"Aku tidak punya hutang lagi tentang itu, sekarang kau sudah merasakannya."


"Ayaz... Kau pikir, akan bisa menang melawanku?" Sian tersenyum smirk, entah apa yang pria itu pikirkan, tapi bagi Ayaz saat ini, Sian cukup berada di titik yang lemah.


Ayaz mengangguk teratur dan berkata, "Bermimpi saja Bung, aku sebenarnya juga suka orang-orang yang memiliki semangat juang akan mimpinya."


"Sialan!"


"Rasa sakit itu, akan menguatkanmu untuk terus bermimpi, jika pun kau bisa lolos dari cengkramanku ini, aku tidak masalah, kita bisa bertarung lagi."


"Kau tidak akan..."


"Anak buahmu yang terlalu banyak?" potong Ayaz.


Sian mengerang kesakitan, alisnya bertemu, "Mereka akan menghabisimu dalam sekejap!" bentak Sian.


Ayaz tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha! Kau tau? Aku juga tidak sabar bertemu mereka, tapi sebelumnya mungkin kau juga harus mengetahui sedikit tentang profilku, sedikit bocoran? Bagaimana aksiku tadi?" tanya Ayaz, nada bicaranya masih saja bisa bercanda.


"Kau!"


...***...


"Haissshh!" Rymi menatap malas pada bangsal yang akan dikunjunginya.


Seseorang yang dirinya benci tengah tidak sadarkan diri dalam bangsal itu, dan dirinya ditugaskan untuk menjaganya. Ayaz benar-benar mempermainkan hidupnya kali ini.


Pelan Rymi membuka ruang perawatan itu, setelah tadi selesai ditangani, Sam sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dan Rymi satu-satunya orang yang berada di samping pria itu, tentu saja terpaksa harus menemaninya.

__ADS_1


"Mengapa sepertinya meragu?" tanya seorang perawat, Rymi lihat wajahnya seperti perawat senior, aura keibuan kental sekali di wajah itu. Rymi juga ingat, perawat ini juga salah satu orang yang menangani Sam tadinya.


"Tidak apa!" jawab Rymi sopan.


"Seorang istri harus selalu berada di samping suaminya, apa kalian pasangan pengantin baru?" tanya perawat itu lagi.


"Hah?" mata Rymi membulat, bagaimana bisa ada orang yang menganggap dirinya dan Sam adalah pasangan, apa sudah gila? Apa matanya terbalik? Sembarangan saja bicara!


"Dia..."


"Masuklah, saya yakin dia akan segera siuman jika anda memegang tangannya."


Rymi mendengus kesal, ia memalingkan muka lalu beranjak masuk ke ruang rawat Sam, menatap benci pada pria yang tengah terbaring lemah di brangkar itu.


"Dasar korban sinetron!" umpat Rymi.


Bokongnya ia paksa mendarat di sofa, tangannya dengan lincah mengetikkan sesuatu pada ponsel pintarnya, ia akan mengirimkan pesan pada Ayaz, menanyakan kapan pria itu akan datang untuk menggantikannya menunggui Samudra.


Sementara tak jauh dari tempatnya duduk,


Sam perlahan mencoba membuka matanya, dipandangnya blur ruangan yang tampak asing baginya, dan dirinya mulai menyadari bahwa ia saat ini sedang berada di rumah sakit.


Sam mulai mengingat potongan kejadian yang dirinya alami hingga mungkin bisa membawa tubuhnya berada di sini. Sam merasakan sakit di kepalanya saat mengingat itu, namun ia terus memaksakan.


"Aaaarrhh!" erangnya pelan, satu tangannya terulur memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Jangan banyak gerak dulu!" ucap seseorang, Sam mendongak, matanya menangkap sosok yang dirinya rindukan beberapa hari ini.


"Merve!" serunya tidak percaya.


"Jangan banyak gerak dulu, saya tidak bisa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan Bapak." ucap Rymi formal.


"Kau, bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Sam.


