Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku?


__ADS_3

"Lepaskan dia!" pekik Ayaz.


Sian tersenyum miring, "Apa kau baru saja memerintahku?" tanyanya.


"Aku tidak memerintahmu, karena kau pasti akan melakukan itu. Bajingan!" geram Ayaz, "Brakk!" bersamaan dengan itu, tubuh Sian terpental jatuh karena tendangannya. Ayaz melakukannya dengan cepat, hingga Sian pun tidak sempat menyadarinya.


"Sialan!" umpat Sian.


Kedua anak buah Sian langsung saja bertindak, keduanya menyerang Ayaz dan perkelahian pun terjadi. Seharusnya dengan ilmu bela diri yang sudah terbekal dalam dirinya saat menjadi anak buah Marco, tentulah bukan hal sulit bagi Ayaz untuk mengalahkan keduanya.


Sian tampak terkejut melihat cara Ayaz berkelahi, lama tidak bertemu mengapa Ayaz begitu banyak mengalami perubahan, dari bentuk tubuh saja Sian sudah dibuat terkejut, lalu apa ini? Ayaz bahkan mungkin saja bisa berhasil mengalahkan anak buahnya sebentar lagi, anak buah yang tentu saja sudah terlatih, percayalah, Sian tidak akan menempatkan pemula untuk menjadi kaki tangannya.


Ayaz melihat ada peluang untuknya menyelamatkan Sam, setelah dirinya membuat tumbang kedua anak buah Sian itu, Ayaz dengan sigap membuka suntikan yang dibekalkan Rymi, mengarahkan benda itu tepat di lengan Sam, membuat Sam seketika pingsan karena tidak kuat menerima suntikan itu.


"Kau membunuhnya?" tanya Sian salah paham.


"Kau berharap begitu?" tanya balik Ayaz.


"Heh," Sian tersenyum miring, "Bagaimanapun, kau sudah menampakkan diri hari ini."


"Hei Tua Bangka, mungkin dulu kau begitu kuat untuk... Ah tidak tidak, aku yakin saat itu sebenarnya kau tidak cukup kuat, aku salah, akulah yang terlalu lemah, yah... Mungkin dulu aku yang begitu lemah, hingga tidak bisa melawanmu, bahkan untuk menyentuhmu saja aku tidak akan bisa, tapi sekarang... Kau benar, akhirnya kita bertemu lagi, dan kali ini aku rasa situasinya sudah berbeda." bersamaan dengan itu, Ayaz mengacungkan pistolnya di hadapan Sian, tapi Sian tak kalah cepat, pria itu juga sama menodongkan pistolnya pada Ayaz.


"Aku sudah lama menantikan hari ini." ucap Sian, matanya berkilat menatap Ayaz.


"Jadi, kau akan mengakhirinya?" tanya Ayaz.


"Kau! Aku akan mengakhirimu!"


"Anda terlalu percaya diri untuk mengatakan itu, apa kau tidak melihat sesuatu dari diriku?"

__ADS_1


"Kau!"


"Dengar! Bukan hanya kau, aku pun juga sudah lama menantikan hari ini!" ucap Ayaz tak kalah garang, ia memandang sengit Sian yang dianggapnya sebagai musuh paling ingin dirinya musnahkan.


"Peluru ini akan menembus tepat di otakmu!" ancam Sian.


"Apa yang kau harapkan dariku? Aku akan takut setelah kau mengatakan itu?" Ayaz melangkah semakin dekat, dengan tangan yang masih terarah memegang pistol, jari telunjuk itu siap untuk menarik pelatuknya.


Sian sedikit terkejut, Ayaz yang dilihatnya kali ini, bahkan tidak gentar sedikitpun saat berhadapan dengannya. Meski ia sudah mendengar rumor itu dari seseorang yang dirinya percaya untuk menyelidiki pergerakan Ayaz, namun ia tidak menyangka Ayaz akan begitu berubah, Ayaz yang saat ini berada di hadapannya, jelas saja bukan Ayaz yang disiksanya dulu, Ayaz bagai orang lain, sungguh berbanding terbalik.


"Aku sudah pernah menerima siksaan darimu, peluru ini sama sekali tidak akan bisa menghentikanku, "Tap!" Ayaz memegang cepat ujung pistol yang dipegang Sian, sementara tangan satunya dengan sigap mengarahkan pistol miliknya menyentuh tepat di kening pria setengah baya itu.


