
Ayaz meneliti tubuh Yaren, tatapannya bagai hendak menguliti, sungguh berhasil membuat nyali Yaren semakin menciut.
“Kau mau apa?” tanya Yaren tergagap.
Ayaz tidak menjawab, wajah itu semakin mendekat hingga nafas keduanya bisa terdengar saling bersahutan. Mendekat lagi bagai hendak mencium wanita itu, dan bodohnya Yaren malah memejamkan matanya, Ayaz tersenyum geli melihat tingkah wanita itu, memproklamirkan tidak akan mau di sentuh oleh Ayaz, namun mengapa malah memejamkan mata segala seolah sedang menunggu sesuatu akan terjadi.
Mata Yaren refleks terbuka kala dirinya seperti melayang di udara, rupanya Ayaz sedang menggendongnya ala bridal style.
“Kau menginginkannya?” goda Ayaz.
“Apa?” sahut Yaren.
“Aku melakukan apa yang kau pikirkan!”
“Tidak!”
“Memangnya kau pikir aku akan melakukan apa? Sepertinya kau kecewa Nona Yaren.”
“Lepaskan aku!” titah Yaren, matanya menatap tidak suka pada Ayaz.
“Lututmu terluka, biarkan aku menggendongmu sampai rumah!”
Yaren melirik sedikit kakinya, memang benar di lututnya ada luka goresan yang mungkin saja Yaren dapat saat terjatuh tadi, Yaren tidak menyadari karena dia begitu panik, dan setelah apa yang dikatakan Ayaz tentang luka, mengapa rasanya mulai sakit.
Yaren membuang muka, tidak mau menatap wajah Ayaz. Pria brengsek itu, mengapa kadang begitu kejam namun ada kalanya dia bisa juga bersikap manis seperti ini.
“Jangan mencoba kabur dariku lagi!” ucap Ayaz, kali ini lembut, dan Yaren benar-benar bingung dengan suasana hati Ayaz yang selalu berubah-ubah.
“Aku ingin pergi darimu!”
“Ini kedua kalinya kau mencoba kabur, dan selalu saja dalam masalah, dan untuk kedua kalinya juga aku menyelamatkanmu, hutangmu bisa bertambah banyak jika kau terus begitu!” Ayaz menatap remeh Yaren.
“Berhutang nyawa, aku tidak menyuruhmu menyelamatkan aku, kalau hal menyelamatkan akan membuatku berhutang padamu lebih banyak lagi, mengapa kau menyelamatkanku?” bentak Yaren dengan masih di gendongan Ayaz.
“Kau ingin memberikan kesucianmu pada pria tua itu?” tanya Ayaz menantang.
“Tidak, setidaknya aku bisa melarikan diri tanpa bantuanmu!”
“Hei Nona, kau tidak tau caranya berterima kasih ya?” Ayaz sebal, Yaren bagai tidak menghargai keputusannya untuk membantu wanita itu.
“Untuk laki-laki sepertimu, menyelamatkan nyawa orang dengan dalih hutang, rasanya aku tidak perlu berterima kasih, kau...”
“Brakkk!”
“Aawww, apa yang...”
__ADS_1
“Silakan pergi!” titah Ayaz, matanya menatap garang pada Yaren.
Yaren memegangi bokongnya yang mendarat keras di tanah secara tiba-tiba, Ayaz memang tidak punya hati melepaskan gendongannya begitu saja.
“Kau...”
“Aku tidak peduli padamu!”
“Ayaz...”
Pria itu berlalu pergi, meninggalkan Yaren sendirian di tengah hutan.
“Ayaz, kau benar-benar tega!” umpat Yaren, masih bisa di dengar Ayaz, namun Ayaz sama sekali tidak peduli.
“Ayaz, kau....”
“Ayaz!”
Yaren terduduk di tanah, wajahnya menengadah ke atas, pohon rindang, hutan yang sepi mencekam, membuatnya menyesal telah menyinggung perasaan Ayaz.
Namun, dibalik itu, dirinya bisa berlega hati, Ayaz melepaskannya, dia bisa pergi mencari jalan pulang menuju persimpangan.
Yaren bangkit, menyusuri jalan sebelumnya, berharap bisa menemukan secercah harapan.
...***...
“Dasar wanita gila, beraninya dia berkata begitu terhadapku!” geram Ayaz.
“Biar saja, dia pikir akan mudah menuju persimpangan.” Sudut bibir Ayaz terangkat, dia sudah membayangkan Yaren yang begitu kesulitan mencari jalan keluar, mungkin sebentar lagi wanita itu akan menangis sejadi-jadinya karena tersesat.
