
"Begitu banyak yang terjadi setelah malam itu?" tanya Raihan, Marco mendatangi rumahnya kali ini, wajahnya tampak kacau, Raihan bisa menebak mungkin Marco sudah mengetahui segalanya.
"Banyak sekali! Hingga aku tidak bisa menyingkatnya untuk menceritakan padamu." jawab Marco.
"Apa...?"
"Dia benar anakku!" jawab Marco langsung bahkan sebelum Raihan menyelesaikan pertanyaannya. Sepertinya ia sudah tau tentang apa yang akan ditanyakan Raihan.
Raihan mengangguk, "Tidak disangka, kurasa Tuhan memang mempertemukan kalian sebab suatu alasan, Tuan tidak pernah begitu peduli untuk membawa orang baru masuk ke dalam hidup Tuan sendiri!"
"Rymi... Dan juga Ayaz, tentunya punya tempat tersendiri bagi Tuan."
"Entahlah, dulu saat aku menemukannya, aku hanya melihat matanya yang penuh dendam, aku merasa dia adalah orang yang mempunyai ambisi kuat, sebenarnya hal itulah yang membuatku tertarik untuk memanfaatkannya."
"Dan benar saja, Ayaz begitu cepat menyesuaikan diri, dia bercerita tentang hidupnya, namun aku tidak terlalu menimpali, aku selalu larut dalam pekerjaanku dan bersikap keras padanya, tapi... Aku juga bangga saat dia berhasil, ada kepuasan tersendiri saat aku melihatnya menjadi tangguh tak terkalahkan."
"Apa Tuan sudah mengatakan itu?" tanya Raihan.
Tiba saja Marco tersadar akan tujuannya menemui Raihan, "Aku ke sini untuk suatu hal!" ucap Marco.
"Apa? Katakan saja, akan aku coba bantu jika memang bisa!" sahut informan kepercayaan Marco itu.
"Carikan aku data orang-orang di negara ini yang memiliki darah RH- AB!" ucap Marco.
"RH- AB? Bukankah itu darah Tuan? Ada apa?" tanya Raihan heran.
"Telah terjadi sesuatu pada Ayaz, darahnya sama denganku, tapi aku ini begitu tidak berguna, aku bahkan tidak bisa mendonorkan darahku, Mike sialan itu mengatakan aku tidak bisa menjadi pendonor!" jelas Marco.
"Apa yang terjadi? Aku akan membantu sebisaku, menurutku... Bagaimana jika kita mulai dari keluarga Tuan? Apa Tuan bisa memberiku petunjuk bagaimana keluarga Tuan dulunya?"
Marco menggeleng pelan, "Hari ini aku memberitahumu sedikit tentangku, jika kau bertanya mengapa aku memutuskan untuk mengadopsi Rymi, jawabannya adalah aku melihat gambaran diriku dalam dirinya."
"Apa maksudnya? Apa karena Tuan juga tidak mengetahui siapa keluarga Tuan?"
"Saat aku masih kecil dengan bodohnya aku bahkan pernah berpikir kalau aku adalah alien yang tersesat di bumi?" Marco tersenyum miris membayangkan masa kecilnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, jangan menahannya, hanya ada kita berdua, jika ingin tertawa aku tidak akan melarangmu!" ucap Marco saat melihat Raihan tersenyum samar seolah sedang menahan tawa.
"Apa Tuan benar-benar tidak ingat, bukankah pasti ada seseorang yang menjaga Tuan dulunya?" tanya Raihan.
"Yah, seorang tua renta, saat aku berumur tujuh tahun dia juga bahkan meninggalkanku!" jawab Marco.
"Apa Tuan masih ingat tempat tinggal orang tua itu?"
"Sudah digusur, tragedi RAKIN 1992 dulunya, aku bahkan tidak tau tetangga-tetanggaku dulu menyebar ke mana? Aku masih sangat dini untuk memikirkannya waktu itu, apa yang bisa dibanggakan, aku bahkan pernah tidak makan selama lima hari."
"Apa tua renta itu mengatakan asal-usul Tuan?"
"Kau berharap dia mengatakannya? Heh!" Marco tersenyum miring, "Dia bahkan tidak menginginkanku karena kehadiranku ini menyebabkannya harus berbagi makan denganku setiap hari, konyol kan? Yah meski pada akhirnya dia tetap memberiku makan!"
