
Pihak kepolisian mengangguk pasti saat beberapa rekan mereka menganggap kalau pencarian ini sepertinya tidak membuahkan hasil.
Hari sudah sangat larut, arloji Sam menunjukkan hampir pukul dua belas malam, namun mereka semua yang ditugaskan tidak juga menemukan titik terang.
Sam menghembuskan napasnya berat, mau tidak mau dirinya harus menyerah untuk hari ini.
"Kenapa? Apa kau sepertinya kecewa Tuan Samudra?" tanya Amla, mata itu Sam sungguh tau, mata itu menatapnya remeh, karena Amla menganggapnya tidak berhasil kali ini.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja! Akan aku pastikan kalian menanggung semuanya, apa yang pernah kalian lakukan pada orang tuaku, kalian harus membayarnya." ucap Sam pada Amla.
"Oh oh oh, aku menunggu itu!" bisik Amla pelan dengan kerlingan mata, ia sungguh menyukai lelaki tampan penuh dengan semangat, Ayaz juga seperti itu dan kali ini Samudra, mengapa pemuda-pemuda yang tidak ada artinya dulu malah terlihat menjadi keren di waktu sekarang pikirnya mulai menggila.
Dengan berat hati Sam beserta pihak kepolisian yang bertugas harus meninggalkan kediaman Sian tanpa membawa hasil yang diinginkan.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sepertinya Ibu Tuan Rangga tidak berada di lingkungan rumah ini." ucap pak polisi itu menyertakan pendapatnya.
Sam mengangguk, ia juga setuju, tapi tadinya dia bisa melihat gerak-gerik Amla yang tampak gelisah, itu berarti seharusnya sang Ibunda berada di sekitar sini kan? Tapi di mana? Semua ruangan atau bahkan tanah pun sudah diperiksa oleh anjing pelacak, namun tidak juga menemukan petunjuk. Apa sesulit itu? Di mana kiranya Sian menyembunyikan Ibunya?
"Aku rasa, bisakah kita mencari sekali lagi, besok misalnya?" tawar Sam.
Polisi itu tampak berpikir, setidaknya sudah delapan jam mereka mencari namun tidak menemukan apapun, lalu apa iya mereka harus mencari lagi di tempat yang sama besok?
"Apa anda yakin Tuan Rangga?" tanya polisi itu memastikan.
Sam mengangguk, "Aku bisa melihat kegelisahannya, hari ini wanita itu hanya beruntung saja." ucap Sam.
Polisi itu hanya bisa menghela napasnya pelan, "Baiklah, besok kita akan melakukan pencarian lagi, semoga saja ada titik terang." ucapnya pasrah.
Sam mengangguk setuju, kemudian ia pamit untuk pulang ke rumah, hari ini sungguh melelahkan sekali rasanya.
Para pihak kepolisian itu pun juga bubar, sudah menjadi tugas mereka untuk melayani masyarakat, namun meski bagaimanapun mereka juga hanya manusia biasa yang juga mempunyai rasa kantuk dan lelah.
__ADS_1
Sam masuk ke mobilnya, matanya menatap rumah Sian yang megah, tidak banyak yang berubah dari rumah itu, bayangan Sian yang menyiksa Ayaz seolah tidak ada habisnya juga masih jelas terpatri di pikirannya.
Namun saat dirinya ingin menghidupkan mesin mobilnya, tiba-tiba saja pintu mobilnya diketuk oleh seseorang.
Sam mendongak, lalu ia sungguh terkejut setelah melihat siapa yang mengetuk pintu mobilnya.
...***...
Rymi sungguh kesal karena Marco yang tidak pernah ada habisnya berbicara tentang pernikahan, apa lagi tadi, cucu? Hebat, bagi Rymi, Marco benar-benar sungguh hebat beraninya membual tanpa memikirkan perasaannya.
Langkah kakinya sudah sampai masuk ke dalam mobilnya, mulai menghidupkan mesin mobil dan kemudian melajukan cepat kendaraan roda empat yang dikendarainya itu.
Pikirannya melayang jauh, kekesalannya terhadap Marco dan juga Sam, Oh memikirkan nama itu, ada sedikit sudut bibir yang tertarik saat Rymi tiba-tiba teringat akan sosok pria yang pernah mengaku menyukainya itu. Sam, lagi-lagi berhasil menbuat senyuman yang hanya terlihat samar di bibir mungil Rymi.
