Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ketakutan Marco.


__ADS_3

“Maaf, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kalian memanggilku Tuan Muda?”


“Tuan Muda adalah satu-satunya pewaris takhta di kerajaan bisnis Donulai, siapa nama Tuan Muda?”


“Hah? Kalian bahkan tidak mengetahui namaku, apa ada bualan yang lebih masuk akal dari ini?” tanya Sam.


“Anda akan menemui Tuan Donulai, mungkin setelah bertemu beliau barulah apa yang kami katakan ini bisa dipertanggungjawabkan.”


“Siapa beliau?”


“Kakek Tuan Muda!” jawab preman itu.


“Ashhh, aku sungguh tidak mengerti! Turunkan aku di tempat sepi, aku ingin buang air.” pinta Sam.


Lima belas menit berlalu, ini jelas sekali jalan menuju luar kota, sebenarnya apa yang dikehendaki orang yang bernama Donulai itu pikir Sam.


Mobil berhenti di sebuah kawasan hutan hutan, preman itu menyuruh Sam untuk segera melepas hajatnya. Seseorang juga turun, ingin ikut mengawasi Sam.


“Kau gila? Aku ingin kencing!” ucap Sam, bagaimana dirinya bisa kabur jika kencing saja diawasi.


“Saya tidak akan melihat, Tuan Muda bisa segera melakukannya.”


Nampaknya seluruh preman ini cukup menghormatiku, karena sebuah panggilan yang menunjukkan status, sebenarnya siapa yang mereka maksud Tuan Muda? Aku. Tidak mungkin!


Sam sungguh percaya, ibunya hanyalah seorang buruh cuci gosok, sementara Ayahnya adalah seorang pelayan di istana seorang Sian. Sejak kecil, dia tidak sekolah, saat dirinya beranjak remaja karena kebutuhan keluarga yang makin banyak, Sam memutuskan untuk mengikuti jejak sang Ayah. Lagi pula, pekerjaan apa yang bisa dirinya dapat jika hanya mengandalkan tulang? Kertas yang bernamakan ijazah, heh lupakan saja, Sam tidak akan pernah bermimpi sejauh itu untuk merasakan bagaimana duduk di bangku sekolah.


Awal pertemuannya dengan Ayaz sungguh akan selalu Sam ingat dalam hatinya. Hari itu, hari di mana Sam pertama kali menginjakkan kakinya di rumah utama Sian, tidak ada yang mau berteman dengannya, rambutnya yang keriting mekar membuatnya terkucilkan, bahkan dengan orang yang statusnya sama dengannya, sesama pelayan selalu melemparkan pandangan tidak suka terhadapnya.


Hari itu, Sam sungguh lapar, dirinya kira mengambil sedikit roti yang sudah berjamur di dapur tidak akan menjadi masalah, toh paling sebentar lagi roti itu akan berakhir di tong sampah. Namun, begitu pilu saat Sam melihat, seorang anak remaja yang tampan, namun mempunyai tubuh kurus membelanya saat dirinya dituduh mencuri.


Ayaz namanya, awalnya Sam kira, Ayaz sama sepertinya, namun sebuah kenyataan membuatnya begitu bersyukur atas hidup yang dirinya jalani, nyatanya Ayaz, sedari kecil hidup pria itu sudah malang tiada hingga.


Saat itu juga, dirinya dan Ayaz berteman, pernah juga Ayaz dihukum hanya karena merawatnya yang tengah demam, hal itu, juga tidak akan pernah Sam lupakan di sepanjang hidupnya.

__ADS_1


Seorang putra raja harus mengalami hidup yang begitu menyedihkan.


Sam mulai mengalihkan perhatian, ada sebuah jurang di dekat jalan, tidak terlalu dalam! Namun bagi Sam, lebih baik dirinya mati berakhir dimakan oleh binatang buas dari pada harus menjadi budak manusia.


Preman yang mengawasinya mengendus kecurigaan, preman itu membiarkannya, namun dua orang preman lainnya sudah lebih dulu menjatuhkan diri ke dasar jurang, sungguh perjuangan kabur yang sia-sia.


Sam ditangkap, meski diperlakukan secara hormat, namun membutuhkan  sedikit paksaan untuk membawa tubuhnya berakhir di sebuah rumah megah. Lebih megah dari rumah utama kediaman Sian.


Sejak saat itu, namanya yang hanya Samudra Rangga, bertambah panjang menjadi Samudra Rangga Donulai.


Flashback off.


