
Ayaz mempercepat langkahnya, menuju ruang UGD untuk menemui Rymi. Wanita itu baru saja mengabarkan bahwa Marco kecelakaan.
"Ayaz..." panggil Rymi saat Ayaz sudah berada tidak jauh darinya.
Ayaz segera mendekat, pria itu langsung saja memeluk Rymi, mencoba menenangkan Rymi dari kekhawatiran, memberikan Rymi kekuatan lewat pelukannya.
"Ayaz, aku... Aku hanya bercanda menyuruhnya mati." lirih Rymi saat masih di pelukan Ayaz.
"Dia akan baik-baik saja."
Jika saja Ayaz tidak mengetahui apa hubungan Marco dan Rymi mungkin dirinya akan keheranan melihat Rymi yang tampak sangat mengkhawatirkan Bos mereka itu. Namun, karena Ayaz sudah tau, dirinya cukup mengerti bagaimana perasaan wanita itu.
"Dia mabuk lagi?" tanya Ayaz.
"Iya, titik kecelakaannya tidak jauh dari klub malam yang disambanginya." jawab Rymi.
"Dia itu." geram Ayaz.
Rymi menangis lagi, sebentar lagi Marco akan di bawa ke ruang operasi, mengingat betapa parahnya kerusakan mobil yang dipakai oleh Marco, Rymi sudah bisa menebak bagaimana keadaan Marco saat ini. Kritis.
"Tenang Rym." ucap Ayaz.
Ayaz mengeratkan pelukannya, mengusap lembut puncak kepala Rymi. Rymi terisak tak terhindarkan.
"Merve..." seru seseorang.
Rymi mendongak, mengedarkan pandangannya dan menemukan Sam berada tak jauh darinya.
"Ayaz..." ucap Sam lagi, pria itu sungguh terkejut melihat siapa yang tengah memeluk Rymi.
"Rangga..." Rymi tak kalah terkejut, mengapa Bosnya itu bisa berada di sini. Segera ia melepaskan pelukannya.
"Sam." seru Ayaz.
"Apa kalian..."
"Dia adikku!" jawab Ayaz cepat, ia tidak mau Sam sampai salah paham.
"Adik?" tanya Sam. Cukup mengherankan, bukannya Ayaz adalah anak tunggal. Atau mungkinkah Merve yang dirinya kenal adalah adik tiri Ayaz. "Benarkah Merve?" tanya Sam pada Rymi juga.
"Iya." jawab Rymi singkat, peduli apa? Adik atau apapun bagi Rymi sama saja, seharusnya kalau Ayaz tidak punya istri Rymi pasti akan mengatakan Ayaz adalah kekasihnya supaya Bosnya itu berhenti untuk mendekatinya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ayaz mulai berbasa-basi untuk menghilangkan rasa canggung.
"Baik! Kau sendiri?" tanya Sam.
"Aku baik."
Sam berpikir keras, bukankah yang saat ini sedang sakit adalah orang tua Rymi, apa mungkin Ayaz sudah menemukan Ayah kandungnya, sehingga mereka berdua...
"Ayaz, boleh aku bertanya?" tanya Sam.
"Ya, silakan!"
"Apa, kau sudah menemukan ayah kandungmu, apa kau dan Rymi saudara satu ayah?"
"Eh."
Rymi dan Ayaz terlibat saling pandang, Rymi bukanlah anak kandung Marco, sementara Ayaz merasa dirinya bukan siapa-siapa Marco selain statusnya sebagai anak buah maka tidak ada status yang lebih antara mereka. Haruskah ia dan Rymi menjawab pertanyaan Sam dengan kebohongan, apa ini adalah bagian dari misi juga?
"Emm..." tepat saat Ayaz hendak menjawab, Marco dengan keadaan yang cukup memprihatinkan dibawa dengan brangkar, keluar dari ruangan UGD menuju ruangan operasi.
"Daddy..." teriak Rymi. Ia tidak percaya, Daddynya yang kuat kini sedang terbaring lemah.
Ayaz menatap tubuh Marco yang dibawa oleh perawat. Mengapa ada kesakitan saat ia menatapnya? Mungkinkah karena Marco adalah orang yang cukup dekat dengannya terlepas dari apa yang mereka debatkan beberapa hari kemarin.
"Ayaz, dia tidak akan mati kan?" tanya Rymi. wajah yang penuh luka serta darah yang tidak berhenti keluar dari kepala membuat Rymi terang saja berpikiran buruk. Melihat kenyataan seperti itu membuat wanita itu selalu saja menyesali kata-katanya meski dirinya hanya bercanda waktu itu.