Tangannya mencengkram erat kemudi, Rymi bergegas pulang ke rumah supaya bisa segera mendinginkan kerja otaknya yang sudah ia rasakan tidak beres ini.
Setelah sampai, Rymi langsung saja menuju tempat tercintanya, kamar yang beberapa hari kemarin seringnya ia tinggalkan.
Ah tampan? Apa baru saja Rymi mengakui kalau Samudra adalah pria yang tampan?
Rymi menggeleng pelan, tidak... Ia rasa sudah semakin gila, apa lagi semenjak Marco mengatakan ia bahkan peduli terhadap Samudra, Marco benar, hal itu sungguh tidak biasa dilakukan oleh seorang Rymi, sikapnya yang acuh kadang selalu menghancurkan kesejahteraan orang lain, namun jika dengan Samudra, dia bisa bersikap acuh namun juga peduli, itu adalah sebuah keanehan yang harus Rymi akui kebenarannya.
Tak tak tak, jari dengan kuku panjang nan indah itu sungguh berisik saat berkali-kali mengetuk meja, Rymi menjadi bingung dengan dirinya sendiri.
Mengingat tentang Samudra, Rymi sedikit penasaran tentang apa yang sedang pria itu lakukan, apa sudah selesai menggeledah rumah Sian sialan itu? pikirnya bertanya.
Rymi menatap ponselnya, ia masih bisa menghubungi Samudra, karena nama itu masih tertera rapi di kontaknya dengan nama Rangga Donulai, mantan bosnya. Yah kemarin ia adalah seorang sekretaris yang baik, jadi tentu saja harus menyimpan nomor ponsel atasannya kan, rasanya itu hal yang wajar saja.
Aku tidak menghapusnya karena aku lupa, benar! Aku hanya lupa menghapusnya!
Rymi bermonolog dalam batinnya, biasanya jika misi sudah selesai, Rymi langsung saja menghapus nomor siapapun yang berhubungan dengannya selama misi tersebut, selain rekan tentunya! Rymi bahkan memblokir nomor-nomor itu supaya berhenti menghubunginya, namun kali ini ia benar-benar lupa untuk menghapus nomor Rangga Donulai. Lupa? Wajar saja kan, aku juga manusia biasa!
__ADS_1
Tangannya seolah bergerak sendiri menekan tombol hijau, namun untunglah Rymi buru-buru menyadari dan segera mematikan panggilan tidak sengajanya.
Rymi mengusap dadanya pelan, sungguh membuatnya senam jantung malam-malam begini.
Sedang apa dia? Aaissshhh, aku sungguh penasaran!
Dan sayangnya, Rymi adalah tipe wanita yang tidak bisa berlama-lama dalam rasa penasarannya, wanita yang tidak mengenal takut akan apapun itu selalu saja ingin tau dan memastikan sesuatu apapun yang mengganjal di hatinya.
Rymi, wanita itu tanpa sadar sudah membuka laptopnya, tangannya dengan lincah sudah memasuki sebuah aplikasi yang Marco rancang khusus untuk mereka, dan mengklik sesuatu!
Hingga sekitar tiga menit kemudian, rasa penasarannya itu bisa terjawab dengan mudah.
Rymi segera memoles tipis kembali wajah yang baru saja dirinya bersihkan tadi, mengambil jaket lalu bergegas menuju suatu tempat.
Mobilnya melaju dengan cepat, dan saat dirinya sudah sampai, Rymi bisa melihat seseorang yang membuatnya penasaran tadi sedang berbincang dengan salah datu pihak kepolisian.
"Apa anda yakin Tuan Rangga?"
"Aku bisa melihat kegelisahannya, hari ini wanita itu hanya beruntung saja."
"Baiklah, besok kita akan melakukan pencarian lagi, semoga saja ada titik terang."
Rymi mendengar itu, itu berarti pencarian yang menyita waktu sekurang-kurangnya delapan jam itu tidak juga membuahkan hasil, sungguh miris pikirnya.
Lalu saat semua orang sudah membubarkan diri, Rymi melihat Sam yang mulai memasuki mobil, wanita itu gegas ingin menghampiri, ia tidak percaya kalau hari ini bahkan Samudra tidak mendapatkan apapun.
"Tok tok tok!" pintu mobil Sam diketuknya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1