Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kau akan menyesal Ayaz.


__ADS_3

"Kita harus bicara!" ucap Sam pada Rymi. Ia menatap Rymi penuh selidik.


Rymi tampak acuh, namun wanita itu akhirnya menurut juga. Ia membawa Sam menuju balkon, tak lupa mengambil beberapa minuman kaleng yang tersedia di kulkas.


"Ada apa?" tanya Rymi langsung saat keduanya sudah berada di balkon, duduk di sebuah kursi santai, sebenarnya Rymi sudah curiga mungkinkah tadi Sam mendengar percakapannya dengan Marco.


"Ini mengenai Ayaz!" ucap Sam.


Rymi tidak terkejut, baginya mungkin juga sudah waktunya sahabat Ayaz ini mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Apa?" tanya Rymi lagi.


"Apa yang kau ketahui, dan aku tidak!" todong Sam.


"Jadi kau sudah mengakui kalau kau memang kurang pengetahuan dibanding aku?" sindir Rymi.


"Langsung saja!" ucap Sam dingin.


Rymi mengambil satu kaleng minuman soda dan lalu membukanya, ia meneguk beberapa sebelum mulai menjelaskan.


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Rymi.


"Marco!" ucap Sam.


"Dia Daddyku!" jawab Rymi singkat.


"Merve!" keluh Sam. Rymi masih saja bercanda.


"Ingat Samudra! Aku bukan Merve!" ucap Rymi mengoreksi. Dia kesal lagi.


Keduanya terdiam, apa lagi nyali Sam sedikit menciut kala ditatap tajam oleh Rymi.


"Haaahhh!" Rymi menghela napasnya berat. "Dia ayah kandungnya Ayaz, seperti yang kau dengar tadi, ku harap kau tidak sengaja menguping!" lanjut Rymi.


"Jadi... Selama ini, Ayaz hidup dengan ayah kandungnya?" tanya Sam.


"Lebih tepatnya, tidak mengetahui, mereka sama-sama tidak mengetahui kalau mereka berdua adalah Ayah dan Anak." jawab Rymi.

__ADS_1


...***...


"Aku sudah lama menunggu kesempatan ini untuk membunuhmu, tapi setelah semuanya di hadapan mataku, mengapa aku tidak bisa menarik pelatuknya!" ucap Ayaz mulai meracau.


Pria itu mabuk, dirinya mengambil sendiri vodka di rak berbagai minuman alkohol milik Marco, mendengar kenyataan yang sudah terungkap dan dirinya juga harus berpisah sementara dari Yaren, membuatnya begitu kacau.


Marco tidak minum, pria paruh baya itu masih ingat akan pesan-pesan Rymi, ia berjanji tidak akan mabuk lagi.


"Apa kau menyesal tidak bisa membunuhku?" tanya Marco. Marco tau setelah ini, Ayaz bahkan tidak akan mengingat apa saja yang dirinya katakan saat dipengaruhi alkohol.


"Sedikit!" aku Ayaz, "Jika aku membunuhmu, maka kau pasti akan hilang dari dunia ini, dan entah mengapa aku seperti menyayangkan itu!"


"Mungkinkah, aku sudah menempati salah satu ruang di hatimu?" selidik Marco lagi.


"Heh!" Ayaz tersenyum miring, "Kau berharap seperti apa? Menganggap dirimu berarti? Hebat!"


"Lalu?"


"Sayangnya, kepercayaan dirimu itu harus aku akui, yaaahhh, aku bisa saja membunuh Ayah kandungku, tapi aku tidak bisa membunuh Tuan Marco Arash, aku sudah begitu banyak berhutang padanya, nyawa, kekuasaan dan segala ketangguhan ini, dia adalah orang yang membuatku menderita, namun sayangnya dia juga satu-satunya manusia yang menuntunku untuk bangkit!" racau Ayaz.


"Jadi, kau merasa berhutang budi? Begitu?"


Marco sakit saat mendengar itu, betapa anaknya membutuhkan sosok seorang ayah, hanya saja mereka terlambat untuk mengetahui yang sebenarnya.


Hingga kebencian sudah tertanam, hingga amarah begitu menguasai Ayaz, sehingga sulit untuk dipadamkan.


"Tidurlah!" titah Marco, ia meninggalkan Ayaz sendirian di ruang tamu, ia beralih menuju kamarnya. Pria itu juga membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi esok pagi.


