Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tinggal satu langkah lagi, Ilham.


__ADS_3

Amla benar-benar tidak menyangka, saat ini dirinya sudah menjadi tahanan rumah, di depan kamarnya sana sudah ada yang menjaga, dirinya tidak dibiarkan untuk keluar dari kamarnya barang selangkah.


Amla benar-benar penasaran, apa yang nantinya akan diungkapkan oleh Romi, tentunya ia berpikir beberapa untaian kalimat yang akan bisa menyelamatkannya.


"Sial! Benar-benar sial!" umpat Amla tanpa henti.


Alma berbaring tanpa melakukan apapun, ponselnya juga ditahan, benar-benar hidup yang melelahkan.


Sementara itu, pihak penyidik tengah berupaya untuk menganalisa barang bukti, dan juga segera mengetahui kandungan apa yang terindikasi di botol kecil yang mereka temukan di laci nakas milik Amla.


Saat mereka sedang bekerja keras, tiba-tiba saja ponsel ketua penyidik berdering. Ketua penyidik langsung saja mengangkat panggilan yang ternyata dari pihak rumah sakit yang mengotopsi jasad Sian.


Dokter Diana mengabarkan bahwa jasad Sian sudah selesai di otopsi dan berencana untuk bisa menemuinya dengan segera. Ketua penyidik mengatakan 'Ya', dia akan sampai kiranya sekitar dua puluh menit lagi.


Ketua penyidik berpamitan pada semua rekan yang masih bekerja, dia akan menemui dokter Diana untuk mengetahui keterangan lebih lanjut tentang jasad Sian, dia juga membawa rekannya sebanyak dua orang untuk membantunya di sana jika saja ada sesuatu yang dibutuhkan.


"Pak!" seru salah satu rekannya sebelum dirinya pergi.


"Ya!"


"Bawa sampel ini!" ucapnya sembari memberikan sampel yang berisikan cairan yang tadinya mereka ambil dari botol yang ditemukan di kamar Amla.


Ketua penyidik itu mengangguk dan mengambil sampel itu.


Ketiganya berangkat menuju rumah sakit, benar-benar penasaran berita mengejutkan apa yang akan mereka temukan lagi.


...***...


"Ayaz Diren!" ucap Ilham yang saat ini sedang berada di markas Marco. Ia begitu ingat dengan nama itu, nama itu adalah nama yang pernah diperintahkan oleh Tuannya untuk dibunuh.


Namun nyatanya, Tuannya lah yang terbunuh oleh orang itu.

__ADS_1


Nama Ayaz Diren sedang trending di pemberitaan, baik media televisi ataupun media sosial, Ayaz dikabarkan sebagai bandar narkoba dan saat ini sedang menjadi buron.


Satu persatu media mengabarkan tentangnya, mulai mengupas tuntas kehidupannya, namun pria yang sedang dicari-cari keberadaannya itu nyatanya memiliki kehidupan yang sangat privasi dan sungguh misterius.


"Apakah aku harus bicara?" gumam Ilham, ia benar-benar ingin membalaskan kematian Tuannya, bagaimanapun dirinya sungguh tau bahwa Ayazlah dalang dibalik kematian Tuannya, Ayaz adalah pembunuh yang sebenarnya.


Namun saat tangannya sedang mengepal sempurna karena menahan gejolak emosi yang dirinya rasakan, tiba-tiba saja ponselnya berdering, nama Rymi terpampang di layar ponselnya, dengan malas Ilham menjawab panggilan itu.


^^^"Kau sudah mendengarnya? Melihatnya?"^^^


"Hemmm!"


^^^"Aku tau kau sedang kesal! Tapi, sudah pernah kukatakan bukan, bahwa jangan pernah berbuat apapun mengenai Ayaz!"^^^


"Hei wanita gila! Memangnya aku bisa melakukan apa hah?"


^^^"Bagus... Ternyata kau cukup sadar diri! Aku bisa menghargai itu, dah ah ya Ilham, sampel racun itu sudah dibawa oleh penyidik, kau sudah mempersiapkan barang bukti selanjutnya kan?"^^^


"Hemmm!"


"Iya, sesuai dengan harapanmu!"


^^^'Bagus, karena kau sudah bekerja keras, aku rasa kau bisa aku loloskan, namun tetap masih dengan pengawasan!"^^^


"Apa maksudmu!"


^^^"Pergilah temui istri dan anakmu, mereka pasti sangat merindukanmu!"^^^


"Apa? Rym kau bilang apa?"


^^^"Kau ini, aku paling malas mengulangi perkataanku!"^^^

__ADS_1


"Apa kau serius?"


^^^"He'em! Apa kau senang?"^^^


"Kau..."


^^^"Bukankah aku sangat baik hati? Jadi aku harap, kau jangan macam-macam, jangan menyalahgunakan kepercayaanku! Mengerti?"^^^


"Ya ya, siap Bos!"


^^^"Hemmm... Aku sepertinya akan menyukai panggilan itu!"^^^


"Ah kau ini!"


^^^"Ya sudah, pergilah dengan segera, kau bisa tinggal dengan keluargamu mulai sekarang, aku juga sudah malas menampungmu terus-terusan!"^^^


"Iya, pasti aku akan pulang!"


^^^"Dan juga ingat, jika ada panggilan untukmu dari pihak penyidik, maka kau harus datang, katakan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan!"^^^


"Baik Rym, baik!"


^^^"Aku tutup dulu!"^^^


Panggilan itu terputus, Ilham memegangi dadanya, ternyata Rymi benar-benar menepati janjinya, bahkan lebih cepat dari yang dirinya kira, hari ini dirinya sudah bisa kembali dengan keluarganya, hanya tinggal satu langkah lagi, jika Amla berhasil dipenjarakan maka rekannya di sana juga pasti akan segera dibebaskan.


"Tinggal satu langkah lagi Ilham... Satu langkah lagi!" gumamnya, lalu kemudian masuk ke kamar yang sudah Rymi sediakan untuknya selama berada di markas milik Marco ini. Ilham akan berkemas lalu setelahnya benar-benar pulang ke rumah, ia juga sudah sangat rindu dengan keluarga kecilnya itu.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


... ...


__ADS_2