
"Dokter Diana!" sapa Ketua penyidik saat datang di ruangan dokter Diana.
"Ah, Pak Januar! Silakan duduk!" sapa balik Dokter Diana, ia segera menyalami ketua penyidik itu.
"Bagaimana?" tanya ketua penyidik itu langsung. Dia tidak memiliki banyak waktu, namun pertemuan dengan Dokter Diana ini juga sangat penting.
"Begini!" Dokter Diana memberikan sebuah map yang berisikan hasil otopsi jasad Sian, dia mempersilakan Ketua penyidik itu membacanya sendiri terlebih dahulu.
Ketua penyidik pun menerimanya, ia membuka map itu dan mulai membaca hasilnya.
Kepalanya mengangguk teratur kala melihat hasil itu, memang sesuai dugaannya dan juga sesuai apa yang dilaporkan para penjaga di kediaman Huculak.
"Dibunuh! Di siksa terlebih dahulu sebelum dibunuh!" ucap Ketua penyidik.
Dokter Diana mengangguk, "Semoga hasil ini bisa lebih memudahkan anda untuk menangani kasus tersebut!" ucapnya kemudian.
"Baiklah, saya akan membawa ini ke kantor, mengenai jasad Tuan Sian, anda bisa menghubungi Nyonya Amla terlebih dahulu, nanti saya juga akan membicarakan hal ini pada Nyonya Amla."
"Dan yah, satu lagi!" ketua penyidik itu mengeluarkan sesuatu dari paperbag yang dibawanya, "Apa kau bisa mencari tahu apa ini?" tanyanya saat memberikan sebuah sampel.
"Apa ini?"
"Kami menemukan cairan ini pada sebuah botol yang berada di kamar nyonya Amla, kami rasa cukup mencurigakan!" tuturnya.
"Tunggu sebentar!" Dokter Diana membuka sampel itu dan membauinya, bau yang cukup asing namun masih bisa terdeteksi olehnya.
__ADS_1
"Saya mengenal bau ini, tapi... Untuk lebih akuratnya, apa anda bisa menunggu sebentar, ini tidak akan sampai lima belas menit, saya akan mencari tahu kebenarannya!" ucap Dokter Diana.
"Baiklah!"
Dokter Diana segera menuju laboratorium kecil yang berada tak jauh dari meja kerjanya itu, kemudian dengan keahliannya ia langsung saja meneliti sampel tersebut.
Lima belas menit berlalu, dan hasilnya memang sudah keluar, Dokter Diana mengangguk paham, nyatanya kasus ini benar-benar saling bersangkutan pikirnya.
"Pak Januar!" panggil Dokter Diana.
"Ya! Bagaimana hasilnya?"
"Ini racun!" jawab Dokter Diana.
"Tepat seperti dugaan!" gumam Ketua penyidik.
"Apa?"
"Benar! Kasus ini saya rasa memang saling bersangkutan!"
"Kematian salah satu pengawal dan kematian Tuannya, seperti saling berangkutan!" ucap Dokter Diana.
"Bahkan bisa jadi, dilakukan oleh orang yang sama!" sambung Ketua penyidik.
"Saya harus segera kembali ke kantor, dan menemui Nyonya Amla untuk dimintai keterangan!"
__ADS_1
"Saya permisi!" pamit ketua penyidik.
"Baiklah!" ucap Dokter Diana sembari mengangguk, dalam pemikirannya dia juga tidak pernah menyangka kalau ternyata Amla-lah dalang dibalik semua yang terjadi.
...***...
Ayaz sedang menikmati latte-nya sembari menonton televisi, namanya sedang ramai diperbincangkan, nyatanya mudah sekali untuk menghancurkan hidupnya.
"Aisshhh, dan aku hanya akan berdiam diri di sini, bersembunyi! Ini gila, hei bedebah sialan! Aku ini tidak pernah takut akan apapun!"
"Lagi pula, mengapa gerak mereka lamban sekali, bukankah aku tidak pernah mematikan ponselku? sepertinya aku memang harus menampakkan diri!" Ayaz menggerutu karena dinilainya ia yang sudah begitu lama menunggu, padahal ia saja baru pindah ke apartemen pinggiran kota itu belum sampai dua puluh empat jam.
Lalu, Ayaz keluar dari unitnya, ia ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar gedung apartemen itu tanpa memakai masker, namun ia sengaja menampilkan gerak-gerik mencurigakan.
Sesekali bagai tidak sengaja menabrak orang lain, hal itu dirinya lakukan supaya orang mengetahui keberadaannya, karena saat ini dirinya memang tengah menjadi buron.
"Brakkk..."
"Maaf!" ucap Ayaz dingin, menampakkan wajahnya sedikit, kemudian berlalu.
Orang yang ditabraknya itu mendongak, lalu terkejut saat melihat siapa yang baru saja bertabrakan dengannya itu.
"Bukankah itu..."
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
... ...