
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Para saksi di sebuah kamar hotel tersebut dengan lantang menyerukan kata sah atas pernikahan Ayaz Diren dan Yaren Motan.
Rymi nampak begitu semangat, lain halnya dengan Marco yang nampak gelisah, tidak ada raut kebahagiaan terpancar dari rona wajahnya, namun reaksinya juga tidak menunjukkan bahwa dirinya menolak pernikahan ini.
"Selamat yaaa!" girang Rymi. Wanita itu memeluk Ayaz dengan penuh haru, kemudian beralih ke arah Yaren, dirinya menggantungkan harapan supaya wanita yang dinikahi sahabatnya itu bisa menjaga sahabatnya dengan baik.
"Rym, sudah!" ucap Ayaz.
"Kau harus ke rumahku nanti, kalian harus menginap di rumahku pokoknya." rengek Rymi.
"Rymi, pergilah, satu jam lagi jam masuk kantormu!" suruh Marco.
Ayaz mengangguk, dirinya juga setuju.
"Iya Bos!" ucap Rymi.
Wanita itu berpamitan pada Ayaz dan Yaren, dirinya akan berangkat ke kantor segera, harus bekerja sama lagi dengan Rangga, Bos yang baginya sangat menyebalkan.
"Hati-hati ya!" ucap Rymi menggoda Yaren lagi sebelum dirinya keluar dari kamar itu.
Yaren hanya tersenyum paksa menanggapinya. Namun terselip juga rasa takut akan Ayaz, benarkah apa yang dikatakan Rymi?
"Kau kenapa?" tanya Ayaz pada istrinya. Ah istri, yang benar saja!
"Tidak apa?" jawab Yaren.
Semua orang berpamitan, termasuk Argantara. Yaren berharap Papanya itu akan mengatakan beberapa pesan dan kesan untuk pernikahannya. Namun nyatanya tidak, pria paruh baya itu lebih memilih untuk berlalu memninggalkan Yaren. Ini adalah kedua kalinya, Argantara pergi tanpa menatapnya, hati Yaren sungguh sakit, remuk redam, mengapa nasibnya begitu menyedihkan?
"Kau bersedih?" tanya Ayaz lagi.
"Tidak!" tegas Yaren. Dirinya sudah memutuskan untuk menerima nasibnya, menikah dengan Ayaz, meski tidak ada cinta diantara mereka, namun selama Yaren menurut maka hidupnya akan baik-baik saja, Ayaz bisa memperlakukannya dengan baik, semua kebutuhan hidupnya bahkan Ayaz sangat memperhatikan itu, hanya saja Ayaz tidak bisa diatur sesuai kehendak Yaren, Yaren memang masih mengeluh tentang hal itu, namun tidak apa, dari pada harus hidup satu atap dengan orang-orang yang tidak bisa mengerti dirinya sama sekali, lebih baik terang-terangan saja dirinya menjual hidupnya pada Ayaz.
"Ayaz!" seru Marco.
"Ya!"
"Selamat atas pernikahanmu!" ucapnya.
__ADS_1
"Heh. Kau tenang saja Tuan, pernikahan ini tidak akan membuatku berpaling dengan mudah darimu, hanya saja kau harus sedikit bekerja keras, lihatlah dia sangat cantik bukan! Kali saja aku lebih mempertimbangkannya suatu hari nanti!" ucap Ayaz tanpa dosa, bahkan dirinya berbicara itu di hadapan Yaren, tidak peduli Yaren menganggap seperti apa maksud ucapannya.
Marco tersenyum samar, "Jika kau sudah memutuskan begitu, maka selamanya kau harus menjaganya!" ucap Marco.
Seketika bayang Nindi menghampirinya, kalau saja Nindi mau menunggunya, mau bersabar dan masih terus menemaninya, mungkin dirinya tidak akan seperti ini, mungkin juga ada harapan untuknya dan Nindi bahagia.
Wanita itu, adalah keindahan dengan sekaligus racun yang suatu hari nanti bisa membunuhmu.
"Setidaknya sampai diriku sebelum berangkat ke Itali!" cetus Ayaz.
"Apa?" kaget Yaren.
Itali, apa lagi maksudnya ini?
"Siapa namamu Nak?" tanya Marco pada Yaren.
"Eh, Yaren Tuan!"
"Yaren, nama yang bagus, apa yang kau mau minta dariku, kira-kira sebagai hadiah pernikahanmu?" tanya Marco.
"Apa?" tanya balik Yaren.
"Iya, kau boleh meminta satu permintaan dariku, apa saja!" ulang Marco.
"Tuan, saya rasa itu tidak perlu!"
"Jangan dianggap serius Yaren, minta saja apapun?" ucap Ayaz.
