
"Jadi, Marco itu Ayahnya Merve?" tanya Sam. Keduanya sedang menuju klub malam tempat Rymi mabuk semalam, mobil Rymi masih terparkir di sana dan Ayaz hendak mengurusnya.
"Iya, kenapa?" tanya Ayaz.
"Dalam mabuknya Merve berkata Marco sialan, dia terus mengumpat, dan aku baru tau dia mengumpati ayahnya sendiri." Sam menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kau tidak usah heran, hubungan mereka memang terbilang santai, meski status keduanya adalah ayah dan anak tapi Merve memang sudah terbiasa seperti itu pada Daddynya. Dan Tuan Marco juga tidak mempermasalahkan itu." jelas Ayaz.
"Dan juga, apa lagi yang Merve katakan saat mabuk semalam?" tanya Ayaz, dia harus menyelidiki ini, jangan sampai Rymi mengatakan hal diluar batasan mereka.
"Emm, dia juga mengatakan kalau Marco memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkannya." adu Sam.
"Lainnya?" tanya Ayaz lagi.
"Katanya, dia ingin sekali lepas dari Marco tapi Merve juga sangat menyayanginya. Setelah mengetahui Marco adalah Ayahnya, aku bisa mengerti mungkin mereka tengah memerankan konflik rumah tangga, hal itu biasa saja terjadi antara anak dan orang tua." ucap Sam.
Ayaz sedikit lega mendengar penjelasan Sam, itu berarti Rymi masih bisa menjaga rahasia di antara mereka.
"Sudah sampai." ucap Sam.
Ayaz mengedarkan pandangannya, klub malam ini sudah lama sekali dirinya tidak mengunjugi tempat laknat ini, semenjak kasus Ali Yarkan yang menyeret perhatian publik, Ayaz seolah membatasi dirinya berkeliaran.
"Kau boleh pergi, aku akan mengurus ini." ucap Ayaz.
Sam mengangguk, dilihatnya Ayaz keluar dari mobilnya menuju mobil wanita yang ditaksirnya itu.
"Ayaz..." serunya saat Ayaz sudah memasuki mobil.
"Ya."
"Apa Merve tipe wanita yang pendendam?" tanya Sam.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin tau."
"Aku rasa tidak, tapi waspada saja." jawab Ayaz.
__ADS_1
Sam tersenyum kecut, apa Merve akan berhenti dari pekerjaan mengingat ia yang sudah pernah tidur dengan wanita itu? Pikirnya. Dan apa-apaan wanita itu mengatakan dan menyuruhnya untuk melupakan segala yang terjadi. Dirinya masih begitu terbayang lekuk tubuh wanita itu, bagaimana bisa begitu saja melupakan.
...***...
"Aku harus sempurna untuk menghadiri undangan besok malam, carikan pakaian baru yang terbaik untukku." titah Sian, dia harus mempersiapkan penampilannya untuk menghadiri undangan makan malam DN Company.
"Akan kubuat perusahaan itu bekerja sama denganku, siapa yang akan menolak, heh kita lihat saja." gumamnya.
Sian menatap pantulan gambar dirinya di kaca, rambut pria itu sudah sedikit memutih, namun aura tegas seorang pemimpin masih lekat saja di wajahnya.
"Semakin cepat anak itu muncul, maka akan semakin mudah pekerjaanku." Sian bergumam, tangannya mengepal, karena Ayaz yang belum juga bisa dirinya temukan, maka harta Nindi belum juga bisa dirinya kuasai.
Perusahaan orang tua Nindi pun, satu tahun kemarin aset keluarga mantan istrinya itu hilang lenyap tiada bersisa. Sian pernah mengurus ini, namun sayangnya entah mengapa orang kepercayaannya bahkan menemui jalan buntu.
"Jika aku bisa bekerja sama dan menanamkan saham di perusahaan besar itu, aku hanya perlu membunuh Ayaz, tidak peduli akan hartanya."
"Sepertinya, anda terlalu percaya diri Tuan." sindir seseorang.
Sian menoleh, tampaklah pria muda namun jika dilihat dari wajahnya, pria itu pastilah bukan orang sembarangan.
"Siapa kau?" tanya Sian sembari menampilkan wajah tidak bersahabatnya.
"Ya, memangnya siapa lagi, orang yang telah berani bicara padaku, anda sungguh tidak sopan, menyahut pembicaraan orang lain, sungguh miris." sindir Sian.
