Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Sam, bagaimana mungkin?


__ADS_3

“Ayah...” ucap Sam tidak percaya. Lagi dan lagi dirinya harus terjebak dalam kondisi serba salah seperti ini. Seujung kuku pun Sam enggan melukai Ayaz.


“Kau masih mengasihaninya, setelah apa yang telah dirinya ucapkan, anak ini berani-beraninya menantangku!”


“Ayah, Ayaz, mari kita bicarakan ini baik-baik, kalian adalah dua orang yang saling mencari, saat sudah bertemu begini bisakah kalian bertanya mengenai satu sama lainnya, saling bertukar cerita, cobalah saling mengenal lalu memahami, Ayaz, Ayah... Ini hanya kesalahpahaman, aku tidak mau ada kebencian.” Lirih Sam. Bagaimana pun dirinya tidak cukup gentle untuk memihak salah tau dari keduanya. Keduanya bagi Sam sama-sama penting, sama-sama memiliki tempat tersendiri di hati Sam.


“Anak kurang ajar ini, sama sekali tidak punya rasa hormat, Sam... hadapi dia!” titah Tuan Donulai lagi.


Sam menghela napasnya berat, pria itu menatap Ayah angkatnya dan Ayaz bergantian, terus saja begitu selang beberapa menit lamanya.


“Aku tidak bisa Yah!” lirih Sam lagi seolah begitu berat memutuskan sesuatu.


Ayaz tersenyum smirk, bukan maksudnya menghadapkan Sam pada sebuah dilema, namun jika Sam bisa berpikir jernih dan tidak mengedepankan sebuah status tentulah Ayaz sudah bisa menebak Sam akan berpihak pada siapa.


“Kau!”


“Aku adalah saksi perjuangannya bertahan hidup, bahkan kau pun mengetahui itu karena aku juga sudah menceritakan semuanya padamu saat kau menangkapku tiga tahun lalu.” Sam mulai mendekat pada Ayaz, membuat Tuan Donulai memundurkan posisinya. Dirinya tidak percaya, apakah anak angkatnya akan mengkhianatinya?


“Ayah, tolong mengertilah Ayaz, Ayaz begini juga karena keluarga Ibunya, maafkan aku Ayah, tapi saat dulu mungkin kami terlalu banyak berbagi keluh kesah, sehingga saat aku mengabaikannya, terselip rasa sakit yang tak terhingga.”


“Kau, kau pikir kau siapa?” berang Tuan Donulai menatap tajam Ayaz.


“Aku masih orang yang sama, jika Ayah masih menganggapku seorang anak angkat, maka aku akan tetap menjadi anak angkat Ayah.” Lirih Sam lagi, seolah ada sesak saat dirinya mengatakan itu.

__ADS_1


Tiga tahun yang lalu, dirinya tidak bisa terima saat ia dibawa secara paksa ke negara yang sungguh begitu jauh dari negaranya, Italia! Sungguh seumur hidup dengan menabung seluruh gajinya pun, Sam tidak pernah berpikiran akan menginjakkan kaki ke Negara itu.


Tiga tahun yang lalu, saat mengenal Tuan Donulai, yang menyangka dirinya adalah anak dari Nona Nindi Rowans cucu satu-satunya Keluarga Donulai, Sam yang awalnya begitu ingin lolos dari semua kehidupan orang kaya itu malah dengan sudi mengabdikan diri, Sam mulai bisa berpikir jernih. Donulai adalah satu-satunya harapan untuk dirinya bisa menyelamatkan Ayaz. Hingga Sam dengan suka rela mengikuti apapun kemauan Tuan Donulai.


Belajar bisnis, meski dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak, semua itu dirinya lakukan semata-mata untuk Ayaz.


Bisakah kau bertahan sedikit lagi Ayaz, aku tidak akan membiarkanmu mati dalam kehancuran. Benar katamu, aku mendukung penuh keinginanmu, aku akan membantumu membalaskan dendam, tunggu aku... Tunggu sebentar lagi, akan ada kehancuran Sian yang begitu memilukan, perlu untuk kita saksikan.


