
"Hah!" kaget Yaren.
"Kapan kau kembali?" tanya Yaren, wajahnya mendadak berubah menjadi masam.
"Kau sepertinya berharap aku lebih lama berada di luar?" tanya Ayaz.
"Hehe, enggak, aku nggak bilang gitu!" kilah Yaren.
"Kau juga sepertinya berharap aku akan cepat bosan denganmu!" lanjut Ayaz lagi, pria itu mendekatkan wajahnya, menatap Yaren intens, kepolosan Yaren bahkan membuat Ayaz semakin ingin berada dekat dengan wanita itu.
"Eeng eenggak siapa bilang?" gagap Yaren.
"Bukankah bibir ini tadi mengatakannya, bahkan ada tawa yang terdengar begitu senang." sindir Ayaz.
"Eh, tidak Ayaz, aku nggak seperti itu!" kilah Yaren lagi. Dalam hatinya bergetar hebat, takut saja bagaimana jika Ayaz marah padanya.
"Benarkah?"
"Iya, sumpah!" ucap Yaren mencoba meyakinkan.
"Tapi sayangnya aku nggak peduli, kau mau mengatakan apa, berencana seperti apa, memangnya apa peduliku, sekeras apapun kau berusaha maka sekeras itu juga hatiku akan tetap mempertahankanmu!" ucap Ayaz sembari mendelik tajam pada Yaren.
Yaren tertunduk, menghela napas berat, ya sudahlah jika sudah seperti ini.
"Minum ini! Persiapkan dirimu nanti malam, jangan mengecewakanku!" ucap Ayaz sembari memberikan satu kotak pil kontrasepsi untuk Yaren.
"Ayaz..."
"Jangan membantahku! Sudah cukup aku yang mengalah padamu!" dengus Ayaz kesal.
Pria itu menghidupkan televisi, duduk bersandarkan kepala ranjang, tidak peduli akan wajah Yaren yang begitu terlihat tegang.
...***...
Pulang kerja, Rymi mampir terlebih dahulu ke rumah Ayah angkatnya itu, dirinya akan menceritakan sebuah informasi yang didapatnya hari ini, benar-benar berguna Tuan Donulai membincangkan itu dengan Bosnya tadi.
"Ada apa?" tanya Marco.
"Aku punya beberapa informasi mengenai keluarga Donulai!" ungkap Rymi.
"Apa?"
"Rangga Donulai adalah benar seorang anak dari Tuan Donulai itu, dan Daddy tau, ternyata Tuan Donulai saat ini sedang mencari seseorang di negara ini."
"Benarkah? Dari mana kau tau?"
"Aku mendengarnya sendiri saat Rangga Donulai berbincang dengan Ayahnya sepulang dari bandara siang tadi."
__ADS_1
"Kau menguping?"
"Mau bagaimana lagi Dad, mereka berbicara tanpa mempedulikan aku, telingaku yang peka ini mendengarnya begitu saja, salahkan saja mereka mengapa harus berbicara di dekatku." jawab Rymi asal.
"Ya sudah, lalu apa lagi yang kau dapatkan?"
"Menyalahkanku menguping, tapi masih tertarik juga dengan info dari hasil ngupingku!" sindir Rymi. Tidak ada Ayaz di sini, jadi dirinya bisa leluasa bersikap manja dengan Daddynya.
"Tuan Donulai mengunjungi negara ini untuk merayakan hari kematian iparnya, maksudku suami dari adiknya, besok Tuan Donulai akan berziarah ke makam, dan juga dia akan mengunjungi makam Nona Nindi, aku tidak tau itu siapa, tapi besok jika bisa aku harus mengikuti mereka ke makam, atau kalau bisa Daddy suruh Ayaz saja untuk menjadi mata-mata mereka." ujar Rymi menjelaskan.
"Hemmm, begitu yaaa!"
"Kau tau siapa Nindi?" tanya Marco lagi.
"Ishh, sudah kubilang aku tidak tau!" geram Rymi.
"Ya sudah, nanti akan aku telpon Ayaz, menyuruhnya untuk mengikuti kemana perginya Tuan Donulai besok hari, kau yakin besok mereka pergi ke makam?" tanya Marco memastikan.
"Yakin Dad!"
"Ya sudah, kau pulanglah, istirahat yang cukup!" suruh Marco.
"Dad, mari kita pergi ke hotel tempat Ayaz menginap!" Rymi menarik turunkan alisnya seperti merencanakan sesuatu.
"Tidak usah mengada-ngada Rym, biarkan dia bahagia!" ucap Marco.