Saat ini, kau memegang kendali penuh, temukan dia, temukan seseorang yang sangat berharga.


Aku, hanya bisa bergantung padamu, kami akan memberikan pembekalan, apapun itu kalau kau membutuhkan sesuatu hubungi kami di sini.


“Aku kembali, akan kutemukan kau dalam keadaan hidup, pasti!”


“Bagaimana rencanamu?” tanya Marco.


“Tuan sepetinya begitu khawatir!”


“Ayaz, musuh kali ini bukanlah kelompok yang bisa kau anggap sepele, setelah tiga bulan, baru kali ini aku memberikan kau misi lagi.”


“Lalu, bukankah tidak ada yang berubah dariku? Atau, bagimu di sini sudah tertanam ketakutan sebelum berperang! Hahahaha!” gelak tawa Ayaz terdengar menggelegar.


“Aku bajingan Ayaz, bukan rendahan!” tegas Marco.


“Seorang bajingan akan dengan bangga mengatakan dirinya bajingan, namun seorang rendahan sekalipun itu budak, tidak akan mau menganggap dirinya rendahan. Meski mulut mengatakan iya, namun hati pasti sulit menerima!”


“Kau!”


“Jangan terlalu dianggap serius Tuan Marco Arash, bukankah kita sudah biasa saling mengatai lalu tergelak bersama!”

__ADS_1


“Mengenai itu, kecuali kau, sulit bagiku untuk marah padamu!” Marco tersenyum samar, Ayaz Diren! Nama itu, entah mengapa, bukan hanya karena Ayaz sudah begitu banyak berkontribusi mengumpulkan harta kekayaannya. Namun rasanya, seorang Ayaz Diren, ada rasa ingin melindungi yang dirinya tujukan untuk Ayaz seorang, selama ini sifat keras Marco yang tidak akan pernah berbelas kasih pada siapapun bagai harus runtuh jika menyangkut tentang Ayaz.


Hati adalah hati, dan batu adalah batu, hati bisa melunak, apapun itu alasannya, suatu hari nanti pasti akan ada yang mampu menggoyahkannya.


“Aku harus menganggap itu sebagai apa?” tanya Ayaz, wajahnya sengaja dibuat terharu.


“Terserah kau saja, dasar bodoh!”


“Kalau dikatai bodoh, jelas saja itu sebuah pujian! Hahahaha!” Ayaz tergelak lagi. Berbicara dengan Marco, bercanda begini kadang membuatnya bisa menghilangkan sejenak beban yang selalu membuat sesak di dadanya.


“Ayaz, dengarkan aku!” ucap Marco yang mulai serius, kali ini dirinya benar-benar harus membentengi hati Ayaz tentang keyakinan.


“Jika umpamanya kau tidak mau melanjutkan ini, tidak usah...”


“Hey, hey, ada apa Tuan? Kau sama sekali tidak berkeringat dingin namun mengapa berbicara tentang ketakutan, bahkan misiku saja belum dimulai.”


Marco menatap mata Ayaz lama, mata tajam itu pasti akan mampu melindungi Ayaz. Bukan hanya melihat dunia, hal besar yang harus bisa Ayaz lihat adalah isi di dalam kepala musuh.


“Aku yakin, kau tidak akan pernah mengecewakan!” Marco tidak bisa menahan untuk melayangkan pujian pada anak buahnya itu. Marco terlalu berbangga hati karena bukan hanya peperangan dan misi yang Ayaz menangkan, sebenarnya hatinya juga sudah berhasil dimenangkan Ayaz.


“Jika aku kembali padamu dalam keadaan sudah tidak bernyawa, kuharap kau bisa tetap mencari keluargaku, katakan pada keluargaku, aku tidak pernah membenci mereka meski mereka seperti mengasingkanku!”


“Katakan juga bahwa ibuku! Putri mereka sudah tiada, dan aku sangat berharap sebuah penghormatan sekali saja. Tidak untukku, aku tidak mengharapkan hal yang terlalu payah begitu, namun setidaknya untuk mendiang Ibuku! Bagaimanapun, Ibuku masih sedarah dengan mereka!” ucap Ayaz, kali ini dirinya juga mencoba serius menanggapi segala ketakutan Marco.


“Mereka, yang sama sekali belum pernah aku lihat bagaimana bentuk rupanya.”


“Kau harus kembali dalam keadaan hidup, kau tidak diperkenankan menyusahkanku, aku sudah tua, kau mau aku menopause sebelum waktunya?” ucap Marco diiringi gelak tawa.


“Hahahahaha!”


 Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2