Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tawaran Marco.


__ADS_3

"Yaren, ini aku..." Ayaz langsung saja merengkuh tubuh istrinya, membawanya ke dalam dekapan, mengusap rambut dan punggungnya, berharap Yaren akan segera tenang.


"Dia... Dia, akan menyakitiku." lirih Yaren. Nampaknya wanita itu memang sedang dilanda ketakutan yang sangat.


"Tidak Yaren, aku tidak akan menyakitimu." sahut Ayaz, kalau ia tau dirinya akan mencintai Yaren seperti ini, tidak akan dirinya pernah memperlakukan Yaren dengan buruk.


"Dia, hanya akan menjadikan aku budak nafsunya."


"Tidak Yaren, sadarlah... Aku tidak akan begitu, aku sudah berubah..." Ayaz masih memeluk Yaren erat, terbesit penyesalan saat melihat Yaren seperti itu. Mungkinkah Yaren mengalami trauma? Pikirnya.


"Tidak apa sayang, ada aku, aku akan memperlakukanmu dengan baik mulai saat ini, aku tidak akan menyia-nyiakanmu..." ucap Ayaz, melonggarkan pelukannya, menatap lagi wajah yang nampak masih ketakutan itu.


"Kau bisa mempercayai aku, saat itu aku melalukan kesalahan... maafkan aku Yaren." ucap Ayaz, berbisik lembut, menatap wajah Yaren lekat, tangannya memegang kedua pipi istrinya, lalu dengan lembut juga ia kecup bibir mungil itu.


Yaren, wanita itu terus menangis sesegukkan, nyatanya suara Ayaz yang menenangkannya pun tidak bisa membuatnya tersadar. Hingga, ia baru bisa berhenti kala matanya kembali terpejam, Ayaz mengusap sisa air mata itu dan mengecup kedua mata Yaren. Dalam hati, pria itu tak henti-hentinya meminta maaf karena telah menjadikan Yaren ketakutan seperti itu. Ya, Ayaz sebenarnya mulai menyadari, bahwa apa yang dialami Yaren tadi adalah murni karenanya, ialah penyebabnya.


"Kau harus bahagia Yaren, mulai saat ini hanya akan ada kebahagiaan saat kau bersamaku." lirih Ayaz, kemudian membawa Yaren berbaring, wajah yang sedang tertidur itu sungguh seperti memiliki beban yang cukup berat sebanyak yang Ayaz lihat.


...***...


"Ada apa?" tanya Ayaz, pagi ini ia kembali menemui Marco, Rymi memberinya pesan singkat tadi subuh.


"Kau berkata seperti tidak lagi mengenalku, padahal kau pernah menambah piring kotor di rumahku." sindir Marco.


"Jika ini tentang Donulai, aku tidak bersedia." ucap Ayaz, sungguh jika Marco lagi-lagi memaksanya untuk membunuh Sam, Ayaz terang menolak. Katakanlah ia seorang pengecut, namun bagi Ayaz ia tidak bisa meneruskan misi itu jika membawa Sam dalam bahaya.


"Saat kau keluar dari orangku, kau adalah orang yang paling banyak tau tentang bagaimana aku bertindak."


"Aku akan melupakan itu, aku akan mengabaikannya." sahut Ayaz.


"Meski kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, kau akan tetap diam dan seolah tidak mengetahui apapun?" tanya Marco lagi.


"Kau mengetahuinya, tapi kau akan bersikap itu bukan urusanmu?"


"Lakukan apapun, tapi jangan pernah kau sentuh Samudra!" ucap Ayaz mengingatkan.


"Baiklah, lagipula Rangga adalah anak angkat Tuan Donulai, pengaruhnya tidak begitu penting."


"Apa yang kau inginkan?" tanya Ayaz langsung, entah kenapa saat ini dia tidak bisa lagi begitu banyak melayangkan candaan saat berbicara dengan Marco.


"Kau tampak terburu-buru?" Marco menghela napasnya berat, "Sama seperti kau yang begitu banyak mengetahui tentangku, aku juga... Tak kalah dalam hal itu."


"Aku ingin memberikanmu satu kesempatan lagi." ucap Marco.

__ADS_1


Ayaz menoleh ke arah lawan bicaranya, "Aku bisa melihat keputusasaan di wajahmu." sindir Ayaz menatap remeh Marco.


"Aku bahkan bisa membunuhmu jika aku mau." pekik Marco garang, dia sungguh tidak terima dipandang rendah oleh Ayaz.


"Lucu sekali, kau yang ingin mengajakku bertemu, kau yang meminta, namun kau juga yang marah."


"Aku tidak akan merendahkan diriku seperti ini kalau bukan karena Rym." sahut Marco. Yah, memang benar, semua yang dirinya lakukan, beradanya ia di samping Ayaz pagi ini adalah karena Rymi, putri angkatnya itu.


