Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tapi di mana?


__ADS_3

“Selamat siang Pak!” sapa Rymi. Dirinya menyerahkan sebuah dokumen pada Sam yang dikenalnya sebagai Rangga.


“Apa itu?” tanya Sam.


“Ini proposal pengajuan kerja sama, tadi saat jam makan siang seseorang mengantarkan ini, tapi sayangnya Bapak tidak berada di ruangan, jadi mereka menitipkan ini pada saya!” jelas Rymi.


“Buang saja!” titah Sam.


Rymi melangkah menuju tempat sampah, tidak ingin membuat Bosnya marah dirinya menurut saja.


“Tunggu!” cegah Sam.


Langkah Rymi yang nyaris sampai terpaksa dihentikan.


“Siapa yang mengirimnya?” tanya Sam lagi, biar Rymi tebak sepertinya Bosnya itu cukup penasaran.


“Aditama Group, Pak.” Jawab Rymi.


“Apa isinya?”


“Proposal pengajuan kerja sama.” Jawab Rymi untuk yang ketiga kalinya.


“Bacakan!” perintah Sam.


Dengan kesabaran Rymi mulai membacakan isi dari dokumen tersebut hingga selesai.


“Buang saja!” ucap Sam setelah Rymi menyudahi bacaannya.


Sial, kalau cuma buat dibuang, buat apa dibacain, dasar gila!


Dengan kesal yang tertahan tangan Rymi berhasil mendaratkan dokumen itu ke dalam tong sampah. Berusaha bersikap biasa saja dengan senyum yang dipaksakan.


Rymi ingin berpamitan dengan Bosnya namun sayangnya Bosnya itu malah lagi-lagi mencegah langkahnya.


“Tunggu!”


Rymi mendongak, siap menyimak apa yang akan dibicarakan Bosnya lagi.


“Siapa namamu?” tanya Sam.


“Merve Pak!”


“Saya sudah periksa surat lamaran kamu, sebelumnya tidak pernah ada pengalaman menjadi sekretaris, mengapa kau terima saja pergantian ini?” tanya Sam seolah mulai menyelidiki.


“Saya hanya mencoba hal baru Pak, mencari pengalaman!” jawab Rymi.


“Mencari pengalaman? Di perusahaan sebesar ini, apa menurutmu lelucon?” ledek Sam.

__ADS_1


“Maaf pak!” ucap Rymi serba salah.


“Kau, siapkan aku kopi, aku tidak mau orang lain yang membuatkannya, harus kau sendiri!” titah Sam.


“Bekerja mencari pengalaman, kerjakan hal yang paling mudah saja dulu, SPG aja masih milih-milih orang yang pantas buat dipekerjakan, udah gila kali orang yang masukin dia ke sini.” gumam Sam pelan.


Rymi bergegas menuju pantri membuatkan Bosnya itu kopi. Meski dalam hatinya diselimuti kekesalan yang menjadi namun bukan Rymi namanya jika mudah menyerah.


Dasar Rangga sialan, aku bakalan bales kamu!


Rymi mulai membuat kopi di pantri, namun saat dirinya akan selesai tiba-tiba muncul ide cemerlang di kepalanya.


Mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan, dan ternyata aman tidak ada siapapun di pantri tersebut.


Rymi mulai memasukkan satu sendok penuh garam pada kopi Sam. Setelah ini, entah apapun yang terjadi, Rymi tidak peduli, baginya dirinya harus memberi Bosnya pelajaran.


Marco memang menyebalkan karena telah menempatkan dirinya pada posisi seperti ini. Jangan salahkan Rymi, biasanya hal semacam ini Ayaz lah yang akan menanggung semuanya, namun entah mengapa misi kali ini adalah jatahnya, sementara Ayaz, pria itu ditugaskan di lapangan.


Dengan senyum merekah dan begitu percaya diri Rymi berjalan menuju lift, memencet tombol enam belas, adalah lantai di mana ruangan Presdir DN Company berada.


Tok tok tok.


Rymi menetralkan wajahnya, sebisa mungkin dirinya harus bersikap sangat meyakinkan.


"Masuk!" sahut Sam dari dalam.


“Silakan diminum Pak!” ucap Rymi sembari meletakkan satu gelas kopi hitam di meja kerja.


Sam menoleh singkat, kemudian dilihatnya kopi yang sudah berada di atas meja, dan lalu melihat lagi ke arah sekretaris barunya itu.


“Kenapa kopi hitam?” tanya Sam seperti kecewa.


“Maaf, apakah Bapak mau kopi yang lain?” tanya Rymi masih dengan nada yang sangat ramah.