Ayaz masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang, menuangkan bubuk kopi instan dan menyeduhnya.
Pria itu duduk di kursi makan, mengambil setoples camilan dan mulai memakannya.
“Dasar murahan, tidak tau terima kasih!”
Ayaz melirik rolexnya, pukul tiga sore! Sebentar lagi hari mulai gelap, entah bagaimana Yaren menghadapi semua itu.
“Sebentar lagi mungkin akan kutemukan tulang belulang manusia di hutan menyeramkan ini!”
Sungguh Ayaz masih bisa mengisi perutnya meski di kepalanya mulai terbayang wajah Yaren yang begitu ketakutan.
Hewan buas begitu banyak berkeliaran di hutan itu, Yaren dianggapnya benar-benar nekat.
“Apa aku tidak menarik baginya? Seharusnya dia menyerahkan dirinya padaku, bukan malah menghindar, kalau aku jadi dia mungkin akan menikmati malam-malam panas beradu peluh dengan pria tampan sepertiku!” narsis Ayaz tentang dirinya sendiri.
__ADS_1
“Dia begitu munafik!”
...***...
Yaren begitu menyesal karena telah berani menyinggung Ayaz, mungkin sudah hampir dua jam dirinya berkutat mencari jalan keluar dari hutan ini, namun lagi-lagi harus ditempuhnya jalan yang sama.
“Sebenarnya hutan apa ini?” gumamnya, kecewa sudah tentu bersemayam di hati, mengapa begitu sulit keluar dari cengkraman Ayaz.
Cahaya sore yang teduh sudah mulai terasa, gelap mungkin sebentar lagi menyapa namun dari tadi Yaren hanya melangkah di sekitar itu-itu saja.
“Ya Tuhan, selamatkanlah aku, jika aku harus bermalam di sini, mohon perlindungan-Mu!” gumam Yaren sembari menatap langit yang teduh.
Yaren duduk beralaskan rerumputan yang subur, sejenak dirinya merenungi nasib tidak beruntungnya.
Di mana Raisa dan Ibu tirinya pasti sedang berbahagia di sana, tidak peduli akan dirinya yang bagai tiap hari berusaha menghindari celaka. Tidak peduli dirinya akan makan dengan baik atau tidak, begitu pun sang Papa Argantara, pria paruh baya itu adakah mencoba mencarinya?
Bagai anak yang terbuang, kadang membuat Yaren berpikir, mengapa ingin hidup damai saja begitu sulit, tidak apa tidak mempunyai keluarga yang utuh atau dirinya harus hidup sendirian, namun bisakah dirinya bebas, bebas dari belenggu orang-orang yang ingin berkuasa mengenai hidupnya. Jika diperbolehkan, Yaren ingin sekali hidup sederhana, setiap hari bekerja hanya untuk biaya sesuap nasi pun tak apa, berharap selain masalah perut maka dirinya ikhlas untuk masa-masa sulitnya, asalkan tidak ada ancaman mengenai hidupnya lagi selain itu.
“Apa salahku?” rintihnya, menatap luka yang ternyata lumayan besar, entah apa yang mengenai lututnya tadi.
“Dia manusia kejam, aku yang telah salah menilainya.”
Air mata Yaren mulai jatuh, mengenang hidupnya yang begitu menyedihkan selalu saja bisa membuatnya bagai mau menangis darah.
“Hiks hiks, mengapa aku tidak mati saja.” keluhnya.
Yaren menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar, air mata itu terus saja keluar tak terhindarkan, begitu pilu jika dilihat.
Menangisi nasib yang tidak beruntung, menangisi Mamanya yang sudah tenang di Surga, menangisi Ayaz yang tidak bisa bersikap baik padanya, menangisi sang Papa yang lebih percaya orang lain dari pada dirinya, segala yang terjadi pada hidupnya mengapa seakan begitu rumit, mengapa cobaan Tuhan bagai tiada henti menghampirinya.
“Aku ingin bahagia...” lirihnya, mengusap air mata yang terus saja tumpah.
“Aku rindu, aku merindukanmu Ma, jemput aku di sini, bawa aku bersamamu, bawa aku ke Surga!”
“Mama...”
“Aku merindukanmu Ma!”
Pelan mata itu terpejam, air mata Yaren berhenti mengalir karena si empunya sudah terlelap dalam kesakitan.
Hal ini biasa Yaren lakukan, di sepanjang hidupnya yang bagai selalu saja berkawankan derita, tidak jarang Yaren menangis sampai tertidur seperti sekarang ini.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote !!!...
__ADS_1