"Sudah, kau cepatlah pulang!" suruh Marco lagi.
Mau tidak mau kali ini Rymi menurut, dirinya dengan rasa lelah dan kantuk yang teramat mengendari mobilnya menuju rumah.
Marco masuk ke dalam rumahnya juga, diingatnya tadi sebuah informasi dari Rymi, 'Nindi' mengapa jantungnya seakan berpacu lebih cepat kala mendengar nama itu.
"Nama Nindi itu banyak, tidak mungkin kan dia sudah tiada!" gumam Marco.
Tangannya mulai mengetikkan sesuatu di laman pencarian internetnya. Rupanya rasa penasaran membawanya untuk segera mencari informasi tentang keluarga Donulai.
Ahmad Donulai, pendiri kerajaan bisnis yang berpusat di Itali. Klik biodata lengkap tentangnya.
Marco mengklik informasi tersebut, dan sebuah nama Samudra Rangga Donulai terpampang sebagai anak dari seorang Ahmad Donulai.
"Samudra Rangga Donulai. Mengapa dia hanya memakai nama Rangga Donulai di sini?" tanya Marco heran, satu informasi mengganjal akan dirinya catat dalam otaknya.
Marco mulai meretas sistem berita tersebut, dilihatnya tanggal publish yang begitu mencurigakan, tiga tahun lalu, pasti ada informasi yang diperbaharui.
Lalu Marco mencari-cari segalanya tentang keluarga Donulai. Namun sayang, keluarga itu sepertinya cukup mengedepankan privasi.
"Samudra, aku akan menyuruh Raihan untuk mencari informasi tentang pemuda ini, sekilas kulihat dia, wajahnya bukan keturunan Itali." gumam Marco. .
__ADS_1
"Sebenarnya siapa yang Donulai cari?" tanya Marco membatin.
Marco menyudahi pencariannya, dirinya mengirimkan email pada Raihan tentang apa yang baru saja dirinya temukan. Raihan pasti mengerti hal apa saja yang perlu dirinya kerjakan.
...***...
Sam sudah sampai di rumah mewah keluarga Donulai, raut wajah letih tidak bisa dirinya sembunyikan, hari ini karena begitu banyaknya perjalanan membuat dirinya benar-benar penat.
Sam ingin memanjakan dirinya sejenak, mungkin merendam tubuhnya di dalam bathup dengan sedikit tetesan aromaterapi akan membuat tubuhnya sedikit menjadi relaks.
"Sian! Dia tidak tau tentang Donulai? Aku harus memastikan itu, mengingat dirinya juga raja bisnis di negara ini."
"Tapi Ayah bilang, mereka tidak pernah memiliki hubungan kerja sama dengan perusahaan Sian."
Sam masih bergumam dengan pemikirannya sendiri.
"Aku harus secepatnya menemukan Ayaz, supaya bisa memenjarakan Sian! Si brengsek itu harus mendekam di penjara, atas kejahatannya!" geram Sam.
Yah, yang di cari keluarga Donulai adalah Ayaz.
Flashback.
"Tuan besar, ini adalah anak Nona Nindi! Dia hampir saja di bawa oleh Sian kalau saja kami tidak mencegahnya!" ucap para preman yang menangkap Sam itu melaporkan pada Tuannya.
"Kau benar cucuku?" tanya Tuan Donulai.
"Hah!" bingung Sam.
"Siapa namamu?" tanya Tuan Donulai lagi.
"Samudra. Sam, namaku Sam!" aku Sam jujur saja.
"Siapa nama Ibumu?"
"Apa maksudnya ini, hei dengarkan aku, kalian itu salah orang, aku mulai paham kalian mencari anaknya Nyonya Nindi kan, kalian mencari anaknya Sian sialan itu kan?" pekik Sam setengah berteriak.
"Apa maksud dia?" Tuan Donulai meneliti setiap orang suruhannya. Sam terperangah, bagaimana bisa semua preman dengan badan besar dan tegap itu malah takluk ditatap nyalang oleh seorang pria tua.
"Tuan lepaskan aku, yang kalian cari bukan aku!" mohon Sam.
"Siapa sebenarnya dia?" teriak Tuan Donulai pada semua orang suruhannya.
"Kami menemukan dia tengah dibawa oleh orang suruhan Sian, tangan dan kakinya terikat, kami mengira dia adalah seseorang yang Tuan cari, anaknya Nona Nindi!" terang salah satu preman itu.
"Bodoh!" umpat Tuan Donulai.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...