
Seolah belum cukup mengobrak-abrik perasaannya yang saat ini memang tengah kacau, Amla malah dikejutkan lagi oleh salah satu pernyataan tim penyidik.
"Kami menemukan ini di laci nakas ke dua samping ranjang!" tutur salah satu tim penyidik.
Apa itu? Pikir Amla, tidak pernah melihat benda itu sebelumnya, mengapa tiba-tiba ditemukan di kamarnya?
"Apa ini Nyonya Amla?" tanya ketua penyidik sembari memperlihatkan sebuah botol yang masih belum diketahui apa isinya, botol itu tampak mencurigakan makanya termasuk benda yang pantas untuk dipertayakan.
Barang kali saja mereka bisa menemukan bukti lain untuk dua kasus yang lainnya, Amla ini menurut mereka memang penjahat kelas atas, terjerat tiga kasus sekaligus namun masih bisa bersikap seolah tiada bersalah.
Amla menggeleng pelan sebagai jawabannya, ia pun benar-benar tidak mengetahui itu.
"Tim kami menemukan ini di laci ke dua pada nakas di samping tempat tidur anda?"
"Kalian menuduhku lagi?" sergah Amla.
"Memangnya di sini kami harus menuduh siapa? Bukankah kami menemukan ini di kamar anda dan bukan di kamar pelayan ataupun orang lain?" ketua penyidik itu tak kalah tegas menyatakan pendapatnya.
"Itu bukan milikku?" ucap Amla, ia jujur namun entah mengapa bagai serasa berbohong, karena orang yang tidak ada lagi yang mempercayainya.
"Apa ini?" tanya penyidik sekali lagi, kali ini lebih tegas seolah Amla harus benar-benar menjawab tanpa kesalahan dan jangan lagi berbicara ketidaktahuan.
"Aku benar-benar tidak tau!" jawab Amla dengan masih sama, ia bertahan untuk itu.
__ADS_1
"Nyonya Amla, jangan sampai setelah kami mengetahui apa isinya, Nyonya baru mau mengakuinya!"
"Hei, kau gila? Mengakui apa? Mengapa seolah-olah kalian menyudutkanku?" berang Amla.
"Tim! Bawa dia!" titah ketua penyidik. Anggotanya langsung saja bergegas menangkap Amla.
"Hei, lepaskan! Kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!" teriak Amla.
"Tidak perlu takut, kami hanya akan mengamankan anda!" ucap Ketua penyidik tepat di hadapan Amla.
"Sialan! Beraninya kalian, kalian akan menyesal karena menangkap orang sembarangan, kalian benar-benar akan menyesal setelah tau kenyataannya." teriak Amla dengan masih mencoba melepaskan diri.
"Lepaskan!" bentaknya.
"Hei, kau saja yang diamankan, aku tidak mau! Ini jelas-jelas bukan perbuatanmu, kalian akan menyesal, kalian akan menyesalinya!" tutur pedas Amla.
Ketua tim penyidik itupun hanya bisa menggeleng pelan, sembari terus saja memerintahkan pencarian kunci ruangan rahasia itu.
Namun dua jam berkutat mencari, kunci itupun tidak juga ditemukan. Ketua penyidik mendekati Amla lagi dan bertanya secara baik-baik. "Di mana kuncinya Nyonya Amla?"
"Heh!" Amla tersenyum smirk, "Kalian tidak akan menemukannya, karena aku pun juga tidak tau!" dusta Amla.
"Benarkah?" tantang ketua penyidik.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya mencari sesuatu yang memang tidak ada, kalian hanya membuang waktu saja, aku masih bisa berbaik hati dan memaafkan kalian jika kalian melepaskanku dan kembali berusaha sebaik mungkin untuk mengungkapkan kasus ini!" ujar Amla dengan yakin.
"Kalian pikir kalian sudah benar, ketahuilah, penjahat yang sebenarnya sedang tertawa keras melihat kebodohan kalian!" Amla memandang remeh semua penyidik yang berada di sana.
"Benarkah begitu? Kelihatannya abda begitu yakin!"
"Bahkan aku tidak pernah seyakin ini!" tantang Amla.
"Tim!" seru ketua penyidik, "Robohkan pintu itu, dengan apapun!" titahnya tanpa ampun.
Tim penyidik pun membawa masuk sebuah alat berat kontruksi, mereka benar-benar akan menghancurkan pintu itu meski bagaimanapun caranya, meski mereka juga harus menghancurkan sebagian rumah Amla.
"Ketahuilah Nyonya, semakin anda menyembunyikannya, maka kecurigaan kami juga akan semakin berdasar."
"Jika ada sebuah pintu yang tidak bisa dibuka dengan mudah seperti ini di sebuah rumah mewah, hanya ada dua kemungkinan yang bisa kami yakini, entah pemilik menyimpan harta berharganya yang tidak akan diperlihatkan olehnya pada sembarang orang, atau pemiliknya menyimpan rapat sebuah aib yang juga tidak mungkin diketahui orang lain!" ucap ketua penyidik itu membalas tantangan Amla.
"Tim, hancurkan!" titahnya tanpa ampun.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
... ...
__ADS_1