
"Apa yang sudah Mama lakukan?"
"Jawab!" teriak Raisa.
Harun menghubungi orang-orangnya, ia menyuruh para tamu undangan untuk segera meninggalkan acara, benar-benar memalukan, di sepanjang hidupnya hari ini adalah hari terburuk baginya.
"Raisa..."
"Raisa..."
Dandi dan Wana menyerunya bersamaan, Raisa menatap Dandi tajam, pria yang Argantara katakan adalah ayah kandungnya, mengapa sepertinya ia tidak asing dengan pria ini.
Apa pria ini pernah menemuinya semasa ia kecil dahulu?
"Aku bukan anakmu!" berangnya.
Dandi terlihat begitu terpukul, bukan inginnya meninggalkan Raisa, Wana selalu mengatakan ia tidak punya apapun yang bisa diandalkan untuk menghidupi Raisa, hingga membuatnya pelan-pelan menjadi yakin bahwa segala kasih sayang dan kesenjangan hidup akan Raisa dapatkan dari Argantara, ia lupa bahwa hubungan darah Ayah dan anak itu tidak bisa dibuang ataupun dibasuh sekalipun.
Bolehkah ia egois, selama ini tidak begitu banyak memberikan kontribusi untuk kehidupan Raisa namun dirinya malah meminta Raisa menerimanya. Bukankah rasanya mustahil!
"Whoaaa, menarik sekali!" ucap Rymi, wanita itu tampak menikmati drama rumah tangga yang terjadi di hadapannya.
"Diam! Tutup mulutmu!" Harun meneriaki Rymi, orang-orang sudah mulai sepi, hanya ada orang-orang Harun yang terlihat berjaga.
Sementara Wana, ia tidak tau harus berbuat apa? Kali ini, benar-benar akan menemui kesialan, mungkin dirinya akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi.
...***...
"Selamatkan Papa saya, Dokter! Saya mohon!" ucap Yaren memelas, ia yang didampingi Ayaz dan Jovan tampak terlihat begitu menderita.
"Sudahlah Yaren, semuanya akan baik-baik saja!" ucap Jovan. Ia tidak senang Yaren terlalu memikirkan Argantara. Ia tidak suka peduli pada seseorang yang dianggapnya sudah menghancurkan keluarganya. Balasan yang dilayangkan Ayaz kali ini, menurutnya benar-benar setimpal.
"Kakak..." lirih Yaren, ingin menyangkal apa yang Jovan katakan, namun ia pernah mendengar keluh kesah Jovan tentang Papanya itu, Jovan pernah sangat menderita, bahkan mungkin lebih menderita darinya.
Ayaz mengusap pelan punggung Yaren, "Tenangkan dirimu! Semuanya akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Ayaz... Bagaimana, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Papa!" adu Yaren.
"Tidak akan terjadi apapun!" sahut Ayaz dengan masih mengusap lembut punggung istrinya itu.
"Kau terlalu berlebihan Yaren, duduklah!" ucap Jovan tidak suka, ia melihat Yaren yang begitu panik, ia ingin protes tapi sekaligus ingin memaklumi kondisi yang terjadi saat ini.
"Kakak, bagaimana bisa..."
"Doakan yang terbaik!" potong Jovan.
Yaren mengangguk, ia kemudian menurut dan duduk, memejamkan matanya dan mendoakan Papanya yang baru saja di diagnosis terkena serangan jantung itu begitu tulus.
Hati Yaren sakit, ia tau Papanya dulu begitu pilih kasih terhadapnya, Papanya bahkan seperti sengaja membuangnya, Yaren menyadari itu, tapi entah mengapa rasanya ia tidak bisa melihat Papanya menderita seperti ini. Nyatanya, ia tidak akan sanggup.
Ayaz merasakan ponselnya bergetar, ternyata sebuah pesan dari Rymi. Wanita itu mengatakan, ia sudah mengurus Wana sebagaimana mestinya, sesuai dengan apa yang mereka rencanakan.
Ayaz memberikan kode pada Jovan, Jovan dengan malas memberikan tanggapan, namun mau bagaimana lagi, sekali lagi dirinya harus berdamai dengan iparnya itu.
Lalu Jovan permisi untuk pergi, Yaren merasakan ada sesuatu yang ganjal, namun ia tidak ingin mencurigai kakaknya sendiri.
Ayaz menggeleng, ia bersikap pura-pura tidak tau.
"Kau pasti mengetahui sesuatu?" sergah Yaren.