"Lalu, bagaimana kau bisa menganggap Rangga Donulai adalah orang yang tidak terlalu penting, dengan alasan hanyalah anak angkat?" sindir Ayaz lagi, membalikkan apa yang tadi sempat Marco ucapkan.


"Bukankah jika kau ingin menghancurkan Donulai, kau harus menggenggam apapun meski itu hanya sepotong jarinya."


"Dari manapun kau memasuki kesempatan itu, Samudra tetap saja harus terlibat."


"Ada yang lebih penting dari seorang anak angkat." ucap Marco, ia memandang Ayaz dengan tatapan nyalang.


"Aku sudah tau, jangan terlalu berharap, karena sebuah harapan adalah pembunuh yang begitu kejam." sahut Ayaz.


"Aku akan memberikanmu pilihan, Samudra atau Kau?" ucap Marco.


Semalam ia memikirkan segala cara untuk membawa Ayaz kembali padanya, dan nampaknya ia berhasil.


"Itu hanya akan sia-sia Tuan!" Ayaz, membalikkan badannya, berniat untuk pergi, ia sungguh tidak tertarik. Lagi pula, kemarin ia sudah membuat kesepakatan dengan orang lain.


"Rokok?" tawarnya pada Ayaz.


Ayaz menghela napasnya, mendengar nama Donulai sungguh membuatnya muak.


"Donulai punya kekuasaan, nama, dan itu adalah sesuatu yang kita butuhkan!" ucap Marco.


"Kau, bukan kita!" koreksi Ayaz.


"Aku tidak peduli!" acuh Marco.


"Kau menjadi lebih pemaksa." sindir Ayaz.


"Kau butuh kekuasaan untuk membalaskan dendam pada Ayah tirimu, dan aku butuh kekayaan untuk menjamin hidupku." ujar Marco.


Ayaz sedikit menyesal, meski ia sedikit banyaknya sudah mengerti apa yang dimaksudkan Marco, namun ia cukup kecewa karena Marco belum juga berubah, segalanya hanya seputar uang belaka.


Yah, memangnya ada alasan apa selain uang, kekayaan, untuk kau menyerterku kembali?


"Kau jangan salah paham, aku memutuskan untuk membantumu karena aku pernah berjanji padamu." ucap Marco.

__ADS_1


"Ah ya? Menurutmu, di sini siapa yang mengajak bertemu untuk meminta bantuan?" tanya Ayaz.


Hening,


Hening,


Hening,


Yah Marco baru ingat, bukankah di sini ia lah yang mengajak Ayaz bertemu.


"Kadang bercanda itu diperlukan saat kita sudah akan menua." ucap Marco, meski ia seperti tidak ikhlas mengatakan itu.


"Yah, riset membuktikan." sahut Ayaz.


"Aku bisa dipercaya, aku tidak akan menyentuh Samudra! Hanya saja, Rym mungkin akan memanfaatkannya sedikit." ucap Marco.


"Jangan kau libatkan Rym ataupun Samudra." tentang Ayaz. Pria itu menatap garang Marco.


"Lalu, aku harus melibatkan siapa bodoh? Hehhh, kau terlalu perasa semenjak menikah." sindir Marco.


"Kau bahkan sudah berani menatapku seperti itu, kau pikir aku takut padamu, kau tampaknya sudah melupakan bagaimana otot-ototmu itu terbentuk?"


"Kekuasaan, juga bisa membeli kasus Ali Yarkan, bukankah hal seperti itu lumrah saja dilakukan oleh seorang bajingan."


"Aku bisa menyelesaikannya sendiri?" tolak Ayaz, ia tidak bisa menyakiti Sam ataupun Rymi, keduanya sama berarti, baginya baik fisik ataupun hati tidak ada yang harus menanggung kesakitan.


"Kau keras kepala Ayaz, ini adalah tawaran terakhirku, kau bisa mempertimbangkannya jika kau setuju." ucap Marco.


Ayaz diam, sebenarnya rasa dendam pada Donulai itu ada, terlebih untuk Sian, Ayah tirinya, namun Ayaz merasa ia bisa melakukannya sendiri, yah sendiri tanpa bantuan Marco.


"Donulai, bukan hanya tentang kekuasaan, bukankah ada hal yang masih harus kau ketahui?" bisik Marco seolah menahan Ayaz untuk pergi.


"Aku tidak berharap akan berhubungan baik tentang Donulai." tolak Ayaz lagi dan lagi.


"Bukanlah kau juga harus mengetahui siapa Ayah kandungmu? Ku kira, hanya Donulai satu-satunya petunjuk untuk kau mengetahuinya."


"Apa kau, tidak berniat untuk membunuh Ayah kandungmu?" tanya Marco berbisik. Yah tawaran yang sempurna, tembakan kali ini Marco yakin sekali, Ayaz akan setuju untuk kembali bergabung di rencananya.


"Hahahahaha!"


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2