Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Rumah baru.


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" Sian mendatangi penjara bawah tanah di rumahnya, tempat itu diperuntukkan bagi orang yang menjadi tahanannya.


"Sudah tidak sadar akan dirinya Tuan!" jawab penjaga.


"Bagus, itulah sebabnya jika berani berurusan denganku!"


Sian melangkahkan kakinya, melihat sepasang suami istri dengan keadaan tubuh sangat memprihatinkan, luka di mana-mana, serta tubuh dekil tidak terawat.


"Apa kabarmu Pak Tua?" tanya Sian saat dirinya mendekat.


Kedua orang tua itu nampak ketakutan, saling berpelukkan untuk menenangkan satu sama lainnya.


"Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu!" ucap Sian lagi.


Lalu kedua orang tua itu tersenyum menyapanya, Sian bisa melihat begitu berharapnya kedua orang tua itu.


"Aku bisa membebaskan kalian, tapi tentu saja kalian harus membayarnya."


Seorang pria tua di penjara mencoba memegang tangan Sian dari balik jeruji besi itu. Sian merasa tidak keberatan, baginya bukan apa-apa.


"Kalian mau melakukan apapun?"


Sepasang suami istri itu mengangguk teratur, mungkin sudah kwalahan hidup tiga tahun dalam siksaan, mereka menganggap Sian bagai dewa penolong yang akan menyelamatkan mereka.


"Apapun?" tanya Sian lagi, pria itu tersenyum smirk, baginya sudah saatnya ia mencuci otak kedua tahannya ini.


Sepasang suami istri itu mengangguk lagi.


"Kalian tau anak kalian, Samudra?"


Reaksi keduanya sungguh tepat, meski penjaga mengatakan keduanya sudah tidak sadarkan diri akan hidup mereka, namun seorang anak pastilah tidak mudah untuk dilupakan. Sepasang suami istri itu menangis meluapkan emosinya, seolah nama Samudra memang lekat dalam pemikiran mereka.


"Dialah yang membuat kalian menderita seperti ini, kalau dia tidak kabur hari itu, mungkin kalian masih bisa menjalani hidup normal seperti selayaknya, tapi Samudra, anak kalian malah menghancurkannya."


"Setelah tiga tahun berlalu, tidak sekalipun dia menjenguk kalian di sini, sungguh miris bukan."


"Samudra, jika ada orang yang harus kalian benci, orang itu adalah Samudra, Sam... Anak kalian sendiri yang telah menghancurkan hidup kalian, tidak pernah mempedulikan kalian."


Sepasang suami istri yang mulai mengalami gangguan mental itu saling pandang, menelisik dan bertanya apakah yang dikatakan orang di hadapannya ini benar atau hanya bualan.

__ADS_1


"Jika, suatu hari nanti kalian bertemu dengan seseorang bernama Samudra, Sam... Maka, kalian tau apa yang harus kalian lakukan?"


Sian berlalu meninggalkan ruangan penjara bawah tanah itu, kedua orang tua Sam sudah berada di tangannya semenjak tiga tahun yang lalu, jadi jika suatu hari nanti Sam berniat membalas dendam padanya, Sian sudah mempunyai tumbal untuk semua itu.


"Jaga mereka! Belum waktunya, nanti jika anaknya sudah siap bertemu denganku, aku akan dengan senang hati bermain-main." titah Sian pada penjaga.


Sian yakin sekali dimana pun Ayaz ataupun Sam berada sekarang, pastilah niat untuk membalaskan dendam padanya tidak semudah itu mereka lupakan, mengingat betapa Sian sudah sangat kejam memperlakukan keduanya.


Terlebih Ayaz, anak tirinya itu Sian benar-benar membencinya.


...***...


"Kau suka?" tanya Ayaz saat keduanya sudah sampai di halaman rumah mereka.


Rumah baru, suasana baru, sekilas yang Yaren lihat, tempatnya cukup nyaman, meski jauh dari keramaian kota namun di lingkungan kali ini tidak terlalu sepi, Yaren sepertinya akan merasakan hidup bertetangga.


Yaren tersenyum manis untuk Ayaz, pria itu menarik pinggangnya untuk mulai melangkah beriringan menuju rumah.


"Terimakasih!" ucap Yaren saat Ayaz sudah selesai membuka pintu.


"Untuk?"


"Rumah ini, aku senang berada di sini." ucap Yaren.


