Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Hei!


__ADS_3

“Kau bercanda?” Jovan menatap tidak suka pada Ayaz, pria itu baru saja memerintahkan untuknya mengawasi Sian di tempat ini, sementara di sana adiknya sedang bertaruh keselamatan.


Karena tadinya, Jovan sudah berhasil melacak posisi ponsel yang baru saja dihubungi Sian, jadi mereka sudah mengetahui keberadaan Yaren. Ponsel itu berada di kediaman Sian, jadi besar kemungkinan Yaren juga berada di sana.


“Kau tidak mau melakukannya?” sinis Ayaz.


“Ayaz! Dia adikku!” Jovan ingin sekali melenyapkan Ayaz saat itu juga, berani sekali melarangnya, sungguh.


“Dia istriku!”


“Ayaz, tidak bisakah dia dibiarkan saja, atau suruh anak buah Marco untuk mengurusnya, aku tidak bisa berdiam diri di sini, sementara Yaren bertaruh nyawa di sana.”


“Kau tidak mau melakukannya?” tanya Ayaz sekali lagi.


“Ck!” Jovan berdecak kesal, ia frustasi, “Kau benar-benar Ayaz, jika sampai terjadi sesuatu dengan Yaren, maka aku tidak akan membiarkanmu hidup, kau camkan saja itu.” ancam Jovan. Sayang sekali, tidak ada pilihan lain baginya selain menggantungkan harapan pada Ayaz. Berharap Ayaz tidak akan membiarkan Yaren tergores sedikitpun.


“Kau bisa mempercayaiku!” ucap Ayaz, harapan seorang Kakak yang mencemaskan adik kandung kini terangkul di pundaknya, meski tidak dirinya ungkapkan melalui kata-kata, namun ia sungguh berjanji akan menyelamatkan Yaren bagaimanapun caranya.


Ayaz menghubungi Rymi menggunakan ponsel Jovan, menanyakan bagaimana kabar Sam, Rymi mengatakan kalau Sam sudah baik-baik saja, mendengar itu Ayaz bisa dengan tenang dan meminta Rymi untuk menuju lokasi yang ia sebutkan, ia meminta Rymi untuk melihat dan memancing keadaan di sana, supaya lebih memudahkan dia untuk menyelamatkan Yaren.


Ayaz mengambil senjata apinya, gegas ia meninggalkan ruangan itu, di pikirannya benar-benar diselimuti pemikiran tentang bagaimana Yaren, namun ia mencoba menetralkan perasaannya untuk tidak terlalu panik.


 


...***...


“Kau mau ke mana?” tanya Sam, melihat wanita itu sudah berkemas ia jadi ingin tau akan ke mana perginya, karena dari yang tidak sengaja dirinya dengar, Ayaz baru saja menelponnya.


“Kau tidak usah mengurusiku, cukup diam dan pulihkan saja kesehatanmu!” ucap Rymi angkuh, bahkan ia sudah menanggalkan cara bicara formalnya yang biasanya ia ucapkan jika bicara dengan Sam.

__ADS_1


Kesan bad girl semakin kentara Sam rasakan, apa sebenarnya sikap yang kemarin-kemarin wanita itu tunjukkan padanya itu benar-benar hanya kepura-puraan, bukankah ini terlalu cepat jika seseorang harus berubah begitu saja.


Tidak tidak, lebih tepatnya, mungkin dia memang seperti itu, aku benar-benar sudah ditipu oleh wanita gila ini! Pikir Sam.


Namun lamunannya itu buyar kala Rymi keluar dengan keras menutup pintu, dilihatnya wanita itu seperti begitu terburu-buru.


Apa terjadi sesuatu dengan istrinya Ayaz? Pikir Sam mulai menebak.


Sam mencari ponselnya, namun tidak menemukan itu, saat dirinya sedang memikirkan cara bagaimana untuk menghubungi ayah angkatnya, tiba-tiba pintu terbuka, dilihatnya seorang perawat wanita yang menatap sopan padanya.


“Saya ditugaskan untuk menjaga Pak Rangga sementara, apa Pak Rangga butuh sesuatu?” tanya perawat itu melihat Sam yang tampak kebingungan.


Sam langsung saja menemukan ide, dia meminta perawat itu untuk meminjamkan ponsel, dia akan menghubungi Ayahnya, begitu banyak kejadian yang tidak terduga hari ini, ayahnya berhak tau, apa lagi ini menyangkut Ayaz, pewaris satu-satunya keluarga Donulai.


...***...


