Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Penduduk gelap.


__ADS_3

Sam sampai di rumah sakit tempat jasad Ayaz di otopsi, dia segera melapor untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab atas jasad Ayaz.


Dalam perjalanannya di rumah sakit itu, ia bertemu dengan Amla, wanita itu mendekatinya "Ternyata, suamiku dan anak tirinya itu memang tidak bisa terpisahkan, lihatlah, bahkan sehari setelah dimakamkan, anak tirinya itu pun ikut menyusulnya ke bawah tanah." sarkas Amla.


"Tidak ada urusan denganmu, lebih baik kau mengurusi dirimu sendiri yang sepertinya tentu akan mendekam di penjara!" sahut Sam tak kalah sengit.


"Oh ya? Hahahaha! Kau yakin sekali..."


"Minggir!" bentak Sam, "Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu!"


"Oohh, Samudra yang kurus dan botak tiga belas tahun yang lalu, nyatanya sudah berani membentak orang tua!" Amla semakin gencar menggoda Sam, baginya kematian Ayaz benar-benar hal yang bisa menyenangkan pikirannya.


"Jika orang tua itu adalah kau, maka jangankan untuk membentak, mencekikmu hingga mati pun sungguh akan aku lakukan!" maki Sam.


"Kau... Sialan!" umpat Amla. "Tapi tidak apa, kali ini kau kumaafkan, karena hari ini merupakan hari baik, Ayaz sudah lenyap dari dunia ini, Oh... Kau tau? Itu sungguh kabar yang sangat menggembirakan!"


"Menjijikan!" Sam segera mendorong Amla hingga terjatuh ke lantai, "Enyah dari hadapanku, mulut busukmu itu benar-benar menjijikan, kau tidak punya hati, dasar Iblis!" murka Sam. Ia membungkuk dan kemudian mengapit rahang Amla dengan keras, di samping karena Amla yang berkata buruk tentang Ayaz, dirinya juga memiliki dendam tersendiri terhadap wanita itu, Ayah dan Ibunya mengalami gangguan mental karena di sekap selama empat tahun lamanya, apa sudah gila, siapapun pasti akan setuju jika menamai Amla sebagai Iblis berwujud manusia.


"Hahahaha!" dengan terbata Amla mencoba tertawa, pipinya mulai sakit karena Sam benar-benar mencengkram rahangnya dengan sangat keras.

__ADS_1


Sam melepaskan cengkeramannya, percuma ia memperlakukan Amla seperti itu, mengotori tangannya saja. Lagi pula ia harus dengan segera mengurus jasad Ayaz.


Sam berlalu meninggalkan Amla, ia langsung saja menemui dokter Diana, seseorang yang akan menjelaskan tentang kondisi Ayaz Diren yang sebenarnya.


Saat sampai di ruangan Dokter Diana ternyata di sana juga sudah ada ketua penyidik, seketika Sam tidak tau harus berbuat apa, dia ingin sekali menyalahkan ketua penyidik itu yang secara tidak langsung telah membuat Ayaz menemui kematiannya, namun meskipun tidak ditangani orang yang sama, kasus tentang kedua orang tuanya yang saat ini juga sedang berjalan ditangani oleh instansi terkait yang sama.


"Selamat pagi Tuan Rangga!"


"Pagi!" sahut Sam seadanya.


"Baiklah! Berhubung Tuan Rangga juga sudah datang, lebih baik kita langsung saja memulai penjelasannya!" ucap Dokter Diana.


"Baiklah Bu Dokter!"


Ucap Sam dan ketua penyidik itu bersamaan.


"Mengenai permintaan otopsi dari pihak penyidik pada kemarin sore tentang jasad yang ditemukan di sedan hitam yang dikendarai oleh saudara Ayaz Diren, kami selaku dari tim yang akan menyelenggarakan serangkaian proses otopsi tersebut, dengan ini menyatakan bahwa kami tidak bersedia!" ucap Dokter Diana


Ketua penyidik tampak terkejut, namun ia enggan membantah, ia akan mendengar lebih dahulu penjelasan detilnya.

__ADS_1


"Seperti yang sudah pihak penyidik ketahui, bahwa tubuh yang ditemukan dan di bawa ke rumah sakit ini untuk dimintai otopsi merupakan tubuh yang memang sudah hancur, hangus dan menyebabkan sulit dikenali."


"Kami juga sudah melakukan pemeriksaan, data-data terkait tentang Ayaz Diren sesuai dengan data yang telah pihak kepolisian berikan kepada kami, namun sayangnya di data itu tidak ditemukan satupun hal yang mengidentifikasi bahwa Ayaz Diren itu ada!"


"Apa maksud Dokter?" tanya Rangga benar-benar terkejut.


"Iya Pak Rangga, data itu bahkan diragukan keasliannya!"


"Tidak mungkin!" ucap pihak penyidik.


"Kami bahkan pernah memeriksanya!"


"Kalau Bapak tidak percaya silakan Bapak periksa lagi, ini data yang kemarin Bapak berikan pada saya!" Dokter Diana memberikannya map berisikan data yang katanya adalah milik Ayaz Diren.


Ketua penyidik mengambil data itu, di bacanya berulang kali, dan segera memeriksanya. Dan benar saja saat diperiksa dengan lebih jelas, data itu bahkan diragukan keasliannya.


Ketua penyidik bahkan tidak bisa percaya, ia menugaskan bawahannya untuk mengambil laptop yang saat itu mereka gunakan untuk memeriksa data Ayaz Diren, menurutnya hal ini begitu pelik, dan rasanya dia tidak akan mudah tertipu begitu saja.


Bagaimana bisa tiba-tiba Ayaz Diren menjadi seorang penduduk gelap.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


__ADS_2