Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Permintaan Raisa.


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ayaz, ia melihat anak laki-laki itu sedang duduk termenung sendiri. Sepertinya memang ada sebuah trauma yang saat ini sedang menghantuinya.


"Dia masih seperti itu!" jawab Ibu Panti.


"Kalau anda tidak keberatan, bisakah anda mengalihkan perhatiannya?"


"Bagaimana? Apa yang harus saya lakukan?"


"Begini, jangan pernah membiarkannya termenung seperti itu, berikan dia semacam kegiatan, kemarin dia bisa menggambar, coba saja anda berikan dia kertas dan segala macam peralatan melukis, setidaknya dia bisa meluapkan emosinya lagi atau hanya sekedar melupakan apa yang terjadi padanya barang sebentar." jelas Ayaz.


"Memangnya, kira-kira kalau boleh tau... Menurut nak Ayaz, apa yang kiranya sudah terjadi pada anak itu?"


"Entahlah, aku hanya melihat dia memiliki trauma yang cukup berat, pasti telah terjadi sesuatu yang mengerikan." jawab Ayaz.


"Haaahhh!" Ibu Panti menutup mulutnya dengan tangan. "Anak sekecil itu, sebenarnya apa yang telah terjadi padanya, benar-benar kasihan sekali." lirihnya.


"Aku akan berusaha... Ah ya, apa kiranya aku bisa membawa anak itu pergi sebentar? Aku dan Yaren akan membawanya berjalan-jalan barang kali saja bisa membuatnya lebih terbuka!" tanya Ayaz, ia tiba-tiba teringat akan obat yang diracik khusus oleh Marco untuknya dulu, setidaknya obat itu bisa menangani traumanya perlahan, meski tidak bisa menghilangkan dan akan kambuh saat Ayaz terlalu lelah dan banyak pikiran, tapi baginya obat itu cukup membantu pasien trauma seperti dirinya.


"Jalan-jalan? Apa dia tidak apa?"


"Kalau dia bisa dibujuk untuk pergi, itu lebih bagus!"


"Yah... Baiklah, nanti aku akan mencoba membujuknya, semoga saja dia mau!"


Lalu Ibu Panti itu bergegas menemui si anak, kemudian Ayaz menikahinya langsung saja dengan sumringah membujuk anak laki-laki itu supaya mau ikut dengannya.


"Kau mengatakan apa?" tanya Yaren, yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.


Ayaz mengangkat kedua bahunya, "Tidak ada, hanya mengajaknya berteman!" jawab Ayaz seadanya.


"Apa ada perubahan?"

__ADS_1


"Sepertinya tidak, tapi ini bukan apa-apa masih banyak hal yang harus dilakukan!"


"Ayaz, apa kau benar bisa menyembuhkannya?" tanya Yaren, ia berkata dengan penuh harap.


"Yaren, aku tidak bisa berjanji, apa lagi dia adalah anak kecil yang baru berumur tujuh tahun, dia begitu sensitif, rangsangan di otaknya mudah saja terganggu, dia tidak boleh terlalu lelah dan tertekan, bukan seperti aku yang..."


"Kau?" tanya Yaren, ia menatap curiga Ayaz.


"Ahh, maksudku.... Tidak seperti orang dewasa seperti aku." elak Ayaz.


"Hemmm, yah kau benar, tapi menurutmu... Apa ada kemungkinan dia untuk sembuh?"


"Pasti! Jika dia memiliki kemauan kuat, pasti trauma itu akan hilang dengan sendirinya."


"Kira-kira berapa lama? Menurutmu?"


"Hei... Aku bukannya Tuhan yang akan mengetahui semua jalan pikiran dan hidup orang, aku tidak bisa memastikan yang jelas cepat atau lambatnya aku bisa meyakini kalau dia pasti bisa sembuh."


"Dan juga, penting untuk mengetahui apa yang dirinya sukai, hal itu bisa mengalihkan perhatiannya, itu juga bisa membantunya untuk sembuh lebih cepat."


Ayaz mengangguk, pria itu tersenyum lagi menatap wanitanya.


Tanpa sadar waktu itu aku menyukaimu... Kau bahkan sangat membantu penyembuhanku sayang... Kau adalah yang sangat kusukai, jadi... Sekali lagi, aku harus berterimakasih padamu....


"Terimakasih Yaren..." ucap Ayaz tanpa sadar dengan masih memandangi Yaren penuh cinta.


