Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Semoga saja dia tidak mendengarnya.


__ADS_3

Sam baru saja kembali dari Itali, di dalam perjalanan pulang dirinya tidak sengaja menangkap sebuah berita terkini yang diunggah oleh salah satu akun sosial media, mayat yang satu minggu lalu ditemukan di sebuah jurang dengan keadaan mengenaskan serta mobil yang sudah hancur, kini hasil otopsinya sudah keluar.


Sam menganga tidak percaya kala penyebab kematian pria itu adalah keracunan.


Padahal ia menduga Rymi membunuh pria itu pastilah dengan senjata api. Meski pada keesokan harinya ia, Marco, dan Rymi membuang mayat itu di jurang dan lalu membakar mobil beserta isinya, namun Sam sungguh menyangka kalau Rymi telah membunuh pria itu terlebih dahulu dengan cara ditembak.


Ia mendengar tembakan yang cukup keras waktu itu.


"Bagaimana bisa?" gumamnya tidak percaya.


"Kan, hentikan aku di sini!" titah Sam.


"Ada apa Tuan Muda?" tanya Kan, sopir pribadi Sam.


"Menurut saja, aku ingin pergi ke suatu tempat, kau bisa pulang naik taxi dan jangan ikuti aku!" lanjut Sam.


"Baik Tuan Muda!" ucap Kan, sebagai seorang supir rasanya ia tidak pantas terlalu mengurusi majikannya.


Kan menepikan mobilnya, pria itu keluar dari mobil dan menunduk hormat pada Sam.


Sam beralih duduk di belakang kemudi, tanpa menghiraukan Kan, ia langsung saja bergegas menuju Markas Marco. Berharap bisa bertemu dengan Rymi dan menanyakan banyak hal.


...***...


Ayaz menatap kagum pada Yaren, istrinya itu bisa dengan mudah membaur dengan Marco, bahkan saat ini Yaren tengah membantu Marco berkebun sembari berbincang.


"Apa Ibu mertuaku itu sangat cantik? Apa dia mirip dengan suamiku?" tanya Yaren antusias.


Marco menatap gemas pada menantunya itu, seumur hidup ia tidak pernah menyangka bahwa dia akan memiliki anak lalu mempunyai menantu seperti ini, sungguh kadang rencana Tuhan itu siapa yang bisa mengerti.

__ADS_1


"Tidak, lihatlah, bukankah Ayaz begitu mirip dengan Pak Tua ini, Ayaz sama sekali tidak mirip dengan Ibunya, seperti hanya menumpang lahir saja." ucap Marco bercanda. Namun yang dikatakannya itu memang benar, Ayaz memang tidak mirip dengan Nindi, Ayaz adalah duplikatnya sekitar sembilan puluh persen.


"Ah ya Daddy!" Yaren sudah membiasakan diri untuk memanggil Marco Daddy, padahal Ayaz saja belum pernah terdengar memanggil Marco dengan panggilan itu. "Apa suamiku itu memang pendiam? Dia jarang sekali bicara kalau dengan orang lain!" tanya Yaren.


"Hemmm," Marco menarik napasnya dalam, perihal itu ia juga sedikit menyayangkan, "Dia biasa berbicara dengan Rym, beberapa tahun yang lalu sebelum dia mengenal Rym sejauh ini, dia juga enggan bicara lada Rym, beberapa kali Rym mengejeknya bisu, tapi karena seiringnya mereka berdua sering menjalankan misi yang sama, keduanya menjadi akrab..." Marco menatap wajah Yaren yang terlihat gurat ketidaksenangannya.


"Apa kau cemburu?" tanya Marco langsung.


"Tidak!" jawab Yaren cepat, tidak sepenuhnya berbohong namun tidak sepenuhnya juga berkata jujur, karena jika wanita, mungkin dirinya hanya iri terhadap Rymi, wanita itu seperti sangat mengenal Ayaz melebihi siapapun.


"Aku yakin Rym bukan orang yang seperti itu, aku cukup mengenalnya." ucap Marco meyakinkan.


"Aku tidak cemburu Daddy, aku hanya seperti kalah saja dengan Rymi, dia mengetahui segalanya tentang Ayaz."