"Saya hanya merasa lucu saja, melihat Tuan yang sepertinya sangat percaya diri bergaya di hadapan cermin."
"Kau!"
"Jovan!" ucap pria itu. Yah pria itu adalah Jovan, dirinya cukup tergelitik kala mendengar penuturan pria tua di dekatnya ini yang seolah begitu percaya diri bisa menguasai harta orang lain.
"Jovan?" tanya balik Sian, sepertinya ia pernah mendengar nama itu, cukup familiar dan Sian sedang berusaha mengingatnya.
"Senang bertemu dengan anda Tuan, anda sungguh mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, yah meski harus saya akui, anda memang masih cukup tampan dan berwibawa di usia sekarang ini." sindir Jovan berdusta.
"Ah, kau bisa saja." Sian tersenyum ramah, ia mulai berpikir, mungkinkah pria ini tidak mendengar apa yang dirinya gumamkan tadi, pria ini hanya melihat tingkah konyolnya saja yang bergaya di depan kaca.
"Kau, Jovan dari Arian Group?" tanya Sian antusias kala ia sudah bisa mengingat siapa yang tengah berbicara padanya kali ini.
__ADS_1
Jovan mencoba tersenyum ramah, lalu pria itu mengangguk membenarkan.
"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini." rona wajah penjilat bisa langsung Jovan lihat terpampang di wajah Sian, kalau bukan sebab dirinya yang sudah bekerja sama dengan seseorang mungkin dirinya tidak akan mengakrabkan diri dengan pria tua ini.
"Tuan Sian, ini setelan yang anda minta." ucap salah satu pegawai butik tersebut, memberikan satu set pakaian berwarna putih lengkap dengan tuxedo senada.
"Ah, iya! Letakkan saja di sini, aku akan mencobanya." sahut Sian.
Jovan memainkan ponselnya, sungguh membosankan harus menjadi mata-mata seperti ini, padahal dirinya adalah seorang Bos di perusahaannya, namun bisa-bisanya ia tunduk dan mau-maunya menjalankan perintah seperti bawahan saja kali ini.
"Apa kau, juga dapat undangan untuk makan malam dari DN Company?" tanya Sian mencoba berbasa-basi, lagi pula ia yakin sekali kalau perusahaan ternama yang dipimpin oleh pria di dekatnya ini pastilah akan menjadi salah satu tamu penting di acara besok malam.
"Menurut anda?" tanya balik Jovan.
Sian sedikit bingung untuk menjawab, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sayangnya tidak." aku Jovan, yah dirinya jujur saja, ia memang tidak mendapatkan undangan itu. Karena DN Company termasuk perusahaan baru yang bergerak di bidang kesehatan, Jovan rasa mungkin ada sesuatu dibalik itu semua sehingga perusahaan ternama seperti dirinya bisa-bisanya tidak diundang.
"Apa? Kau serius?" tanya Sian lagi. Ia sungguh tidak percaya, bukankah itu berarti perusahaanya adalah salah satu yang beruntung memiliki kesempatan seperti itu.
"Apa Tuan berharap saya bercanda." ucap Jovan ramah.
"Bagaimanapun, sepertinya tidak mungkin." ucap ragu Sian.
"Dalam bisnis, apapun bisa saja terjadi Tuan, termasuk memutar roda dalam sekejap." ucap Jovan, ia menatap Sian penuh arti.
"Yah, yah kau benar, tapi entahlah mungkin kali ini perusahaanku sedang beruntung." ucap Sian lagi percaya diri.
Heh, terlalu sombong! Keberuntungan dan petaka dalam sebuah bisnis perbedaannya hanyalah setipis benang. Aku tidak mengerti permainan Donulai, namun bisa kupastikan kali ini kau mendapatkan lawan yang tepat.
"Mungkin saja Tuan, tetap optimis dan selalu percaya diri, saya masih salut dengan betapa percaya dirinya anda." ucap Jovan lagi memuji.
"Kau, jangan terlalu berlebihan, bukan apa-apa, kadang percaya diri itu memang perlu kan."
"Hahaha, yah benar Tuan, benar... Saya setuju." tawa Jovan menggelegar, dalam hatinya begitu muak dengan tingkah pria tua itu.
Percaya diri yang memang diperlukan, dasar menggelikan...
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...