"Apa? Terimakasih, untuk apa?" tanya Yaren heran.


"Eekhmmm..." Ayaz tersadar, mulutnya berbicara sendiri, lebih cepat tanpa mengkonfirmasi dulu dengan pikirannya.


"Terimakasih, yaaa... Terimakasih untuk semuanya!" jawab Ayaz panik.

__ADS_1


"Hahahaha... Justru aku yang harusnya berterimakasih, kau kan sudah sangat banyak membawa kebahagiaan dalam hidupku!" ucap Yaren. Terdengar gombal namun itulah kenyataannya. Ia sangat berterimakasih pada Ayaz.


Terimakasih Ayaz, terimakasih karena sudah mengatakan mencintaiku, terimakasih sudah memilihku... Aku juga, aku juga sangat mencintaimu...


...***...


"Bisakah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Raisa, ia tau dirinya tidak punya hak untuk menanyakan itu, tapi jika Harun bisa menyetujuinya, dia pasti akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.


Lama dirinya memikirkan keputusan yang akan dirinya ambil ini, keputusan yang pastinya akan merubah hidupnya dalam sekejap.


Ia sudah memutuskan sesuatu yang sangat besar selama dirinya hidup. Bukan tentang pernikahan dan bukan pula tentang pendidikan, tapi ini lebih dari itu karena ini tentang hidupnya dan sang Ayah.


Berkali-kali ia meneguhkan hatinya dan mencoba meyakini keputusan yang akan dirinya ambil ini. Meski tidak begitu yakin namun baginya bukankah tidak ada yang bisa dirinya lakukan lagi.


"Apa?" tanya Harun cepat, sebuah alat perekam sudah ia siapkan, tinggal menunggu Raisa mengucapkan pengakuan yang juga akan membalikkan nama baik keluarganya.


"Aku ingin pergi jauh dari sini, bersama Papaku, aku ingin membawanya pergi jauh, apapun akan aku lakukan demi ini, meski aku harus mengorbankan namaku dan nama baik Papaku." ucapnya meminta.


"Kau bilang apa? Apa kau sedang mencoba membuat kesepakatan denganku?" tanya Harun, ia menatap nyalang Raisa, namun sayangnya yang ditatap sama sekali tidak terlihat takut akan dirinya. Sebenarnya ia juga mengakui nyali yang dimiliki oleh seorang wanita yang baru saja ditalak olehnya ini.


"Aku bertanya karena aku benar-benar sangat membutuhkannya, Tuan sangat kaya raya, setelah apa yang Tuan dapatkan dari pengakuanku ini bukankah nama baik Tuan akan kembali seperti sedia kala, tidak bisakah Tuan sedikit bermurah hati, membuang aku dan Papaku ke tempat yang sangat jauh, aku hanya ingin pergi tanpa bayang-bayang masalah yang akan aku hadapi." jelas Raisa mengutarakan isi hatinya.


Ia benar-benar sudah pasrah dan putus asa, negara ini bukan lagi kawannya, semua orang di kota ini tentunya mengenal siapa Argantara dan keluarganya , ia tidak akan sanggup untuk menerima keadaan terburuk yang akan terjadi padanya nanti.


Gunjingan dan segala bentuk makian, bagaimana bisa Raisa menerima itu semua, bisa-bisa ia akan mati bunuh diri karena tidak kuat untuk menghadapi kenyataan.


"Apa kau pikir aku seperti itu? Yang kau bayangkan seorang Harun Aji Suryono adalah seseorang yang bermurah hati? Begitu?"


"Aku juga enggan mengakuinya, kau sama sekali tidak terlihat seperti itu, tapi mau bagaimana lagi bukankah kau sedang menggantungkan nama baikmu padaku, aku hanya mencoba apa yang saat ini sedang kau lakukan, melakukan negosiasi... Karena jujur saja, yah... Nyatanya aku hanya bisa menggantungkan hidup dengan kebaikanmu!" ucap Raisa, ia mencoba kuat meski serasa wajahnya tercoreng banyak sekali.


Malu, tidak-tidak... Lebih tepatnya memalukan, meminta bagai seorang pengemis, seharusnya hal semacam itu tidak pernah dirinya lakukan, tapi ini semua ia lakukandemi Papanya, ia dan Papanya Argantara harus bertahan hidup, bukankah mereka juga berhak bahagia selepas badai besar yang melanda.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2