Andai Yaren mengetahui bagaimana kedekatan Ayaz dan Rymi, mungkin Yaren akan lebih dari ini merasakan kecemburuannya. Rymi memang begitu dekat dengan Ayaz, bahkan sudah seperti pasangan pada umumnya sebelum Ayaz mengenal Yaren. Namun jika ditanya, keduanya sama-sama menolak dan mengatakan tidak akan mungkin mereka berhubungan lebih dari sekedar teman.


Jadi, untuk mematahkan kecurigaannya lagi, Marco berniat untuk mendekatkan Rymi dengan Samudra. Karena Marco mulai merasakan kalau putrinya itu sedikit berbeda memperlakukan Samudra, terlihat acuh namun siapa sangka di belakangnya, putrinya itu selalu peduli akan pria itu.


"Menang atau kalah itu bukan lah sesuatu yang harus diberi pengakuan, kau adalah istrinya Ayaz, sementara Rymi meski mereka tidak memiliki hubungan darah namun mereka berdua adalah Kakak dan Adik, kalau bisa segera hilangkan rasa cemburumu itu." ucap Marco.


"Kau tau, aku pernah dikhianati oleh wanita, Nindi, Ibunya Ayaz itu menghianatiku karena dia tidak memiliki kepercayaan terhadapku, dan juga kepercayaan pada dirinya sendiri."


"Dia berpikiran, aku tidak akan bisa membahagiakannya, dia mungkin terlalu takut untuk hidup denganku, jadilah dia meninggalkanku."


"Begitupun kalian berdua, kalau dalam hatimu sudah tertanam bahwa Ayaz dan Rymi memiliki kedekatan yang menurutmu melebihi kedekatan Ayaz denganmu, kau hanya akan memikirkan itu saja, tanpa kau tau bahwa pemikiranmu itu adalah juga ketidakpercayaanmu."


"Yang nantinya tanpa sadar akan membuatmu tidak percaya diri, rasa cintamu akan memudar, kau mengatakan takut kehilangannya padahal bukan, yang ada hanyalah rasa bahwa kau mengaku kalah dan kau merasa kau tidak akan mampu."


"Jadi, mulai saat ini, percayalah pada dirimu sendiri dan juga Ayaz, Ayaz sangat mencintaimu, aku bisa melihatnya."

__ADS_1


Marco menyudahi acara berkebunnya, ia menuju keran air untuk membasuh tangannya. Sementara Yaren, saat ia menoleh ke samping, matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Ayaz.


Sejak kapan dia berada di sana?


Yaren meneguk salivanya kelat, Ayaz berjarak tidak begitu jauh darinya, ia mulai menerka apakah Ayaz mendengar semua yang mereka bicarakan tadi. Yaren begitu takut Ayaz marah padanya hanya karena cemburu yang kadang memang dirinya pikir seperti tidak tepat sasaran ini.


...***...


Ayaz mendengar semua yang Yaren dan Marco bicarakan, ternyata selama ini Yaren belum juga menghilangkan rasa curiga terhadapnya dan Rymi.


Padahal baik Rymi maupun dirinya sama-sama sudah mengatakan kalau mereka tidak memiliki hubungan apapun selain kakak dan adik.


Mungkin lebih baik dirinya segera mencari tempat tinggal untuk dirinya tinggali dengan Yaren, Rymi setiap hari datang ke sini dan Ayaz juga tidak bisa mencegahnya, karena Marco dan Rymi adalah ayah dan anak. Wajar saja seorang anak mengunjugi orang tua. Apa lagi, Rymi hanya memiliki Marco sebagai tambatan, begitupun sebaliknya.


Ayaz melangkah menuju Yaren, ia sengaja bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui apapun.


"Kau sudah selesai?" tanya Ayaz.


"Iii iya!" gagap Yaren. Ia takut Ayaz mendengar apa yang tadi Marco nasihatkan padanya.


"Mengapa tangannya tidak di cuci?" tanya Ayaz lagi, ia mencoba mengurai wajah tidak senang Yaren, dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Aahh, iya, ini baru akan dicuci!" Yaren dengan menahan canggungnya mulai berjalan menuju keran air. Mencuci tangannya bersih-bersih sembari masih saja berpikir apakah Ayaz mendengar apa yang ia dan Marco bicarakan tadi.


Semoga saja dia tidak mendengarnya.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2