Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ian Arash.


__ADS_3

"Dia sudah bisa gerak sayang!" ucap Ayaz antusias saat melihat perut Yaren yang mulai membuncit bergetar sedikit, lalu saat Ayaz hendak memegangnya pergerakan itu semakin kuat.


"Dia sepertinya tau kalau Daddynya ingin pegang!" sahut Yaren.


Ayaz menciumi lembut perut Yaren, sumpah demi apapun dia bahagia. Bahagia saat dirinya bisa hidup bebas tanpa perlu memikirkan banyaknya masalah yang telah dirinya buat sendiri.


Sebuah ketukan pintu membuyarkan rasa haru keduanya, hari ini memang sudah seharusnya Jovan berkunjung sekalian mengantarkan beberapa bahan makanan.


Apa lagi, Yaren sempat mengidam ingin makan kebab, jadilah kemaren pagi-pagi sekali Ayaz harus berusaha sedikit untuk mencari sinyal di hutan yang sudah lumayan dekat dengan jalan raya, hanya untuk menghubungi Marco, Rymi ataupun Jovan untuk membawakannya kebab.


Yaren sudah menunggu sedari tadi kedatangan Kakaknya, ia berharap Jovan akan membelikannya kebab, karena rasanya aroma makanan itu sudah sedari kemarin menguasai hidungnya, padahal Ayaz sama sekali tidak membuatkan untungnya.


Ceklek, pintu dibuka, Jovan menenteng dua buah plastik hitam besar, kemudian dibelakangnya ada Rymi dan juga Marco yang ternyata juga turut hadir.


"Hai..." sapa Yaren, ia tidak menyangka di kunjungan bulan kali ini, akan ada mertua dan adik iparnya itu juga ikut serta.


"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dia?" tanya Marco menunduk perut Yaren yang mulai buncit.


"Dia sehat Daddy, Yaren juga sehat!" sahut Yaren.


"Ini kebabmu!" Rymi memberikan dua buah kotak makan yang berisikan makanan yang diidam-idamkan Yaren.

__ADS_1


"Masih panas?" tanya Yaren.


"Daddy yang buatkan, kau harus makan, buatan Daddy itu juara!" ujar Rymi.


"Ah ya? Terima kasih ya Daddy!" ujar Yaren menghargai.


"Hemm, semoga menantuku suka!"


"Ada apa Daddy ke sini? tumben?" tanya Ayaz langsung.


"Ekhm! Memangnya tidak boleh ya? Kau ini sepertinya sudah keenakan hidup berdua tanpa ada orang lain sepertinya?" sindir Marco, yang padahal memang benar, Ayaz memang benar merasa keenakan hidup berdua saja dengan Yaren.


Rymi menurut, ia membawa Yaren menuju dapur dengan alasan dirinya juga ingin memakan kebab buatan Marco. Rymi mengatakan masih mau dan mau lagi makanan itu, walau tidak sepenuhnya berbohong sih karena memang sedari tadi Rymi memang sudah menghabiskan tiga porsi kebab yang dibuatkan Daddynya itu saat di rumah.


Sementara di ruang tamu,


"Ini identitas barumu!" ujar Marco sembari meletakkan satu buah map yang berisikan identitas Ayaz yang baru.


"Daddy datang ke sini juga untuk mengambil sidik jarimu, jadi nama itu adalah nama yang akan menjadi nama aslimu!" lanjutnya.


Ayaz membuka map itu, ia membaca dengan teliti mengenai hal apapun yang menyangkut tentang dirinya. Dan Ayaz rasa cukup sempurna.

__ADS_1


"Ian Arash!" gumamnya menyebutkan nama barunya.


"Yah, Ian!" sambung Marco.


"Jadi Tuan Marco, berarti nama Ayaz sekarang adalah Ian?" tanya Jovan.


Marco mengangguk, lebih baik mereka membiasakan memanggil nama Ayaz begitu dari mulai sekarang, hingga setahun atau dua tahun kemudian mereka sudah terbiasa.


"Baiklah aku setuju, pilihanmu tidak terlalu buruk." ujar Ayaz.


"Hemmm!"


"Ian.." seru Marco, memang sedikit aneh pada awalnya.


"Mengapa sulit sekali?" gumam Jovan, ia sudah terbiasa akan nama Ayaz.


"Sudah kalian latihan saja menyebutkan namaku!" ledek Ayaz pada dirinya sendiri.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


__ADS_2