
Kediaman utama keluarga Donulai yang bertempat di Itali sudah ramai dikunjungi para pelayat, ternyata selama ini ia memiliki agama yang berbeda dengan keluarga ibunya.
Donulai adalah penganut Katolik Roma, dan neneknya itu dimakamkan menurut kepercayaan agama tersebut.
Banyak orang berbisik-bisik karena mungkin saja Tuan Donulai sudah memberitahu mereka bahwa Ayaz adalah pewaris satu-satunya keluarga Donulai, Ayaz tersenyum smirk, bukankah rasanya Tuan Donulai cukup percaya diri.
"Ayaz!" seru Tuan Donulai, saat adiknya itu sudah selesai dimakamkan.
Ayaz mendongak, ia menatap santai pada orang yang menganggap diri sebagai kakeknya itu, dan juga sekaligus adalah Ayah angkat dari Sam sahabatnya.
"Selamat datang di rumahmu!" ucap Tuan Donulai,
"Aku tidak merasa begitu!" sahut Ayaz, ia hendak berpaling namun tangannya dicegat oleh Tuan Donulai.
"Kau tidak bisa seperti ini, kau tidak bisa membenci kami seperti ini, bukankah sudah Sam jelaskan padamu, bahkan aku juga sudah menjelaskan padamu bahwa bukan kemauan kami, hal yang terjadi dulunya kami sama sekali tidak mengetahui, keadaannya berbeda?" jelas Tuan Donulai.
"Apakah begitu mudah bagi kalian membuang sebuah keluarga?" tanya Ayaz.
Yah jelas saja Ayaz menanyakan itu, karena jika saja Tuan Donulai mau sedikit saja peduli tentang Daslah yang menikah dengan pria di negaranya itu, mungkin apa yang terjadi pada dirinya dan sang Ibu juga tidak akan separah itu, mereka setidaknya masih bisa terselamatkan, namun apa, sayangnya semua itu bagai sudah sangat terlambat.
"Ayaz kau tidak mengerti..." Tuan Donulai sangat menyayangkan itu.
"Apa maksudmu yang tidak aku mengerti? Apakah aku adalah anak berumur tujuh tahun yang bisa kau bohongi? Yang bisa kau iming-imingkan dengan harta?" Ayas menggeleng pelan, "Kau salah jika menganggap aku seperti itu, aku sudah biasa hidup susah dan kekurangan, bahkan hidupku terlalu menyedihkan, jadi aku tidak minat sama sekali dengan harta megahmu ini, jika tidak ada yang mewarisinya maka kau bisa membakar semua ini." sahut Ayaz.
"Aku sama sekali tidak tertarik!"
__ADS_1
"Lagi pula untuk apa aku memikirkan perasaanmu, sedang saat aku membutuhkan kalian dulunya, kalian tidak tahu menahu tentang diri kami, aku dan ibuku harus berjuang menghadapi kebrutalan Sian, bukan waktu yang sedikit, selama bertahun-tahun pernahkah kalian sedikit saja mau memperdulikan Nyonya Daslah hingga setidaknya ada secercah harapan untuk hidup kami yang lebih baik." lanjut Ayaz.
Ayas begitu marah ia mengungkapkan seluruh isi hatinya.
"Iya tidak terima, karena baginya keadaannya sekarang benar-benar sudah sangat terlambat.
"Kau akan menyesal Ayaz!" ucap Tuan Donulai.
"Lakukan apapun yang kau mau, aku lebih baik mati dari pada harus menurut padamu! Aku bukan pesuruhmu, jika kau masih menganggapku sebagai keluarga seharusnya hal yang pertama kau lakukan adalah membiarkanku hidup tenang tanpa bayang-bayang dirimu dan melepaskanku!" ucap Ayaz kemudian ia berlalu pergi.
Tuan Donulai ingin mencegahnya namun entah mengapa tangan itu rasanya begitu kaku, ia tidak bisa menahan kepergian Ayaz, air mata yang menggenang di pelupuk itu akhirnya terjatuh juga, begitu keras hati kah cucunya itu hingga memaafkannya saja rasanya begitu sulit atau begitu salahkah dirinya dan keluarganya yang telah membuat Ayaz menjadi semacam itu, memupuk rasa benci karena bertahun-tahun terabaikan.
Tuan donulai memegangi jantungnya yang mulai sakit namun ia mencoba untuk menahan segalanya.