"Tuan?"
"Aaiisshh, kehidupanku ini, rasanya aku ingin abadi saja untuk menikmatinya."
"Saya akan membantu sebisanya, akan saya kabarkan kelanjutannya!"
"Tuan..."
Raihan bisa merasakan kesedihan Marco, sikap yang arogan itu nyatanya tidak mampu menutupi rasa sedih yang dirasakan Tuannya.
Raihan merasa dirinya harus benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan darah itu. Ayaz, tidak boleh sampai mati, tidak bisa dibayangkan betapa hancurnya Marco jika hal itu sampai terjadi.
Setelah dari mengunjungi Raihan, Marco menyempatkan diri pergi ke Markas, untuk melihat pelaku yang menusuk putranya. Atau, bisa saja hari ini dia akan membunuhnya kalau saja pria itu sampai salah bicara dan berani menyinggungnya.
"Siapa kau? Beraninya mencoba membunuh anakku!" Marco mencengkram erat rahang pria tua yang sudah berani menghunuskan pedang pada putranya.
"Anakmu?" tanya pria itu.
"Jika nyawa putraku tidak bisa tertolong, maka kau pasti akan kulenyapkan berikut dengan keturunanmu!"
"Kau bisa melupakannya jika kau menganggap ucapanku ini hanya menakutimu, dasar sampah!"
__ADS_1
Pria itu tidak lagi bicara, ia cukup bingung, mengapa pria di hadapannya ini memanggil Samudra sebagai putranya. Apa Samudra benar-benar menemukan keluarga baru hingga hal itu jualah yang menjadi alsan anak itu melupakannya dan sang istri sebagai orang tua.
"Kau... Mengenal Samudra?" tanya pria itu.
Marco mendongak, berani sekali bajingan itu menanyakan sesuatu padanya, sudah bosan hidup rupanya.
"Samudra, yah dia juga salah satu penyebab putraku mengalami hal ini, jangan katakan nama itu, aku juga akan menghabisinya jika bertemu." ucap berang Marco.
Pria itu menatap heran Marco, mengapa bisa mengatakan hal semacam itu, bukannya Samudra adalah orang yang baru saja dirinya bunuh, lalu putra? Putra yang mana? Apa Samudra?
"Bukankah kau adalah ayahnya Samudra?" tanyanya.
Marco mendelik, apa sudah gila? Yang benar saja, Ayah apanya?
Bugh,
Marco memberikan tinjunya pada wajah itu, berharap pria itu akan segera sadar akan apa yang dirinya ucapkan dan berhenti membual, Marco sungguh muak.
"Kau gila? Pria itu bahkan ingin diriku bunuh, seenaknya saja mengatakan dia putraku? Samudra adalah orang yang juga harus bertanggung jawab, putraku mengalami hal ini juga sedikit banyaknya karena Samudra, kau tidak waras menanyakan kalau dia anakku? Mati sana!"
"Putramu?" heran pria itu.
"Hei, jangan kira aku akan mengampuni dengan kau yang berlagak bodoh seperti ini dan tiba-tiba tidak tau apapun! Kau baru saja mencelakainya sialan!" Marco mengepalkan tangannya, dan bogem mentah itu harus melayang lagi entah kesekian kalinya pada wajah pria itu.
"Bukankah, yang baru saja aku bunuh adalah Samudra?" tanya pria itu semakin bingung.
"Samudra?" Marco semakin geram, mengapa orang ini dilihatnya benar-benar bodoh, "Kau hampir membunuh anakku, anakku sedang berjuang melawan maut di sana, dan kau di sini masih bisa-bisanya bercanda, gila saja! yang kau serang tadi adalah Ayaz, putraku! Bukan Samudra sialan itu, jika sampai nyawa putraku tidak tertolong, kau berikut keturunanmu akan aku habisi sampai keakarnya." geram Marco
"Ayaz?"
"Apa benar yang baru saja aku bunuh bukan Samudra?" pria itu menatap heran, dirinya mencoba mengingat kejadian tadi saat ia menusukkan pedang itu pada seseorang yang dianggapnya Samudra, "Tapi... Wanita itu bilang, pria itu adalah Samudra, dan aku akan membunuhnya. Aku benar-benar harus membunuh Samudra."
"Kau bilang apa?" tanya Marco.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...