Pelan wajah itu mulai mendekat, membuat Yaren kembali gugup karena perlakukan Ayaz, sebenarnya apakah Ayaz sudah mempunyai rasa lebih terhadapnya? Hingga pria itu bisa mengguncang hatinya seperti ini.


"Ayaz!" seru Yaren, berusaha sadar meski Ayaz sudah mendekatkan bibirnya.


Tidak ada sahutan, karena sepertinya Ayaz memang ingin mengecup lagi candunya.


"Ayaz, aku lapar!" ucap Yaren tiba-tiba meski setelahnya wanita itu merasa bersalah karena Ayaz nampak kecewa.


Ayaz menghembuskan napasnya pelan, menampilkan deret giginya, "Sebentar, akan aku belikan." ucap Ayaz.


Ayaz kemudian melangkah keluar rumah, dirinya ingin mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Yaren menetralkan rasa gugupnya, dalam hatinya ia masih tidak mengerti akan sikap Ayaz, dia tidak ingin jatuh ke pelukan Ayaz, takut saja kalau pria itu mempermainkannya, mengingat sikap Ayaz yang sudah sangat keterlaluan padanya beberapa hari kebelakang dulu.


"Apa iya dia menyukaiku?" gumam Yaren.

__ADS_1


"Apa kau menyukaiku?"


"Memangnya kau siapa? Apa yang kau harapkan, aku menyukaimu? heh!"


"Sebaiknya kau berkaca, dan lihat kira-kira apa yang bisa kau jual padaku?"


Sekilas bayangan percakapannya dan Ayaz malam itu membuatnya seakan patah hati, Yaren berpikiran tidak mungkin Ayaz menyukainya, apalagi sampai mencintainya.


Dirinya hanya akan dianggap sebagai teman ranjang saja, Ayaz pernah mengatakan jika dirinya masih perawan maka Ayaz akan memperlakukannya seperti ratu, mungkin saat ini hal seperti itulah yang dirinya jalani. Cinta, jangan mengharapkan ada kata seperti itu di tengah-tengah dirinya dan Ayaz, pikir Yaren.


"Aku sepertinya memang terlalu memakai perasaanku dalam hubungan ini."


"Hidupku terlalu rumit, aku tidak mau dirumitkan lagi dengan masalah pernikahan, aku bisa memberikanmu apa saja, uang, perhatian, tapi aku tidak bisa menikahimu! Aku akan menyuruhmu pergi jika aku sudah bosan!”


"Mungkin dia juga menikahiku karena terpaksa, lagi pula pernikahan ini hanya siri, dia bisa melepaskanku kapan saja kalau dirinya sudah bosan, jangan terlalu berharap lebih Yaren, Ayaz sudah pernah mengatakan kalau dirinya bukanlah orang baik."


"Suatu hari nanti, kau pasti tidak akan ada harganya di mata Ayaz, jadi jangan terlalu bahagia jika dia memperlakukanmu lembut beberapa hari ini, jangan terlalu mudah percaya padanya Yaren, bukankah dia iblis, yah benar Ayaz adalah iblis berwujud manusia." gumam Yaren menggerutu.


"Kau sedang apa?" tanya Ayaz tiba-tiba, Yaren tersentak takut semua yang dirinya gumamkan tadi terdengar oleh Ayaz, bisa mati mendadak hari ini Yaren.


"Eh, Ayaz! Kapan kau kembali?" tanya Yaren gagap.


"Kau sepertinya tidak senang melihatku?" sindir Ayaz.


"Ah, bukan begitu, tapi mengapa cepat sekali, apa kau sudah mendapatkan makanannya?" tanya Yaren.


"Sudah, ayo makan!" ajak Ayaz.


...***...


"Tidak!" tolak Rymi langsung. Wanita itu tetap tidak mau memberikan harapan pada Bosnya.


"Merve!" tegas Sam lagi.


"Pak Rangga, bisakah anda memperlakukan saya seperti layaknya sekretaris pada umumnya, saya tidak mau terlibat masalah apapun pada Bapak selain masalah pekerjaan." ucap Rymi tak kalah tegas.


Sam memejamkan matanya, cafe Green sudah dekat dirinya harus mempersiapkan diri untuk bersikap profesional.


Sam tidak menjawab lagi ucapan sekretarisnya, Sam tidak bisa berjanji untuk berhenti saat ini, cinta yang baru saja tumbuh baru saja mulai berkembang, masa iya harus dirinya tinggalkan. Sam memutuskan untuk mencoba, meski apapun tanggapan sekertarisnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2