
Yaren sedang mempersiapkan dirinya untuk menemui seseorang yang katanya adalah temannya Ayaz, selama menikah dengan Ayaz baru kali ini Ayaz ingin memperkenalkannya dengan orang lain secara sengaja.
"Tidak usah cantik begini, yang akan kau temui ini pria lain!" ucap Ayaz kesal. Ia kesal melihat Yaren yang tampak memoles sedikit wajahnya dengan riasan, apa maksudnya coba?
"Tapi Ayaz..."
"Kau tidak mau menurut?"
"Ahh... Bukan begitu, tapi kan aku hanya ganti baju dan sedikit memakai..."
"Ahh sudahlah, yang seperti ini tidak diperlukan, kau ini kan sudah punya suami, kau hanya boleh terlihat cantik untukku saja." protes Ayaz yang saat ini sedang dengan kesalnya menghapus polesan bedak tabur di wajah Yaren, dasar Ayaz.
Sebenarnya Yaren itu hanya sedikit saja memakaikan bedak tabur di wajahnya, karena dia baru saja bangun tidur saat Ayaz memanggilnya untuk keluar menemui seseorang bernama Samudra. Ia mencuci mukanya dan kemudian ingin memoles wajahnya sedikit supaya lebih fresh, namun siapa sangka kalau Ayaz ternyata sudah berubah menjadi suami posesif. Yaren bahkan tidak percaya Ayaz akan menghapus bedak yang sudah dirinya kuaskan sedikit di wajahnya ini. Padahal hanya sedikit sekali.
"Nah, begini saja cukup!" ucap Ayaz pelan, ia berkata seperti tidak rela, yang dilihatnya kini Yaren bahkan begitu cantik, memakai riasan ataupun natural seperti itu bagi Ayaz istrinya itu tetap saja cantik. Ia jadi berpikir ulang untuk mengenalkan Yaren lada Samudra.
Tidak apa, kan hanya Samudra, dia itu bucinnya Rym, kurasa mana mungkin dia tertarik dengan istri cantikku ini.
Ayaz bergumam lirih dalam hatinya, setelah Samudra, mungkin Ayaz tidak akan mengenalkan Yaren pada siapapun. Terdengar egois namun itulah kenyataannya, Ayaz tidak mau wajah istrinya dilihat banyak orang, cukup untuk dan hanya dirinya saja.
Ayaz mematung karena menyayangkan wajah Yaren, tanpa mendengar Yaren yang sudah memanggilnya beberapa kali.
"Ayaz..."
"Ehh..." kaget Ayaz, ia tersadar saat Yaren menepuk dadanya sedikit keras.
"Kamu kenapa sih? Ayok, katanya mau bertemu sahabatmu?" ajak Yaren sembari menarik tangan Ayaz menuju keluar.
__ADS_1
"Yaren..." cegah Ayaz. Ia mengambil tangan Yaren dan tiba-tiba saja meletakkannya di dada.
"Apa?"
"Kau harus berjanji padaku sebelumnya!" ucap Ayaz.
"Janji?" heran Yaren, "Janji apa?"
"Jika nanti kau bertemu Sam, tidak boleh bersalaman dengannya, tidak boleh bicara sambil menatapnya, kau harus menunduk atau menatap wajahku saja." jelas Ayaz yang mengucapkan janji yang tidak masuk akal bagi Yaren.
"Ayaz... Kau yakin?"
"Ya... Aku sudah terlanjur mengatakan akan mengenalkannya padamu!" angguk Ayaz.
"Sial... Kata-kataku tadi andai saja bisa ditarik!" lanjut Ayaz bergumam. Ia menyesalkan itu.
"Ayaz, kau ini kenapa sih?" Yaren semakin heran dengan sikap Ayaz, apa suaminya ini sedang menegaskan kalau dirinya cemburu? Tapi, apa iya? Yaren rasa Ayaz tidak akan bertindak demikian, lagi pula untuk apa mencemaskan hal semacam itu, bukankah Ayaz sudah tau kalau Yaren sangat mencintai suami tampannya ini.
"Cemburu?" tanya balik Ayaz.
Ayaz berpikir, apa benar dia cemburu, apa begini rasanya cemburu, apa sudah secinta itu dirinya pada Yaren.
"Haha ha ha..." Ayaz tertawa canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia seketika menjadi salah tingkah saat memikirkannya.
"Aku... Aku hanya ingin menjagamu, jangan sampai kau bertindak diluar batas, kau ini kan istriku!" jawab Aya beralasan.
"Hemmm, begitu yaaa..."
__ADS_1
"Kalau begitu ayo, kita bertemu dengan sahabatmu!" ajak Yaren lagi.
"Hei, kau ini... Mengapa terlihat begitu semangat, aku ini suamimu!" tegas Ayaz.
Apa? Sangat bersemangat, perasaan Yaren dirinya ini sedang bersikap biasa saja.
"Ayaz, lalu bagaimana? Apa tidak usah bertemu dengan sahabatmu?" tanya Yaren.
Apa dia benar sedang cemburu? Kalau iya, aahhh menggemaskan sekali! Suamiku, padahal aku tidak akan pernah berpaling darimu...
Ayaz kembali duduk di tepian ranjang, ia memikirkan cara, mengambil bantal dan kemudian membuatnya menjadi tumpuan, Ayaz benar-benar sedang berpikir alasan apa yang akan dikatakannya pada Sam, kalau ia tidak bisa mempertemukan Sam dengan istrinya.
Yaren kembali berbaring, ia lelah menunggu, ini sudah berapa menit dan Ayaz masih juga tidak memberikan tanggapan.
"Jadi bagaimana?" tanya Yaren sekali lagi.
"Kau sungguh ingin bertemu dengannya ya?" sergah Ayaz, tatapannya tajam melayangkan tidak suka.
"Ayaz, aku kan hanya bertanya!" sahut Yaren.
Serba salah, ia tidak berani melawan suaminya ini, ia takut sekali saat mata itu sudah menatapnya sengit, seolah bisa mencabik-cabik jantungnya.
Dia ini tampan, tapi sifat menyeramkannya ini mengapa tidak juga hilang? Aaaaa.... Aku selalu takut melihat mata itu.
"Tunggu, sepertinya dia boleh ku kenalkan padamu, tapi aku punya satu permintaan lagi!" ucap Ayaz setelah sekian lama berpikir.
"Dan kau harus menurut!" lanjutnya.
__ADS_1
Bersambung...
Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