Ayaz berjalan lurus ke depan, ia menatap Marco yang sedang menemani Yaren, ia akan meminta Marco dan Yaren untuk segera pergi dari kediaman Donulai ini.
"Ada apa?" tanya Yaren saat Ayaz sudah mendekat ke arahnya, dilihatnya tatapan sang suami yang tidak begitu bersahabat, Marco tidak heran lagi, mungkin saja Ayaz baru saja mendengar suatu kata yang sangat tidak pantas dilayangkan Tuan Donulai.
"Bisa kita pergi dari sini ucap Ayaz pada Yaren dan Marco.
Marco mengangguk sementara Yaren tampak bingung namun tanpa menunggu persetujuan Yaren, Ayaz langsung saja mengambil alih tangan istrinya itu dan membawanya keluar, Marco mengikuti dari belakang.
Dalam perjalanannya Ayaz bertemu dengan Sam, Sam mencoba menghentikannya untuk pergi namun semua itu sia-sia.
Marco menghampiri Sam, ia berkata "Bukankah kau sudah mengetahui, kau adalah orang yang begitu banyak mengetahui tentang dirinya, bisakah kau sedikit mengerti bahwa semua ini tidak mudah bagi Ayaz, aku menemukannya di sebuah truk saat aku membawa banyak barang dulunya, ia bersembunyi dengan wajah ketakutan serta babak belur, lalu aku menghajarnya habis-habisan namun dia sama sekali tidak melawan ia mengatakan lebih baik ia mati dari pada harus menjalani hidup lagi."
__ADS_1
"Aku tidak suka pria yang lemah, tapi entah kenapa mungkin juga karena sebuah takdir aku memakluminya, aku yang menyelamatkannya, memberinya obat serta memberikan perawatan untuknya, walaupun bukan dari tanganku."
"Lalu setelah dia pulih, aku menanyainya, mengapa kiranya ia mengatakan itu, mengatakan ingin mati saja! Ayaz berkata ia lebih baik mati dari pada harus menghadapi kerasnya dunia! Aku kira dia hanya mengeluh, namun setelah mendengar ceritanya aku bisa mengerti siapa yang sanggup diperlakukan seperti itu, kau tahu dalam ceritanya hanya ada satu nama yang selalu ia rangkai dalam sebuah kalimat baik, nama itu adalah nama dirimu dan aku berbahagia bisa melihat orang dengan nama yang disebut oleh Ayaz waktu itu, aku sangat berterima kasih padamu kau telah menyelamatkan Putraku." ucap Marco.
Sam tercengang, ia menatap Marko dalam ia mengetahui bahwa Ayaz dan Marco adalah Ayah dan Anak, namun mendengar pengakuan ini dari mulut Marco langsung, rasanya begitu sesak.
Dulu ia sempat membenci siapapun yang nantinya menjadi ayah kandung Ataz namun sekarang yang dilihatnya mengapa Ayaz seolah mudah saja memaafkan pria itu? Mengapa tidak dengan Donulai?
"Aku juga belum diterima olehnya, namun saat ia merasa terpuruk waktu itu meski aku tidak sengaja, meski aku tidak mengetahui bahwa dia adalah putraku, aku mencoba melakukan yang terbaik untuk membuatnya tangguh, itu yang bisa kulakukan, mungkin karena itulah Ayaz bisa mempertimbangkan ini."
"Sedang Donulai, mereka tidak melakukan apapun!"
"Tuan tidak bisa berkata seperti itu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi!" bantah Sam, ia tetap membela Donulai.
"Kalau saja Daslah tidak kembali ke Itali dan menceritakan semuanya atau kalau saja Ayaz adalah seorang perempuan, apakah kalian akan mencarinya seperti ini?" tanya Marco.
"Orang yang menjadi Ayah angkatmu itu adalah orang yang hanya mengetahui kekuasaan saja.
Aku bukannya menghasut, aku berkata seperti ini karena aku sudah bertemu dengan berbagai sifat manusia."
Sam menggeleng pelan, ia cukup marah saat mendengar Marco mengatakan itu tentang Donulai , ia merasa Marko tidak mengetahui apapun namun dengan lancang beraninya mengatakan Donulai keluarga semacam apa.
"Tetaplah pada pendirianmu! Jangan berubah, karena jika saat kau berubah maka saat itu kau sudah tidak akan ada artinya!" Marco memberi peringatan.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...