"Aku? Apa?" tanya balik Ayaz, ia tidak mengerti mengapa Yaren tidak bisa menanyakan langsung pada Jovan dan malah beraninya bertanya padanya. Dia kan jadi bingung harus menjawab apa.
"Iya? Kalian, Kau, Kak Jovan dan juga Rymi, kalian pasti merencanakan sesuatu?"
"Sudahlah Ayaz, mereka sudah mendapatkan karmanya, jangan mulai lagi." lanjut Yaren yang bertambah yakin bahwa suaminya itu memang punya maksud lainnya.
"Memangnya apa? Kau menuduhku?" tanya balik Ayaz lagi. Sebenarnya mengaku pun tidak apa, namun dirinya juga tidak mau semakin menyakiti hati Yaren.
"Akan kalian apakan acara tadi? Dan Raisa, bagaimana nantinya dia menghadapi kehancuran ini?"
"Aku sudah biasa direndahkan, aku sudah biasa dihina, tapi Raisa, aku tidak yakin dia bisa menghadapi kenyataan ini!"
__ADS_1
"Kau masih peduli setelah apa yang mereka lakukan padamu?"
"Ayaz, aku tidak apa, jadi tolong hentikan ini, jangan lagi melakukan apapun, aku tau kau bisa membalaskan dendam berkali-kali lipat, tapi sungguh aku benar-benar tidak apa, aku sudah ikhlas menerimanya!" mohon Yaren.
"Bukankah kau tau aku tidak akan hanya berdiam diri saja."
"Ayaz..."
"Apa kau akan meninggalkanku?" tanya Ayaz langsung. Ia dan Yaren mulai terlihat perbedaannya, mereka sebenarnya tidak sejalan jika ditilik dari pemikiran, keduanya jauh berbeda.
"Ayaz, bagaimana bisa kau menanyakan itu?"
"Jawab, karena aku sedang meragukanmu!"
"Ayaz, bukan begitu maksudku!"
"Lalu, apa kau akan terus berada dalam bayang-bayang Argantara, aku tau dia adalah Ayahmu, tapi kau juga harus menimbangnya Yaren, bagaimana dia bisa disebut sebagai seorang Ayah?"
"Aku kan sudah mengatakan aku tidak apa, aku sudah terima mungkin ini memang sudah nasibku, jalanku memang seperti ini, aku sudah ikhlas, apa lagi saat ini aku sudah bersamamu, bagiku sudah cukup... Itu saja yang aku inginkan, selamanya bisa mendampingimu, berada di dekatmu, maka sungguh aku tidak akan meminta apapun lagi." ucap Yaren lagi yang sejurus mampu membuat hati Ayaz bergetar.
"Aku tidak semurah hati itu!" lirih Ayaz. "Aku tidak suka ketidakadilan, aku ingin membebaskanmu, mengapa kau tidak mengerti?"
"Aku sudah bebas, aku sudah sangat bebas, berada di sampingmu seperti ini, sudah cukup bagiku, Ayaz... Aku hanya ingin hidup denganmu, aku bahkan bisa saja meninggalkan orang tuaku, apapun akan aku lakukan, tapi aku mohon jangan lagi melakukan apapun pada mereka, pada keluarga Papaku."
"Kau benar-benar tidak akan membalas apa yang telah mereka lakukan?" tanya Ayaz.
Yaren mengangguk pasti, "Aku janji, akan hidup denganmu saja, akan mencintaimu saja meski apapun yang terjadi nanti. Aku mohon Ayaz ,jangan lagi melakukan apapun." ucap Yaren, kata-kata itu meluncur cepat saja tanpa hambatan dari mulutnya, tanpa tau bahwa janjinya itu adalah hal yang paling berat untuk hidup Ayaz kedepannya.
"Kau akan melihat kehancuran Argantara, aku tidak ingin kau peduli lagi pada mereka, jika kau bisa berjanji untuk itu maka aku tidak akan melakukan apapun lagi untuk menambah pedihnya penderitaan mereka." ucap Ayaz.
Yaren mencerna kata-kata itu, mengapa rasanya begitu berat, benarkah dirinya harus melakukan itu, tidak akan peduli terhadap apa yang terjadi pada Papanya akibat dari pertengkaran mereka tadi, Argantara bahkan bisa dipastikan hancur di beberapa jam nantinya, apa ia akan termasuk golongan anak yang durhaka membiarkan kesakitan dialami Papanya?
Maafkan Yaren Pa...
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...