"Aku, bagaimana bisa? Emm, bagaimana kalau Ayaz saja yang minta!" ucap Yaren, "Aku akan menyetujui apapun permintaannya!" lanjutnya.
"Benar begitu?" tanya Marco memastikan.
"Iya Tuan!"
"Baiklah! Apa maumu Ayaz?" tanya Marco lagi.
Ayaz tersenyum smirk, "Aku mau, kau hancurkan perusahaan Argantara, Tuan Marco Arash apa anda bisa melakukannya?"
Yaren melotot tidak percaya, bagaimana bisa Ayaz punya pemikiran seperti itu, menghancurkan perusahaan Argantara, itu berarti sama saja menghancurkan keluarganya.
"Ayaz, tidak, jangan lakukan itu, bagaimana bisa?" protes Yaren.
"Bukankah kau akan menyetujui apapun permintaanku!" ulang Ayaz lagi, menekankan apa yang baru saja Yaren katakan.
__ADS_1
"Iya, tapi mengapa harus perusahaan Papaku!" keluh Yaren.
"Papamu? Seseorang yang sama sekali tidak melihatmu, bagaimana mungkin kau masih bisa menganggapnya seorang Papa, jangan terlalu berluas hati, orang tidak akan memandang tinggi dirimu hanya karena kau melalukan itu, kalau aku jadi kau sudah lama hancurnya Argantara itu!" ucap Ayaz marah.
Tadi, saat dirinya menikah. Yaren, wanita itu tidak berhenti melihat ke arah Argantara mencuri-curi pandang, Ayaz bisa melihat betapa Yaren sangat merindu. Namun apa, Argantara, mertuanya itu bahkan tidak memandang Yaren, Argantara seolah melupakan bahwa dirinya mempunyai seorang putri.
Entahlah, sifat Ayaz yang tidak pernah peduli terhadap sesama harus dirinya hapuskan jika itu menyangkut tentang Yaren.
"Tapi..."
"Akan aku kabulkan, sesuai permintaan!" ucap Marco, pria paruh baya itu tersenyum smirk.
Bukan hanya karena masalah Ayaz, namun dirinya juga mempunyai masalah tersendiri terhadap Argantara.
"Kau tinggalkan hidupmu, tinggalkan kenangan tentang keluargamu, kau sudah menjadi istriku, aku sudah menuruti keinginanmu, sekarang giliranmu Yaren. Hahahaha!" tawa Ayaz menggelegar, bak seorang iblis yang begitu menyeramkan.
Yaren, hanya bisa menunduk dalam, bagaimana mungkin dirinya merasa seolah telah dijebak dengan memanfaatkan hubungannya dan Ayaz.
"Sekarang hanya ada aku dan kamu, hiduplah untukku, bukan orang lain!" ucap Ayaz, yang lagi-lagi menyakiti hati Yaren.
"Ii iya Ayaz." pasrah Yaren.
"Jadilah penurut, maka akan kuberikan kebahagiaan yang tidak terhingga untukmu!" bisik Ayaz tepat di telinga Yaren.
Dengan reflek karena saking takutnya, Yaren malah mengangguk teratur. Hari ini, bukannya bisa bebas dari belenggu seorang Ayaz Diren, malah Yaren terlihat semakin masuk ke dalamnya.
"Aku akan keluar, dan kembali saat malam nanti, persiapkan dirimu!" ucap Ayaz, matanya mengerlingkan genit menatap Yaren.
Kemudian pria itu pergi bersama Marco, ada hal penting yang harus mereka urus.
Meninggalkan Yaren dengan air mata yang tanpa bisa dirinya tahan. Mengapa Ayaz begitu memandang rendah dirinya.
Tapi, jika Ayaz benar-benar balas dendam dengan keluarga Argantara, bukannya itu juga menguntungkan baginya, dirinya ingin tau bagaimana kehancuran perusahaan Papanya, dengan begitu apa Ibu tiri dan saudara tirinya masih bisa terus berada di sisi Papanya jika Papanya sudah bangkrut nanti, atau mungkin malah menghilang tidak berjejak, takut hidup dalam kemiskinan.
"Sebenarnya siapa Ayaz, siapa Tuan Marco, mengapa mereka berdua terlihat sangat mengerikan?" gumam Yaren.
"Apa benar Ayaz akan melakukan itu, apa benar begitu?"
Yaren mengingat kembali pertemuannya dengan Ayaz, dia yakin Ayaz bukanlah orang sembarangan, siapa Ayaz sebenarnya?
Penjahat, yang bisa melakukan apa saja, dan dengan gilanya dirinya malah menjadi istri seorang penjahat itu.
Oh, ya Tuhan!
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...