Saat itu, tiga tahun lalu, begitulah dirinya berjanji dalam hati, tujuan pertamanya bergabung dengan keluarga Donulai adalah karena Ayaz. Sam menginginkan kehidupan yang layak untuk Ayaz. Sam menginginkan keadilan untuk Ayaz, dan tidak mungkin jika dirinya harus berusaha seorang diri, tanpa gelar, minim pengetahuan, hanya ada amarah yang akan dirinya bawa jika berhadapan dengan Sian, hal yang baginya mungkin akan menjadi sia-sia saat mencoba membalas dendam.


Namun seiring waktu berlalu, Tuan Donulai menyayangi Sam, melihat kegigihan Sam, Tuan Donulai yang memang tidak pernah menikah dan mempunyai anak itu secara resmi mengumumkan bahwa Samudra Rangga adalah anak angkatnya, saat itu juga nama belakang Donulai tersemat di nama pemberian orang tua Sam itu. Namanya bertambah menjadi Samudra Rangga Donulai.


Mengartikan bahwa, Sam adalah benar-benar anggota keluarga Donulai.


“Tau dan jaga batasanmu!” berang Tuan Donulai tidak tertahankan.


“Masuk ke kamarmu!” titah Tuan Donulai pada Sam.


“Ayah...”


“Masuk ke kamarmu, atau tinggalkan kami!” bentak Tuan Donulai garang.


“Ayah!”

__ADS_1


“Samudra Rangga Donulai!” pekik Tuan Donulai, dirinya tidak suka dibantah, jangan sampai dirinya habis kesabaran dan mengucapkan apa yang tidak ingin dirinya ucapkan pada Sam anaknya.


Sementara Ayaz, pria itu mematung mendengar nama yang baru saja di sebut. Samudra Rangga Donulai! Rangga Donulai, itu berarti presdir DN Company adalah Sam, seseorang yang sedang menjadi target pembunuhannya adalah Sam. Tidak mungkin! Ayaz menunduk dalam, dirinya enggan melihat wajah Sam.


Mengapa kisah hidupnya ini begitu rumit? Sian, seorang pria yang dikiranya adalah seorang Ayah baginya namun nyatanya tidak, pria itu bukanlah ayah kandungnya, sebuah kenyataan membuatnya harus menanggung derita bersama sang Ibunda. Lalu, siapa yang menghamili Ibunya, siapa Ayah kandungnya?


Keluarga Ibunya tidak pernah sekalipun mengunjunginya selama di rumah Sian, setiap hari dirinya berdoa untuk sebuah harapan agar bisa dipertemukan dengan keluarga Ibunya, lalu dia akan meminta untuk segera diselamatkan, Ayaz sungguh tidak tahan hidup dalam derita dan penyiksaan yang dilakukan Sian. Namun sekian lama, sampai dirinya beranjak dewasa, sayangnya keluarga Ibunya tidak mempunyai titik ternag bagai hilang ditelan bumi.


Pun kali ini Sam, satu-satunya orang yang bisa diajaknya berbagi keluh kesah, kini dirinya bisa menjumpai sahabatnya itu setelah menghilang tiga tahun lamanya, lalu... Apa dunia selalu saja menjadikannya bahan candaan? Membunuh Sam, membunuh Presdir DN Company adalah Tugas yang Marco berikan padanya.


Bunuh, namun sebelum itu rampok aset mereka, tanpa sisa.


Setidaknya, itu yang dirinya ingat saat Marco memberikannya perintah, sebuah misi yang sayangnya sudah dirinya setujui.


“Apa anda sudah selesai Tuan?” tanya Ayaz pada Tuan Donulai saat Sam sudah pergi.


“Kau akan tunduk padaku!” geram Tuan Donulai.


“Berusahalah Tuan, aku tidak akan menghalangimu! Hahahaha...” tantang Ayaz dengan gelak tawa yang tak terhindarkan.


Kemudian pria itu berbalik ingin meninggalkan Tuan Donulai. Penguntitan hari ini berujung sebuah perkara besar, Ayaz tidak lagi memikirkan keluarga Ibunya, yang dirinya pikirkan hanyalah Sam, bagaimana dirinya menjelaskan pada Marco bahwa dirinya harus segera berhenti, dan kalau bisa jangan pernah melanjutkan misi ini.


“Sam, bagaimana mungkin aku harus membunuh Sam, tidak... tidak akan pernah aku lakukan!” gumam Ayaz mulai frustasi.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2