
Sementara itu, di sebuah kamar di salah satu hotel ternama di pusat kota ini, seseorang tengah mengumpati nama Ayaz Diren. Pasalnya, jika Ayaz Diren tertangkap maka dirinya juga berkemungkinan untuk terlibat.
"Sial!"
"Tuan, bagaimana?"
"Aku akan melihat bagaimana kelanjutannya, awas saja jika dia sampai membuka mulut, kematian Ali sudah kubayar lunas, sudah seharusnya dia berkorban meski dengan menyerahkan nyawanya!"
"Tapi, bagaimana jika Ayaz membuka mulut?"
"Maka aku akan membunuhnya sebelum dia bisa mengatakan satu patah katapun!"
Dialah Aftarsyah, pemilik salah satu perusahaan bisnis yang sungguh kejam, dia tidak segan-segan menghancurkan perusahaan yang dianggapnya bisa menghalangi pencapaiannya, dan sialnya hari itu Ali Yarkan harus berurusan dengannya meskipun Ali tidak menyadari itu.
Hotel yang dikelola Ali saat itu sedang berkembang, sedang hotel megah milik Aftar yang letaknya tidak begitu jauh malah terlihat biasa saja, Aftar sungguh geram kala mengetahui di setiap harinya pendapatan yang diterima oleh Ali. Jadilah rencana jahat itu, Ali yang dianggapnya sungguh menghalangi pencapaiannya, harus mati juga di tangannya.
Hanya karena itu, hal sepele yang kadang masih bisa dibicarakan secara baik-baik, Aftar menyewa Marco yang saat itu diketahuinya sebagai juaranya membunuh orang tanpa meninggalkan jejak.
Dia telah membuat kesepakatan dengan Marco, dan Marco juga akan melakukan apapun demi uang.
__ADS_1
Kini, namanya sedang terancam, Aftar benar-benar memperhatikan kasus itu, ia juga menghubungi Marco beberapa kali untuk menanyakan perihal kasus Ali Yarkan yang terus saja tersiar di depan matanya, namun sayangnya Marco tidak memberikan tanggapan akan ketakutannya.
"Oke! Santai saja! Aku hanya perlu melenyapkannya, lakukan itu maka aku akan aman, sudah konsekuensinya, bahkan di perjanjian pun juga tertulis kalau orang gila itu siap mati jika namaku terlibat!"
...***...
Pihak kepolisian sudah sampai, mereka dengan hati-hati mulai mengepung apartemen itu, sebagian lainnya masuk untuk mengepung unit yang diberitakan sedang dihuni oleh Ayaz.
"Siapkan penjagaan ketat! Awasi setiap pintu keluar, awasi jalur yang mungkin, kendaraan yang mencurigakan, periksa setiap ada kendaraan yang keluar!" perintahnya.
"Awasi gedung itu dari bawah, jangan sampai Terget meloloskan diri!"
Lalu tim mereka pun bergegas, mereka sudah berada di posisi masing-masing dengan siap siaga.
Salah satu anggota tim yang menyamar menjadi orang biasa pun memulai aksinya, ia mulai memencet bel di unit Ayaz, menekannya berkali-kali namun tidak juga adanya jawaban.
"Sepertinya target telah mengetahui! Beralih ke rencana B!" ucapnya, di telinganya sudah terpasang earphone yang akan menghubungkan panggilan pada sesama anggota tim.
Sejumlah anggota tim yang ditugaskan sudah berdatangan, mereka mulai membuka paksa pintu itu, beberapa orang juga mulai dikerahkan untuk masuk menyergap Ayaz.
__ADS_1
"Tak!" terdengar sebuah benda jatuh saat mereka berhasil membuka pintu. Mata mereka dipaksa begitu jeli untuk meneliti keseluruhan ruangan, isi unit A101 itu begitu sepi sama sekali tidak terdapat tanda-tanda akan adanya kehidupan.
"Apa dia sudah pergi?" seorang anggota tim bertanya.
"Sepertinya?"
"Kreettt! Tak!" tiba-tiba saja pintu terkunci dari luar, semua orang yang berada di dalam terkejut, mereka semakin memposisikan diri bersiaga dengan senjata api yang siap untuk ditarik pelatuknya.
"Ayaz Diren! Menyerahlah! Anda sudah dikepung!" teriak salah satu anggota tim.
"Brakkk!" tiba-tiba saja tanpa mereka bisa menyadari salah satu anggota mereka bahkan sudah terjatuh dan tidak sadarkan diri dengan belati yang sudah tertancap di leher.
"Frans!" seru teman disebelahnya, langsung berjongkok untuk memastikan sesuatu, sedang yang lainnya memperketat penjagaan.
"Dia sudah tiada!" ucap rekan yang memeriksa denyut nadi anggota tim yang terkena pisau itu dengan lirih mengabarkan.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1
Â