Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku juga telah jatuh cinta padamu.


__ADS_3

“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Nil, ia melihat pria yang tengah dekat dengannya itu tampak tengah berpikir keras.


Keduanya sedang berada di bangku taman di rumah sederhana milik Nil.


Dokter Amri menoleh, ia menatap Nil dengan senyum terpaksa. Saat mengingat hari ini, mengapa rasanya ia seperti orang yang kehilangan sesuatu.


Tahun kemarin, meski hanya memberikan hadiah kecil, ia masih merayakan hari istimewa ini dengan Yaren, sepupunya itu selalu saja menampikan wajah bahagia kala mendapatkan hadiah darinya.


Namun tahun ini, Yaren sudah menikah, ia tidak lagi bisa merayakan hari ini dengan Yaren. Dokter Amri merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.


“Tidak apa!” sahutnya pelan tidak ingin membuat Nil khawatir.


“Benar?” tanya Nil kembali memastikan.


Dokter Amri tersenyum ramah, ia menghela napasnya berat, “Apa kau pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya?” tanya dokter Amri memulai perbincangan dengan Nil untuk mencairkan suasana.


“Aku?” Nil mengangguk, “Pernah!”


“Dengan siapa?” tanya Dokter Amri spontan, ia sungguh tertarik akan jawaban Nil, sedikit penasaran tentang bagaimana hidup Nil dulunya.


Nil menatap Dokter Amri lama, ia tidak percaya akan jatuh cinta begitu mudahnya pada pria yang telah dengan berani merebut ciuman pertamanya itu.


Dengan Pak Dokter, aku jatuh cinta pertama kalinya dengan pak Dokter, jantung ini selalu saja berdetak lebih cepat jika aku sedang menatapmu begini.

__ADS_1


“Nil!” Dokter Amri mengayunkan telapak tangannya di hadapan Nil yang terbengong, “Kau kenapa?”


Mereka dekat, namun sayangnya sampai hari ini pun tidak juga ada kejelasan status tentang hubungan keduanya.


“Aahhh... Apa? Ada apa?” tanya Nil refleks.


“Kau ini kenapa? Sedang memikirkan apa?” selidik dokter Amri.


“Aku...”


“Kau memikirkan cinta pertamamu?” tanya dokter Amri menebak, namun ada sedikit perasaan tidak suka saat ia menayakan itu. Mungkinkah dirinya memang benar-benar sudah mantap hati dengan wanita ini pikirnya. Waktu itu bahkan ia sudah pernah memutuskan akan melamar Nil di sebuah cafe, namun pertemuan tidak sengajanya dengan Yaren hari itu, jujur saja sejurus membuat hatinya menjadi bimbang, satu minggu penuh bahkan isi kepalanya dipenuhi oleh Yaren.


Bagi Dokter Amri tidak semudah itu bisa melupakan seseorang yang sudah lama sekali menempati ruang hatinya ini. Karena Yaren bukan hanya spesial di matanya, namun juga berharga.


“Apa Pak Dokter juga merasakannya?” tanya Nil, membalas tatapan Dokter Amri yang baginya sangat menggemaskan.


“Merasakan? Apa?”


“Hati Pak Dokter sedang bertaut pada seseorang?” bisik Nil, tanpa sadar ia mengucapkan itu sembari semakin mendekatkan wajahnya.


Semakin mendekat, mata bertemu mata hingga sebentar lagi kening keduanya pasti akan bersentuhan jika saja Nil tidak menghentikannya.


Dokter Amri merasakan jantungnya berdegup kencang, sebenarnya Nil memang sudah berhasil menempati hatinya, hanya saja kedatangan cinta di masa lalu membuat sosok wanita itu teralihkan.

__ADS_1


“Apa Pak Dokter merasakan jantung Bapak berdetak tidak karuan, selalu ingin tersenyum saat membayangkannya?”


“Aku pernah merasakannya!” tutur Nil.


“Nil...” seru Dokter Amri gugup.


Nil tau, tidak sepantasnya ia melakukan ini, dengan sadar mendekati seorang pria dewasa, namun rasanya jika hanya berdiam diri saja sepertinya tidak akan ada yang berubah tentang hubungannya dan Dokter Amri.


“Aku pernah merasakannya... Dan saat ini pun aku sedang merasakannya!”


“Aku jatuh cinta pada pria yang tengah bersamaku saat ini, dia... Berada tepat di hadapanku!” Nil memejamkan matanya, kemudian tanpa menunggu persetujuan Dokter Amri, bibirnya yang mungil itu dengan lancang sudah bertindak duluan mendarat mulus di bibir milik dokter Amri.


“Cup!” mengecup lama, dengan mata yang masih tetap terpejam.


Mendapatkan serangan tiba-tiba donter Amri jelas saja gelagapan, namun naluri prianya juga berkata bahwa ia menginginkannya, jadi langsung saja ia mengambil alih permainan, menahan tengkuk Nil dan kemudian ******* penuh bibir mungil itu.


Yang secara tidak langsung juga mengisyaratkan pada Nil bahwa wanita itu sebenarnya tidak pernah mencintai sendirian.


“Aku juga Nil, aku juga telah jatuh cinta padamu, I love you!” ucap Dokter Amri menjeda ciumannya sebelum memulai lagi.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


 


__ADS_2