Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Masa lalu.


__ADS_3

Ayaz meninggalkan Yaren. Berbicara tentang Tuhan, Ayaz sungguh geram. Hidupnya bagai tidak punya kenangan manis, penuh dendam! Itulah dirinya.


Ayaz POV.


Aku gila, yah katakanlah aku gila!


Hidup menderita, bahkan lebih dari apa yang diceritakan Yaren tentang kawannya.


Bayi itu tidak punya Ibu dan Ayah, menurutku lebih baik begitu, tidak punya Ibu dan Ayah! Sungguh miris namun kenyataannya memang benar lebih baik begitu.


“Kau anak haram! Seharusnya aku membunuhmu dari sejak kau terlahir di dunia.” ucap Sein, Ayahnya.


“Lalu kenapa Tuan tidak membunuh saya?” tanya Ayaz kecil, waktu itu usianya sekitar dua belas tahun, tepat empat puluh hari sudah sang Ibu meninggalkannya.


“Aku masih membutuhkanmu, kau akan mati kalau sudah waktunya!”


Ayahnya meninggalkannya, Ayah yang selalu saja menyebutnya anak haram.


Ayaz tidak mengerti, mengapa dia yang sebelum kematian Ibunya, dia sebenarnya mempunyai keluarga yang lengkap, Ayahnya ada meski tidak pernah bersikap baik padanya, Ibunya juga, lalu mengapa memanggilnya dengan sebutan begitu?


Saat ditanya, tentulah sang Ibu tidak pernah menjawab.


“Bu, mengapa Ayah selalu bilang kalau aku ini anak haram, padahal di raporku tertulis dengan jelas beliau adalah Ayahku?” tanya Ayaz di suatu hari.


“Mungkin Ayah sedang marah, dia tidak sengaja mengatakan itu, kau ingat kan Ayah selalu mengirimkan hadiah saat kau berhasil mendapatkan juara!” ucap Ibunya menenangkan.


“Ehhmm, benar, mungkin Ayah sedang marah karena masalah kantor, tidak apa Bu, aku selalu menyukai hadiah dari Ayah, dia juga bisa menjadi baik!” ucap Ayaz antusias.


Ibunya tersenyum, Ayaz adalah kebahagiaannya.


“Anak itu adalah anak haram, dia bukan anakku, dia anak Nindi dengan orang lain, tapi aku harus mendapatkan warisan Nindi saat umur anak itu genap dua puluh satu tahun, Sayang... Bersabarlah sedikit.”


Suatu malam, Ayaz yang sudah beranjak remaja sedikit banyaknya sudah bisa mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Percakapan Ayah dan Ibu tirinya yang tidak sengaja dirinya dengar malam itu sungguh menggores luka di hati Ayaz.


Pantas saja Ayahnya tidak pernah mengakuinya, ternyata kenyataan hidupnya begitu rumit.

__ADS_1


"Bunuh saja aku, kau akan mendapatkan apa yang kau mau. Kau menyiksaku tak ubah seekor hewan. Manusia hina yang sebenarnya adalah kau, kau keparat Sein!"


Kaki dan tangan Ayaz terikat pada sebuah tali, tubuhnya penuh luka cambuk, saat Sein marah, entah itu masalah kantor ataupun bertengkar dengan istrinya, maka Ayazlah yang akan menjadi pelampiasannya.


"Aku tidak bisa membunuhmu, bahkan saat kau berusia dua puluh satu tahun pun aku belum bisa membunuhmu, aku pastikan kau akan menderita!"


Bughhh, sebuah tendangan mendarat tepat di dada Ayaz, membuat mulut lelaki yang masih beranjak remaja itu penuh darah.


Sebanyak yang Ayaz dengar dari salah satu pembantu di rumah itu, dulu Sein begitu mencintai Nindi, Ibunya Ayaz, mereka berdua di jodohkan dan sepakat menikah, namun ternyata Ibunya sudah dalam keadaaan hamil saat menikah dengan Sein, dan semenjak Sein mengetahui itu dirinya murka, tidak bisa menyiksa dan membenci terlalu pada Nindi, maka Ayazlah yang akan menjadi pelampiasan dendamnya.


Aku bersumpah akan membunuh keduanya, Sein dan siapapun Ayah kandungku.


Yah, Ayah kandungku juga, dia yang telah membuatku menderita seperti ini.