"Apa saya tidak seharusnya di sini, kali ini saya setuju, tapi mau bagaimana lagi, Bapak bisa mengusir saya, mungkin itu akan lebih baik!" ucap Rymi berterus terang.


"Merve, apa maksudmu?"


"Tidak apa? Lupakan, saya hanya mengeluh!" jawab Rymi asal.


"Apa... Kau tidak nyaman berada di sini?"

__ADS_1


"Ya!" jawab Rymi, teramat jujur tanpa perlawanan.


Melihat Rymi yang terang-terangan menolak berada di dekatnya, Sam sedikit terpancing.


"Lihatlah! Apa kita memang sudah ditakdirkan? Kau bahkan tidak bisa berada jauh dariku!" ucap Sam percaya diri. Bibirnya melengkung sempurna.


Rymi melotot dan hampir saja terjungkal mendengar perkataan Sam yang kelewat pede, "Bapak bercanda?mengesankan sekali!" sindir Rymi tak mau kalah.


"Kau berpikir begitu? Apa kau tidak berniat menanyakan kabarku?" tanya Sam.


"Apa itu harus? Bukankah, kita tidak sedekat itu untuk menanyakan kabar!" jawab Rymi tak kalah tangkis.


"Merve..." Sam memberang.


"Apa benturan di kepala Bapak begitu kuat hingga melumpuhkan kerja otak Bapak? Aishh, saya bukan lagi sekretaris Pak Rangga Donulai, jadi... Baiklah, tidak ada salahnya jika saya menegaskan sekali lagi, jangan berharap banyak pada saya." ucap Rymi, acuh! Dia tidak peduli lagi karena baginya ia tidak terikat apapun dengan pria di hadapannya ini.


"Apa kau bisa bersikap seperti ini, dan terang melupakan hari kemarin? Benar begitu?" tanya Sam, nadanya bergetar, haruskah ia mencoba sekali lagi, tapi mungkin saja sampai kali ini pun hati wanita yang disayanginya ini tidak akan bisa dirinya luluhkan.


"Kemarin? Apa ada yang perlu diingat dari hari kemarin?" tanya Rymi, sifat angkuhnya itu jelas saja berhasil membuat Sam tidak percaya, apa yang sebenarnya dirinya cintai ini, batu kah?


"Aku memberimu cinta, tapi kau buang begitu saja, mustahil!" Sam tersenyum miris.


"Saya rasa saya bukanlah orang yang layak untuk mendapatkan cinta Bapak!" ucap Rymi tak kalah tegas.


"Pergi!" geram Sam.


"Hah?" Rymi tidak percaya, apa baru saja Sam mengusirnya? "Apa Bapak serius?" tanya Rymi memastikan.


"Kau tidak dengar?" tanya Sam lagi.


"Aaaa!" Rymi tersenyum santai, tangannya dengan cepat memegang tangan Sam dan menggenggam erat lalu berkata, "Berjanjilah padaku! Bapak, tidak akan mempermasalahkan ini pada Ayaz, katakan seperti yang sebenarnya terjadi, Bapak benar-benar mengusirku! Ah tidak tidak, nanti Ayaz akan berpikir aku lah yang berbuat masalah!" Rymi mencoba berpikir cepat, "Begini saja, bisakah Bapak katakan pada 'sialan' itu, Bapak membebastugaskan aku dari menjaga Bapak!" mata Rymi berkedip dengan tidak tau malunya seolah sangat memohon.


"Merve!" pekik Sam, apa-apaan! Jantungnya bahkan hampir saja lepas karena Rymi yang tiba-tiba memegang tangannya, namun setelah mendengar apa yang dikatakan wanita itu, Sam jelas saja menjadi bertambah marah.


"Bapak tidak bisa?" tanya Rymi lagi, sepertinya ia putus harapan.


Ya Tuhan, wanita gila ini, benar-benar membuatku frustasi, bagaimana bisa dia...


Sam menggeleng cepat, tidak percaya dengan tingkah wanita yang ditaksirnya, Mervenya benar-benar gila menurutnya.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2