Marco dihubungi oleh Rymi untuk segera menuju lokasi tempat Yaren diculik, dia tidak percaya mengapa Ayaz bisa seceroboh ini, seharusnya Ayaz benar-benar memberi pengertian pada Yaren bahwa jangan pernah membukakan pintu meski dalam keadaan apapun jika Ayaz sedang tidak berada di rumah, kejadian seperti ini pasti akan ditemuinya, Ayaz dan dirinya begitu banyak musuh, apa saja bisa terjadi.


Terlebih Rymi dan Ayaz juga masih belum datang, sembari menunggu kedua anaknya itu ia mencoba memikirkan bagaimana cara yang paling aman.


“Daddy!” seru Rymi setengah berteriak, ia juga memikirkan hal yang sama di sepanjang perjalanan menuju kediaman Sian ini.


“Ayaz belum datang? Kalian bertindak sesuka hati, merasa sudah begitu hebat hingga tidak ada niatan untuk memberitahuku?” sindir Marco.


“Daddy, semua terjadi begitu saja, Ayaz juga tidak tau akan terjadi hal seperti ini.” bela Rymi.


“Rencana tanpa pemikiran yang matang, kalian benar-benar niat ingin mengambil resiko.”


“Bung...” seru Ayaz, pria itu juga sudah datang, ia cukup terkejut akan kehadiran Marco.

__ADS_1


“Aku yang memberitahunya.” jawab Rymi cepat, sebelum Ayaz bertanya.


“Ayaz, kau yang paling tau tentang rumah ini, meski mungkin sudah ada perubahan tatanan tempat, namun bukan tidak mungkin di beberapa tempat masih memiliki kesamaan.” Ujar Marco.


Ayaz mengangguk, membawa Rymi dan Marco ke tempat yang dirasa aman untuk bersembunyi, ia mulai menjelaskan pada keduanya bagaimana gambaran, susunan dan tata ruang kediaman Sian.


“Dulu, saat kau di siksa, apa kau dibawa ke sebuah ruangan? Maksudku apa ada tempat khusus?” tanya Marco, nadanya sedikit bergetar kala menanyakan itu.


Ayaz tampak berpikir, “Aku... Dibawa ke sebuah gudang, sangat usang, tapi setiap kali aku mendapat hukuman fisik pasti Sian membawaku ke tempat itu.” Jawab Ayaz. Dirinya juga berpikir, apa iya Yaren akan dibawa oleh anak buah Sian ke tempat itu juga. Tempat itu terletak jauh di belakang, akan sulit jika harus menyelinap sampai ke sana.


Dada Marco seketika sesak mendengar jawaban Ayaz, Sian... Bagaimanapun akan dirinya habisi keparat itu.


“Ayaz, kau masuk duluan, kau tidak bisa menyelamatkan Yaren sampai di sana, aku tidak bisa membiarkan Rymi sendirian, namun jika orang itu kau! Aku yakin kau pasti mengerti apa maksudku!” ujar Marco.


Ayaz nampak berpikir sebelum menyetujuinya, namun beberapa detik kemudian ia mengangguk. “Aku serahkan Yaren pada kalian, jangan sampai dia tergores sedikitpun.” Ucap Ayaz, Marco mengangguk pasti.


“Daddy, apa Daddy baru saja meremehkanku, apa maksudnya aku tidak cukup kuat untuk menghadapi bajingan itu? Aisshh, aku rasanya ingin berhenti saja jadi anakmu!” ungkap kesal Rymi.


“Hemmm!” sahut Marco singkat, ia tidak peduli. Ia mengambil senjatanya di mobil lalu memberikan pada Rymi. "Selamatkan Kakak iparmu!" perintah Marco.


Ayaz memasuki rumah itu, dia mencari perhatian supaya bisa dilihat oleh istri Sian, ia yakin sekali penculikan Yaren erat kaitannya dengan wanita itu.


Ayaz masih berjalan, menyelinap bagai orang yang mencari sesuatu di setiap ruangan, sebanyak kakinya melangkah, kediaman Sian tidak begitu banyak perubahan, itu berarti tidak akan menyulitkan dirinya untuk mencari Yaren. Namun tiba-tiba matanya menangkap satu pintu yang tidak asing baginya, pintu itu selalu dirinya kunjungi saat masih berada di kediaman musuhnya ini.


Kakinya melangkah dengan pasti, tangannya sudah hampir terulur untuk membuka pintu kalau saja sebuah suara tidak mengejutkannya.


“Hei!” teriak seseorang.


Ayaz menoleh, mendapati salah satu pengawal di rumah ini meneriakinya, ia tidak mengenalnya, mungkin saja pengawal itu bekerja setelah dia pergi dari rumah ini.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2