"Tidak Rym. Sadarlah, Daddymu akan baik-baik saja."
"Rym?" tanya Sam lagi, mengapa banyak sekali hal yang ditemuinya saat memutuskan untuk menyusul wanita ini ke rumah sakit pikir Sam.
Namun keterkejutannya tidak didengar oleh kedua manusia di hadapannya ini, baik Ayaz maupun Rymi sama-sama sedang dilanda kecemasan.
Ayaz membawa Rymi menuju ruangan operasi, mereka akan menunggu di depan sana. Sam, tanpa diminta pria itu juga berinisiatif untuk mengikuti.
...***...
Yaren sedang duduk termenung di ranjang, melihat kepergian suaminya yang begitu terburu-buru membuatnya berpikir mungkinkah telah terjadi sesuatu.
Ayaz sempat mengecup singkat keningnya saat ia yang di kira Ayaz masih tidur tadi.
Sebelumnya wanita bernama Rym itu lagi-lagi menelpon, mengabarkan sesuatu namun Yaren tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang keduanya bicarakan.
__ADS_1
Setelahnya, Ayaz langsung bergegas membersihkan diri kemudian pergi, mengapa Ayaz seakan tidak pernah menghargainya, apa salahnya mengatakan ke mana pria itu akan pergi supaya ia tidak dilanda kekhawatiran seperti ini.
Ayaz benar-benar penuh misteri, meski Yaren sudah bertekad untuk menunggu Ayaz menceritakan segala hal tentang pria itu sendiri padanya, namun bagi Yaren, Ayaz tidak seharusnya bersikap semaunya seperti ini.
"Apa semua yang dirinya katakan itu bohong?"
"Apa ada seorang istri yang tidak tau menahu tentang suaminya, suaminya pergi ke mana, dengan siapa? Ayaz membatasiku untuk mengetahui itu semua."
"Entahlah, mungkin aku tidak berharga baginya."
Yaren bergumam sendiri, memikirkan hubungannya dan Ayaz yang baginya sedikit tidak biasa. Hingga, suara ketukan pintu menyadarkan ia dari lamunannya tentang Ayaz.
Yaren melangkah menuju pintu, namun saat dirinya hendak membukakan pintu, lagi-lagi ia teringat akan ucapan Ayaz.
Yaren mengintip sedikit dari balik jendela, seorang pria seumuran Ayaz sedang menunggu dengan tenang di luar, dilihatnya pria itu kembali mengetuk pintu lagi.
Siapa dia?
Lama Yaren membiarkan, namun tidak juga ada pergerakan bahwa pria itu akan pergi.
Yaren semakin waspada, Ayaz bukanlah orang baik, kali saja pria dibalik pintu ini adalah salah satu musuh Ayaz, pikirnya mulai tak tenang.
Lima belas menit berlalu, setelah menunggu sekitar setengah jam pria itu sepertinya memutuskan untuk pergi, Yaren bisa melihat pergerakannya.
Namun sebelum pergi, pria itu mengambil sesuatu dari motornya untuk kemudian ia letakkan di depan pintu. Sebuah kotak berwarna merah. Pria itu juga menuliskan sesuatu pada selembar kertas, lalu ia letakkan di bawah kotak itu juga.
Mengedarkan pandangan, pria yang dicurigai Yaren itu kini berbalik melangkah menuju motornya kemudian benar-benar pergi.
Yaren menghela napasnya yang berat, setelah tadi dirinya sempat kesulitan menahan napas takut ketahuan.
Pelan Yaren membukakan pintu, dilihatnya kotak berwarna merah itu. Yaren menunduk, mengambil sebuah kertas yang berada di bawah kotak dan kemudian membacanya.
Untuk Yaren,
Aku tau kau berada di rumah, tidak apa jika tidak bisa membukakan pintu, aku cukup mengerti.
Hadiah kecil ini untukmu, maaf jika aku baru bisa datang sekarang.
Semoga kau selalu sehat, semoga Ayaz memperlakukanmu dengan baik, aku ingin sekali menemuimu... Jika aku ke sini lagi nanti, aku harap kau bisa membukakan pintu rumahmu ini untukku, lalu kita akan berbincang sebentar, akan aku katakan siapa diriku, hingga aku bisa merasa sedekat ini denganmu.
^^^Salam sayang, keluargamu! ^^^
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...