“Ganti, atau untukmu saja, cepat buatkan aku kopi susu, kerja begini saja tidak becus, seharusnya kau tanya terlebih dahulu aku maunya kopi seperti apa!” tegas Sam.


“Baik Pak!”


Rymi membawa lagi kopi itu kembali ke pantri. Rasa dongkol menyeruak saat dirinya sudah keluar dari ruangan bosnya.


Sungguh sia-sia niatan buruk untuk mengerjai Bosnya itu.


...***...


“Aku sudah mengirimkannya, tinggal menunggu informasi dari Rymi saja.” ucap Ayaz. Saat ini dirinya sedang berada di Markas bersama Marco.


“Aku dengar, keluargamu meninggalkan satu perusahaan besar di Negara ini. Raihan mengatakan itu, namun sayangnya nama perusahaannya itu tidak bisa terdeteksi. Kau pernah dengar nama Alba, NN Farma?” tanya Marco.

__ADS_1


“Ya, ku rasa dulu pernah, mereka badan usaha yang bergerak di bidang pengembangan, pengelola dan perdagangan obat-obatan untuk produk-produk kesehatan.” Sahut Ayaz setahunya.


“Hanya itu yang Raihan temukan!”


“Maksudnya?”


“Jalan buntu lagi!” ucap Marco seolah pasrah.


“Jika aku pergi ke Itali nanti, apa menurutmu perjalananku akan mudah?” tanya Ayaz, pria itu sedikit meragu untuk melancarkan niatnya.  


“Akan aku kerahkan orang-orang Raihan, dan akan aku minta Raihan sendiri yang akan menemanimu selama di Itali, ku harap dia bisa membantu.”


“Terimakasih, semoga misi kita di sini cepat selesai.” Tutur Ayaz.


“Yah kau benar!”


“Aku akan pulang sebentar untuk beristirahat, besok pagi aku akan ke sini lagi, menuntaskan pekerjaan!” ucap Ayaz.


“Yah, silakan!”


Ayaz bangkit, dirinya akan pulang ke rumah untuk mengistirahatkan otaknya, “Apa kau yakin Rymi bisa melakukannya?” tanya Ayaz, pemuda itu berbalik badan menatap wajah Marco lagi.


“Dia bisa diandalkan, besok pagi kau lihat saja kinerjanya, jika tidak meyakinkan kita bisa ubah ke rencana B!” jawab Marco.


“Hemmm, aku hanya takut Rymi salah langkah!” Ayaz mengkhawatirkan Rymi, Rymi bukanlah orang yang penyabar, sementara orang yang posisinya sangat dekat dengan target haruslah mempunyai tingkat kesabaran yang luar biasa.


“Apa dia menghubungimu baru ini?” tanya Marco.


“Tidak!”


“Dia bisa menyelesaikannya, berarti tidak ada masalah, nanti aku akan pergi ke rumahnya, menanyai bagaimana pekerjaannya hari ini?”


“Rangga Donulai! Rym bilang, presdir DN Company itu masih sangat muda, tidak seperti orang Itali pada umumnya, wajahnya lebih ke bangsa kita, entahlah nanti aku juga akan menghubungi Rymi setelah sampai di rumah.” ucap Ayaz.


“Ya, terserah kau saja!”


Ayaz bergegas pulang ke rumah, wajah Yaren bagai sudah ada di ambang matanya, entahlah karena apa, khawatir atau mungkin hal yang tidak masuk akal lainnya seperti ‘Rindu’. Aisshhh, apa iya Ayaz merindukan Yaren?


Kali ini Ayaz membawa mobil, karena dirinya juga ingin mampir ke supermarket terlebih dahulu, membeli segala kebutuhan untuk dirinya tinggal di rumah. Terlebih ada Yaren yang saat ini sedang ditanggungnya.


Sesampainya di supermarket, Ayaz mulai mengambil segala yang diperlukan, dirinya bergerak cepat, meski dengan memakai atribut lengkap seperti topi dan masker hitam, tapi tetap saja Ayaz tidak bisa berlama-lama dalam tempat keramaian seperti ini.


“Yang ini bagus deh sayang!” ucap seorang wanita dengan nada manja. Hal semacam itu sukses membuat Ayaz menjadi geli mendengarnya.


Dilihatnya ke arah belakang, sepasang anak manusia dengan tidak tau malunya malah bersikap mesra di tempat umum seperti ini. Namun, mata Ayaz sedikit meneliti, bukankah Ayaz sekilas pernah melihat wanita itu sebelumnya. Tapi di mana?


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2