Pistol yang dipegang Sian terlepas tanpa perlawanan, tubuh Sian sedikit gemetar, mengapa ia bisa bungkam saat melihat tatapan mata anak dari seseorang yang pernah dicintainya itu.


"Baiklah, aku sedikit berbeda darimu, karena aku bukan orang yang pengecut, tentu saja aku tidak suka menyiksa orang yang lemah!" ucap Ayaz.


"Apa maksudmu?" tanya Sian.


"Bugh..." Ayaz menendang Sian, tepat di dada pria itu.


"Lawan aku, aku tidak suka menyiksa lawan yang lemah, pecundang!"


Sian tidak tinggal diam, mencoba melawan Ayaz, dirinya harus mengakui, Ayaz cukup gentle memintanya bertarung.


Sian mencoba ilmu bela diri terbaiknya, melawan Ayaz ternyata bukanlah suatu yang mudah, berapa kali bahkan serangannya tidak bisa sampai menyentuh pria itu.


Sementara Ayaz, "Bugh!" tiga hentakan dari kepalan tangannya, bersarang di dada Sian, darah segar tumpah keluar dari mulut Sian.


"Keparat!" umpat Sian.

__ADS_1


"Bagus sekali, aku tidak suka lawanku menyerah begitu saja, aku rasa kau mau bertarung sampai akhir denganku!" ucap Ayaz, ia begitu bangga atas umpatan Sian yang diterimanya.


"Kau!"


"Sian, kau akan mendapatkan siksaan yang lebih pedih dari pada yang aku dapatkan waktu dulu, aku berjanji untuk itu, Aaaarrgggh!" erangan itu terucap bersamaan dengan kaki Ayaz yang menghantam kuat dada Sian, Sian terpental beberapa meter, dan mata itu juga pelan terpejam.


Namun bersamaan dengan itu pula, seseorang juga terjatuh dengan keras di belakangnya, Ayaz menoleh, rupanya si preman berbadan gempal dengan perut buncit tadi, sebilah belati tepat tertancap di leher pria itu. Ayaz mendongak, lalu matanya menangkap Rymi yang masih bersikap santai saja, wanita itu bahkan sedang memainkan kukunya.


"Apa kedatanganku tidak tepat?" tanya Rymi, berekspresi kebingungan, seolah tidak tau apa yang baru saja dirinya lakukan.


Tadinya, wanita itu cukup khawatir karena Ayaz tak kunjung keluar dari Villa itu, lagi pula ia merasa keadaan di luar cukup aman, jadi ia berinisiatif untuk menyusul Ayaz.


Siapa yang tau, dalam salah satu ruangan yang diperiksanya, ia melihat Ayaz bahkan menghajar habis lawannya, Rymi manggut-manggut tidak jelas sambil menonton perkelahian itu, bahkan ia sempat menggerutu dan memberengut kesal karena Ayaz yang dinilainya terlalu serakah tidak memberikan bagian padanya.


Saat Rymi melihat Ayaz menumbangkan Sian, wanita itu ingin sekali memberikan dua jempol dan tepuk tangan meriah sebagai standing applaus untuk sahabatnya itu, namun urung dirinya lakukan kala melihat seorang preman bertubuh gempal, orang suruhan Sian itu mengarahkan senjata tajam tepat dibelakang Ayaz. Jadi, Rymi langsung mengambil belati yang tersimpan di ikat pinggangnya dan dengan cepat melemparkan tepat mengenai leher si gempal itu. Haruskah Rymi bangga atas pencapaiannya!


"Kau selalu hebat menggunakan belati!" puji Ayaz.


"Ck!" decak Rymi, "Hari ini aku berbuat dosa lagi karena kau!" Rymi menatap malas Ayaz.


"Ku kira dia lawan yang tangguh, mungkin faktor usia menjadikannya mudah diatasi." ucap Rymi lagi, menatap tubuh tak berdaya Sian dengan remeh.


"Aku bahkan belum puas menuntaskannya, tapi dia sudah tumbang duluan!" ucap Ayaz, dia juga tak kalah dengan Rymi saat menatap Sian dengan remehnya. Bibir bawahnya mencibir kecewa.


"Akan kau apakan dia?" tanya Rymi.


Ayaz menghembuskan napasnya pelan, "Akan ku urus dia, kau... Tapi Rym... Bisakah kau mengurus Sam?" tanya Ayaz.


"Aku?"

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2