
"Sebenarnya aku..." Rymi menggantung ucapannya, ia ragu untuk memberitahu Yaren.
"Apa?"
"Tidak jadi, Kakak Ipar! Ayo, kita ke dapur, ada Ayaz dan Daddy di sana, kakak ipar harus mencicipi salad itu juga, rasanya enak sekali, Ayaz benar-benar koki terhebat!" ajak Rymi.
Yaren tersenyum, lalu menurut saja saat tangannya sudah ditarik oleh Rymi.
Sebenarnya Yaren sudah tau perihal Ayaz yang begitu hebat dalam memasak, ia saja sering takjub karena masakan Ayaz yang dinilainya mempunyai cita rasa yang hampir sempurna itu.
"Rymi pelan-pelan, ingat kau itu sedang hamil muda!" ucap Yaren mengingatkan, karena Rymi malah mengajaknya berlari kecil.
Rymi memelankan langkahnya, ia sudah terbiasa melangkah cepat, jadi aneh saja jika tiba-tiba ia berjalan pelan.
...***...
Amla sudah sampai di kantor polisi, ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, hal itu ia lakukan berulang, berharap kegundahan dalam hatinya bisa sedikit mereda.
Ia sama sekali belum mempelajari apapun terkait keterangan apa yang nantinya akan ia berikan, jasad Sian saja belum selesai di otopsi bagaimana ia bisa mendapatkan bocoran tentang kisi-kisi pertanyaan yang akan diajukan padanya nanti.
Dan saat ia membuka undangan resmi untuknya kemarin, nyatanya undangan itu ditujukan padanya karena adanya sebuah laporan pada tanggal yang sama dengan tanggal penyidikan di villa lama keluarga Huculak. Itu berarti, Amla menebak mungkinkah memang benar ada mata-mata yang juga turut hadir di antara mereka pada saat penyidikan itu.
Amla tidak sempat memikirkan itu, ia lebih memilih memikirkan kiranya pertanyaan apa saja nantinya yang akan dirinya jawab, Amla berharapnya semoga saja ia hanya dibebankan sebagai saksi biasa, hanya sebagai penambah keterangan karena status dirinya yang adalah istri dari seorang Sian Atlas Huculak.
"Selamat pagi Nyonya Amla." sapa penyidik saat Amla sudah masuk ke ruangan mereka.
__ADS_1
"Pagi!" sahut Amla. Wanita itu langsung saja duduk, dengan memasang wajah yang memelas seolah sangat bersedih hati karena harus memberikan keterangan terkait kasus kematian yang menimpa suaminya.
"Bagaimana keadaan Nyonya?" tanya penyidik itu berbasa-basi sembari mempersiapkan bahan apa saja untuk mereka melakukan introgasi.
"Baik!"
"Apa Nyonya sudah membaca undangannya?"
"Sudah Pak, dan di sana aku juga melihat ada hal yang tidak aku ketahui, adanya laporan di tanggal yang sama saat pihak kalian melakukan introgasi pada para pengawal di kediaman kami, apa itu artinya memang ada yang melaporkan kasus suami saya? Maksud saya apa ada pengawal yang mengetahui sesuatu tentang kematian suami saya, tapi mereka sama sekali tidak mengatakan apapun pada saya?"
"Untuk itu..." ketua penyidik itu mengangguk, "Tapi kami harus merahasiakan siapa yang melaporkan kasus ini, dari pernyataannya juga kami bisa menarik kesimpulan bahwa Tuan Sian meninggal memang karena dibunuh." jelas penyidik.
Amla mengangguk, "Tapi..."
"Aahhh begitu..." Amla mengangguk lagi, hatinya sedikit tenang kala mendengar penjelasan ketua penyidik itu.
"Bisa kita mulai?"
"Baik Pak!" ucap Amla, ia benar-benar mempersiapkan diri, bukan masalah baginya jika harus kembali berakting menjadi wanita yang paling merasa kehilangan.
Pertanyaan pertama hingga ke enam hanyalah pertanyaan biasa, seperti menanyakan identitas dan seputar peringatan tentang undang-undang yang terkait, Amla bisa menjawab itu dengan tenang. Namun tibalah pada pertanyaan yang rasanya mulai menyudutkannya, karena semakin ke sini Amla bisa merasakan kalau pihak penyidik seperti mencurigainya.
"Di mana anda saat sehari sebelum mayat Tuan Sian di temukan?"
"Aku? Aku berada di rumah, tidak ke mana-mana!" Amla mulai bingung, pertanyaan apa lagi ini.
__ADS_1
"Bagaimana dengan foto ini?" Penyidik memberikan sebuah bukti rekam cctv, pergerakan Amla keluar dari kediamannya mengenakan dress berwarna hijau botol, dengan diiringi beberapa pengawal.
Amla mencoba mengingat-ingat, mungkin barang kali dia memang pernah keluar rumah di hari itu.
"Apakah ini foto anda?" tanya Penyidik.
Amla mengangguk membenarkan, "Aku hanya keluar untuk... Ahh aku lupa, aku ada janji dengan salah satu temanku waktu itu." ucap Amla beralasan.
"Teman yang mana, apa anda bisa menyebutkan siapa namanya, dan di mana anda dan teman anda akan mengadakan janji temu?"
"Namanya Cindy, aku bisa menelponnya untuk membenarkan jawabanku ini!" usul Amla.
Penyidik itu mengangguk, "Silakan anda hubungi, jika teman anda yang bernama Cindy itu membenarkan, maka kami bisa juga membenarkan jawaban anda."
Amla lalu mendial nomor Cindy, karena ia merasa hari itu dirinya benar-benar hanya keluar menemui Cindy sebentar di sebuah cafe.
Namun sayangnya, sudah tiga kali Amla menghubungi nomor Cindy, tapi Cindy tidak juga mengangkat panggilannya.
"Sial, ke mana dia?" gerutu Amla hampir tidak terdengar.
"Bagaimana Nyonya Amla?" tanya penyidik.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1