
Dirinya ketahuan dan lalu digiring ke markas, dipukuli secara brutal. Ayaz pasrah, dirinya hidup bergelimang harta sedari kecil, ia saat itu tidak bisa melawan sama sekali, bisa dibilang cowok yang lemah meski penampilannya tidak menunjukkan itu.
Entah karena apa, Marco namanya, dia adalah Bos Gangster yang baru saja melihat dengan jelas serta membiarkan Ayaz dipukuli anak buah mereka.
Ayaz tidak dendam, dirinya bahkan marah pada diri sendiri yang selama ini tidak pernah dibekali ilmu bela diri, bagaimana bisa dirinya melawan Ayah tirinya nanti jika dia begitu lemah.
"Ada dendam dimatamu!" ucap Marco, menatap dan meneliti Ayaz dari ujung kepala hingga kaki.
Ayaz tidak menjawab, mulutnya penuh darah, badannya serasa remuk, tangannya dan kakinya luka begitu mengenaskan, wajah lusuh serta babak belur, Ayaz tidak kuat lagi berbicara.
"Obati dia!" titah Marco.
Sejak saat itu, Marco mengetahui banyak hal tentangnya, dan menawarkan sebuah kerja sama, Marco meminta Ayaz untuk mengabdi padanya. Dan untuk perihal Ayaz balas dendam pada keluarganya, Marco tidak mau tau, tapi kalaupun Ayaz mau dia akan memfasilitasi semuanya.
Setidaknya butuh waktu satu tahun untuk Ayaz berlatih menjadi tangguh dan tak terkalahkan, dia adalah panglima perangnya bagi Marco, meski kriminal namun bagi Ayaz, Marco adalah seseorang yang sangat dirinya hargai, Marco merubah hidupnya yang semula hanya flat saja menjadi penuh warna dan noda.
"Kau bersiaplah!" titah Ayaz pada Yaren.
"Bersiap untuk apa?" tanya Yaren saat dirinya sudah selesai menjemur baju.
"Kita akan ke kota sebentar!" jawab Ayaz.
"Dengan pakaian seperti ini, kau gila?" tanya Yaren. Apa Ayaz benar-benar sudah gila? kaos putih tulang yang kelewat longgar, celana boxer warna hitam yang pendeknya bukan main, Yaren lebih baik mati saja dari pada ke kota harus dengan pakaian seperti ini.
Ayaz menghembuskan nafasnya pelan, pria itu berjalan menuju kamarnya, mengambil hoddie berwarna hijau botol di gantungan, cukup besar entahlah bisa atau tidak membantu.
"Coba kenakan ini!" suruh Ayaz.
Yaren menurut, dirinya langsung saja mengenakan itu, benar-benar kebesaran, menandakan badannya dan badan Ayaz sangat tidak sebanding.
"Lebih baik!" ucap Yaren.
Ayaz mengangguk, dirinya mengambil sepatu di rak, "Kita tidak punya waktu banyak, nanti kau belilah segala yang kau perlukan!" ucap Ayaz lagi.
"Hemmm, begitu yah!"
Tidak ada sahutan Ayaz lagi, pria itu sudah siap berangkat.
Sementara di sebuah mansion mewah,
"Hemm, sudah mulai berani ternyata." ucap Marco, dirinya tersenyum smirk mendengar apa yang dilaporkan anak buahnya tentang Ayaz.
"Kau sudah selidiki siapa wanita itu?" tanya Marco.
__ADS_1
"Sudah Tuan, namanya Yaren Motan, anak dari Tuan Argantara dan mendiang istrinya dulu, sekarang Tuan Argantara sudah menikah lagi, menurut informasi dirinya diusir oleh keluarganya saat pernikahan, dan Tuan harus tau, Ayazlah penyebab semuanya terjadi."
"Hemm, kenapa begitu?"
"Untuk alasan itu, saya belum mengetahui lebih detilnya, namun sudah saya pastikan Yaren Motan adalah gadis baik-baik Tuan."
"Hemmm!"
"Tetap awasi Ayaz, aku tidak mau kehilangan dia, meski dia sudah bisa mendapatkan kembali haknya, namun aku tidak akan melepaskannya begitu saja, dia adalah sumber keuanganku!"
"Baik Tuan!"
"Rupanya Ayaz mau mencoba sesuatu yang akan menyakitinya, cinta... yang pada akhirnya hanya akan memperbudaknya!" gumam Marco, dia tidak akan menghalangi Ayaz, namun meski begitu jika Ayaz tersakiti, barulah ia akan bertindak.