...***...


Pagi menjelang, sebuah kekacauan terjadi. Berita terkini pagi ini, penemuan mayat di sebuah jurang di sekitar perbatasan kota, pihak kepolisian setempat sudah memeriksa mayat dengan dugaan sementara kecelakaan lalu lintas itu.


Mobil yang sudah hampir habis terbakar itu, serta mayat yang juga mengalami luka bakar hampir di seluruh tubuhnya, harus di identifikasi terlebih dahulu kebenarannya, apa kiranya penyebab mobil itu mengalami kecelakaan.


Amla begitu terkejut kala melihat berita pagi ini, dilihatnya mobil yang sudah hangus itu, mengapa rasanya ia seperti mengenalnya.


Ingin dirinya memastikan namun sayangnya itu sama saja mengundang kecurigaan. Ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk pergi ke TKP, mencari bukti sebanyak mungkin, apakah benar dugaannya tentang mobil yang mengalami kecelakaan itu.

__ADS_1


Jika berarti memang benar begitu, itu berarti Ibunya Samudra seharusnya ikut mati dalam kecelakaan itu, tapi mengapa yang ditemukan hanya satu mayat laki-laki.


Dan mengenai mobil itu, meski sudah terbakar ia masih bisa dengan jelas mengenali, mobil itu adalah mobil yang sama yang dilihatnya malam kemarin.


Apakah kecelakaan ini ada hubungannya dengan Ayaz, ia tidak curiga pada Sam yang di rasanya tidak akan bisa melakukan hal semacam itu, namun jika Ayaz, menyinggung lagi tentang suaminya yang juga belum ditemukan hingga kini, membuat Amla sedikit banyaknya mempercayai bahwa Ayaz yang dikenalnya sekarang memang benar-benar telah berubah.


Ia juga ingat saat Ayaz dengan mudah mengalahkan pengawal-pengawal di kediamannya ini, rasanya Ayaz benar-benar berpotensi untuk melakukan semua itu.


"Aarrgghhh sial!"


Ada dua kemungkinan, Ibunya Sam yang tewas dan dan lahap api hingga menjadi abu, atau kecelakaan itu benar-benar ada hubungannya dengan Ayaz.


Hampir satu jam berlalu, Amla dengn, cepat menerima panggilan telepon dari anak buahnya yang ia tugaskan tadi.


"*Ya!"


^^^"Benar Nyonya, itu benar-benar mayat orang kita!"^^^


"Aahh, sial!"


^^^"Saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, mayat itu akan di otopsi dan untuk wanita itu, tidak ada tanda-tanda kalau kecelakaan itu menyebabkan korban dua orang, itu berarti wanita itu kemungkinan memang diselamatkan dan kecelakaan ini disengaja." ^^^


"Kau ikuti saja terus prosedurnya dan kabarkan bagaimana nantinya, jika mayat itu akan diotopsi maka kita juga bisa tau apa yang sebenarnya terjadi."


^^^"Baik Nyonya*!" ^^^


Amla menutup panggilan telepon itu, ia benar-benar tidak bisa terima, Ayaz nampaknya begitu sulit dikendalikan, Amla bisa menebak kedua musuhnya itu memang akan bekerja sama untuk membalaskan dendam padanya.


Wanita itu tidak ada hentinya mengeram frustasi, suaminya juga hilang kabar hingga kini, sepertinya ia benar-benar harus menyerang Ayaz dengan senjata terakhirnya.


"Kau akan tau Ayaz, siapa yang kau coba hadapi... Sian bodoh itu mungkin bisa takluk padamu, tapi aku... Tidak akan aku biarkan kau bisa bernapas dengan tenang kali ini." gumam Amla dengan amarahnya, tangannya mengepal sarat akan kebencian.


Lalu, ia menyetel otomatis kursi rodanya, ia akan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Ada hal yang harus dirinya lakukan segera, karena untuk melawan Ayaz dirinya perlu untuk membuat pria itu jatuh dan seakan tidak bisa untuk bangkit lagi.


Ia menyuruh sopirnya untuk menyiapkan mobil, dengan percaya diri Amla melihat bayangan wajahnya di cermin, "Kau akan menyesal Ayaz, kau akan menyesal untuk semuanya."

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2