
"Kau sudah berani yaaa?" tantang Ayaz.
"Kau membangunkanku!"
"Aaa... Ayaz!" Yaren benar-benar gugup, ia melihat mata Ayaz yang menatapnya, itu benar-benar mendebarkan.
Ayaz semakin mendekatkan wajahnya, matanya menatap lekat mata yang tampak begitu menarik baginya itu, perlahan bibir itu pun dikecupnya, dengan rasa manis yang sama Ayaz benar-benar menikmati candunya.
Perlahan kecupan itu berubah menjadi *******, yang awalnya begitu lembut kini Ayaz malah lebih memperdalam ciumannya. Tangannya pun tak tinggal diam, dengan lincah mulai menyusup ke dalam piyama berwarna biru terang milik Yaren, meremas sepasang bukit kembar Yaren bergantian.
"Hemmtt..." Yaren yang tidak siap selalu saja hampir kehabisan napas.
Ayaz melepaskan ciumannya, ia menatap gemas istrinya yang tampak berantakan karena ulahnya itu. Kemudian dikecupnya lagi dan lagi bibir tipis yang selalu menggoda iman ceteknya, "Kau benar-benar sudah berani ternyata!" ucap Ayaz lagi.
"Aayyaz, aku tidak mengerti?" tanya Yaren, ia benar-benar tidak mengerti apa maksud Ayaz.
"Kau menggodaku Yaren." jelas Ayaz.
"Menggoda? Menggoda apa?" tanya Yaren lagi, perasaan dirinya tidak ada niatan untuk menggoda.
"Ahh bukan bukan, sebenarnya kau selalu menggoda!" tambah Ayaz.
Wajah Yaren memerah saat mendengar itu, apakah itu adalah sebuah pujian, Yaren tersipu. Bibirnya berusaha untuk menahan senyum, namun sepertinya hal itu semakin membuat wajahnya menjadi sangat menggemaskan di mata Ayaz.
__ADS_1
"Kau benar-benar berani!" Ayaz kemudian kembali melancarkan aksinya, ia tidak tahan melihat Yaren dengan wajah seperti itu.
Dan terjadilah lagi apa yang sedari tadi Ayaz inginkan, mendengar Yaren mende*ah panjang dengan meneriakkan namanya berkali-kali, hal yang begitu manis mereka lakukan di sekitar sprei.
...***...
Malam itu juga, tidak peduli dengan malam yang sudah semakin beranjak naik, namun petugas penyidikan kasus kematian Dale Adrie tampak bekerja keras, segala barang bukti sudah mereka bawa untuk di analisa.
"Ada banyak dugaan barang bukti Pak!"
"Apa kalian sudah membawa semuanya?"
"Sudah Pak!"
"Baik Pak!"
Malam itu juga, Ilham dan kelapa pengawalnya dihubungi untuk bisa menemui ketua penyidikan kasus Dale Adrie besok pagi.
"Barang apa saja?"
"Ada tali tambang dengan noda darah, serpihan kaca, gunting, potongan kain berwarna putih tapi sudah dipenuhi dengan noda darah, kursi, dan juga sebuah ponsel yang sudah mati." ucap anggota penyidik itu menyebutkan apa saja yang bisa menjadi barang bukti.
"Bagus, malam ini juga kita harus mengetahui darah siapa yang memenuhi potongan kain itu." titah kepala penyidik.
__ADS_1
"Baik Pak!" sahut anggota penyidik itu serentak.
Lalu mereka membawa semua barang bukti itu menuju tempat pengujian untuk dianalisa.
Sementara di tempat lainnya,
Amla terlihat tidak tenang, ia benar-benar tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada Dale Adrie malam itu sehingga bisa ditemukan tewas kecelakaan paginya, setelah ditugaskan untuk membawa Erra, bukan hanya Dale, bahkan Erra dan satu pengawal yang ia tugaskan sebagai petunjuk jalan pun hilang tanpa jejak.
Ia merasa ini begitu pelik, mengapa juga pihak penyidik harus memeriksa villa lama keluarga Huculak itu? Apa ada diantara pengawal yang membuka mulut hingga pihak penyidik mencurigai tempat itu.
Di villa itu pun juga tidak dirinya temukan Erra, itu berarti Dale tewas sebelum bisa berhasil membawa Erra menuju tempat itu.
Atau..., Amla dibuat terkejut dengan pemikirannya yang tiba-tiba, "Apa jangan-jangan, darah itu... Ruangan itu, apakah Erra di habisi di ruangan itu, tapi siapa? Aku saja bahkan kehilangan jejaknya?"
Amla benar-benar kebingungan, ia tidak bisa memikirkan bagaimana rangkaian kejadian yang sebenarnya.
Lalu, ia berteriak memanggil seseorang untuk menyuruh kepala pengawal agar segera menghadap menemuinya.
"Panggilkan ketua pengawal itu cepat! Ke mana saja dia, entah sudah menemukan siapa penghianat itu atau sedang apa dia sekarang? Dasar tidak berguna!" maki Amla keras.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1