"Semua hadiah saat kau kecil dulu, semasa Nyonya masih hidup, sebenarnya itu bukanlah dari Ayahmu Ayaz, itu dari Ibumu!" Ayaz mendengar lagi sebuah pengakuan dari Sam, saat dirinya berada di pengasingan.


Sial, semua yang dirinya ketahui malah membuat dirinya semakin benci.


Memberikanku hadiah, sebenarnya dia tidak pernah menganggapku ada.


"Kau pergilah Ayaz, jangan pedulikan aku, suatu hari nanti jika aku masih hidup, aku akan mencarimu, aku akan datang menemuimu!" Sam, berlalu sembari di seret paksa oleh orang suruhan Sian.


Saat aku kehilangan Sam, satu-satunya orang yang begitu peduli padaku, padaku yang hanya mengenal siksaan selama aku hidup di dunia ini.


Saat Sein menyerapahiku, saat aku tidak lebih berharga dari seekor anjing yang dirinya beri makan di setiap pagi dan sore. Di mana aku harus menahan gejolak ingin muntahku kala mendapati makanan basi yang sengaja dia hidangkan untukku, kala aku lebih memilih mengencangkan perutku dari pada aku harus memakannya. Aku sudah melihat penderitaan saat Ibuku masih ada, namun tidak seburuk saat dia meninggalkanku, aku bagai kehilangan arah tanpanya, penyakit kanker serviks yang dideritanya harus membawanya lebih cepat bertemu Tuhan.


Aku merasa Tuhan tidak adil padaku, mengapa tidak menyelamatkan hidup Ibuku saja, mengapa tidak aku saja yang mati. Mungkin akan lebih baik, mungkin aku tidak akan menderita separah ini. Mungkin juga Sian bisa mencintai Ibuku dengan tulus.


Begitu banyak mungkin yang aku andaikan setiap harinya semenjak Ibuku meninggal, aku tidak bisa mengubah takdir, batasan langkahku hanya rumah besar itu, aku diperlakukan sama seperti pelayan, bahkan saat pelayan lainnya hendak membantu meringankan pekerjaanku maka Sia akan segera memecat mereka lalu menyiksaku.


Menyedihkan, aku saat itu bahkan sangat kurus.


Tidak pernah makan dengan baik, tidur dengan benar, pikiranku selalu berlayar mendoakan secercah harapan pada Tuhan, aku ingin pulang ke rumah Tuhan yang katanya damai untuk kita beristirahat.


Sesederhana itu harapanku, keinginanku yang tidak mau berlama-lama ingin hidup membuatku sempat ingin bunuh diri, namun lagi-lagi pelajaran saat diriku masih sekolah membuatku mengurungkan niatku. Saat itu aku tidak takut mati, namun bukan dengan jalan bunuh diri.


Dia membuatku buta, waktu itu pecahan kaca saat aku sedang membersihkan gudang mengenai mataku, ku kira itu sebab aku tidak berhati-hati, namun ternyata campur tangan Sian adalah selalu menjadi alasan bagaimana aku yang selalu harus menderita ini.

__ADS_1


Dendamku semakin menggunung, namun kadang dia juga meluruh, sebab dengan kondisiku yang seperti itu, aku benar-benar pupus harapan.


"Aku akan menyembuhkanmu, setelah ini, keluarlah, hiduplah bebas meski harus terluntang-lantung, kau tidak boleh kembali saat belum mempunyai apa-apa!"


 Sam mengatakan itu padaku, saat dia menjanjikan kesembuhan untuk mataku. Aku terharu, karena dialah aku kuat, dia yang hanya seorang pelayan begitu peduli dan mau mengorbankan hidupnya untukku.


Jika ditanya ke mana Sam pergi? Maka aku juga tidak bisa menjawabnya, aku tidak tau di mana dia sekarang? Masih hidup atau juga sudah bertemu Tuhan.


Aku merindukan Sam, laki-laki berbadan tegap itu sudah berhasil membuat tidurku selalu tidak nyenyak. Ucapannya sebelum perpisahan membuat telingaku masih saja sering berdengung, aku menantikan hari itu, hari di mana dia akan menemukanku, menemuiku!


Masa laluku, kilasan kejadian masa kecilku, penyiksaan yang dilakukan Sein padaku, dan ditambah kepergian Sam, kadang memang benar membuatku sulit untuk tidur di malam hari.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote !!!...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2