"Pilihlah!" titah Ayaz, saat ini mereka sedang berada di salah satu mall yang terkenal dengan barang-barang branded di kota, Yaren meringis karena baginya kali ini Ayaz benar-benar sudah kelewatan bercandanya.
"Ayaz, aku tidak punya uang, kita beli di pasar tradisional saja apa saja yang aku butuhkan, aku tidak masalah memakai barang murah!" ucap Yaren, dirinya mencoba membujuk Ayaz.
"Pilihlah!" titah Ayaz dingin.
"Baa baik Ayaz!"
Segera Yaren memilih beberapa pakaian yang dirinya butuhkan, dia memilih yang paling murah, tidak perduli soal warna dan model, yang dirinya pikir hanya sebisa mungkin mengurangi pengeluaran Ayaz yang akan membayar semuanya ini nanti.
Bagaimana nanti jika Ayaz menagihnya suatu hari, Yaren harus bayar pakai apa? Bukan tidak mungkin kan!
"Baa baik!" Yaren mempercepat geraknya, segera ia memberikan semua barang belanjaannya, hanya tiga stel pakaian, dirinya tidak tega bagai memeras Ayaz saja jika mengambil lebih dari itu.
"Nanti dia yang akan bayar!" ucap Yaren hati-hati pada kasir.
Kasir wanita itu nampak tersenyum, dirinya mengemas segala yang dipilih Yaren. "Yakin hanya ini saja?" tanya wanita kasir itu.
"Iya!" jawab Yaren.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Ayaz yang tiba-tiba ikut bergabung di meja kasir.
Wanita itu tersenyum ramah, "Dia membutuhkan setidaknya tiga puluh menit untuk memilih tiga stel pakaian, apa bagimu itu kurang banyak?" tanya wanita itu.
"Pilihkan saja untuknya sepuluh stel lagi, aku tidak bisa membahayakan nyawanya jika kami terus berkeliaran di kota!" ucap Ayaz setengah berbisik.
"Baiklah!" sahut wanita itu.
Yaren ternganga, ternyata Ayaz dan wanita kasir itu saling mengenal.
__ADS_1
"Rymi!" panggil Ayaz lagi.
"Ya!" sahut wanita kasir yang ternyata bernama Rymi itu.
"Tambahkan juga beberapa pakaian dalam untuknya." ucap Ayaz.
"Heem!" Rymi mengangguk, sementara Yaren tampak menundukkan wajah malu mendengar ucapan Ayaz baru saja.
Sebenarnya siapa mereka, siapa Ayaz ini?
"Terimakasih!" ucap Rymi saat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk Ayaz. Sebenarnya menyindir Ayaz yang sama sekali seperti tidak menghargai jasanya.
Yaren tampak canggung, tapi Ayaz biasa saja, pria itu sama sekali tidak perduli.
"Astagah, aku lupa!" pekik Yaren.
"Kenapa?" tanya Ayaz, dirinya juga terkejut karena teriakan Yaren.
"Kau tidak membayarnya tadi, ayo kita kembali!" ajak Yaren.
"Tidak perlu, aku akan mengurus semuanya, ayo kita ke supermarket saja, membeli bahan makanan untuk beberapa hari."
"Kau serius, barang-barang ini tidak sedikit!" ucap Yaren meragu.
"Tidak apa, aku akan mengatasinya."
Semakin ke sini semakin aneh saja, aku penasaran namun takut juga.
Keduanya menuju parkiran, Ayaz memakai atribut lengkap topi dan masker, begitupun Yaren yang dirinya wajibkan memakai atribut begitu saat bersamanya.
Kemungkinan bisa saja terjadi, ancaman dimana-mana, tidak ingin membahayakan hidup Yaren, Ayaz sudah waspada.
"Ayaz, ini cukup banyak, dan kita hanya menggunakan motor, bagaimana?" tanya Yaren yang terlihat sedikit kesusahan menenteng semua belanjaannya.
Ayaz tau seharusnya ia meninggalkan barang-barang itu di toko saja, biar orang-orang Marco yang mengurusnya.
"Kau punya aplikasi untuk memesan taksi online?" tanya Ayaz.
"Ya, punya!" jawab Yaren.
"Kau hubungi saja itu, nanti biar aku yang mengurus alamatnya!" titah Ayaz.
"Ya baiklah!"
__ADS_1
Yaren pun memesan taksi online sesuai permintaan Ayaz, meski banyak sekali pertanyaan yang mengganjal tentang Ayaz dipikirannya.
Bersambung...