
"Astagah!"
Ayaz langsung melepaskan pelukannya, sedikit tergesa-gesa menuju kompor karena masakannya sudah menunjukkan tanda-tanda sudah gosong.
"Sial!" umpatnya. Seumur hidup Ayaz tidak pernah menjadi seceroboh ini.
Yaren ingin tertawa, namun sebisa mungkin dirinya tahan karena takut menyinggung perasaan Ayaz.
"Kau seharusnya juga bertanggung jawab kan!" ucap Ayaz, matanya tertuju pada Yaren setelah kemudian kembali memandangi masakan gosongnya
Pencapaian luar biasa Ayaz. Bagus!
"Aku? Kenapa aku?" tanya Yaren, sedikit kesal karena turut disalahkan.
"Kau terlalu menggoda, aku jadi tidak bisa menyia-nyiakannya kan!" jawab Ayaz dengan kerlingan mata genitnya.
Blush, semburat merah menyebar di pipi Yaren, senyum yang dirinya coba tahan pun akhirnya bersemi juga. Sikap manis Ayaz padanya selalu saja membuat perasaannya tidak karuan.
"Ayaz..." lirihnya kesal, namun perasaannya berkata lain, justru sangat bahagia.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." ucap Ayaz terdengar acuh.
Kau membuatku malu, entah di mana hilangnya sifat kasarnya dulu, aku bisa gila jika tiap hari begini.
Yaren bermonolog dalam hatinya, apa Ayaz punya hobi menggombal sekarang.
"Makanan ini sudah tidak bisa di makan, jadi istriku... Bagaimana kau akan bertanggung jawab untuk semua ini?" tanya Ayaz.
"Itukan salahmu!" dengus Yaren tidak terima.
"Salahku? Yah, sebagian... Sebagiannya lagi harusnya salahmu!" aku Ayaz.
"Ayaz!" kesal Yaren. Bukan karena kesal dimintai pertanggungjawaban, namun kesal karena Ayaz yang seolah terus-terusan menggodanya.
"Apa? Kau seharusnya mengajakku makan malam diluar, kurasa cukup!" ucap Ayaz.
"Ayaz, aku kan tidak punya uang." keluh Yaren.
Aku tidak punya uang, kau kan sudah tau itu, dasar!
"Baiklah, aku bisa meminjamkannya, tapi kau harus membayarnya." ucap Ayaz.
Yaren menunduk lesu, hutang lagi! Entah mengapa, jika menyangkut masalah uang, dan segalanya yang harus ia bayar pada Ayaz, Yaren selalu saja ingin menangis, meski sebisa mungkin dirinya menganggap Ayaz sudah berubah.
Ayaz menjadi sedikit bingung dengan perubahan sikap Yaren, apa dirinya baru saja menyinggung perasaan sang istri?
"Yaren, maksudku..."
"Iya aku mengerti." lirih Yaren.
Ayaz langsung saja memeluk istrinya, rasanya saat ini ia takut sekali menyakiti hati wanita itu.
"Yaren, bisakah kita lupakan hal yang kemarin... Aku tidak akan membicarakan perihal hutangmu yang sudah membuatmu takut saat itu, kau benar-benar istriku, bukan hanya pemuas naf*uku, kau adalah pasanganku... Rumah, tempatku pulang." ucap Ayaz, pria itu mengusap lembut puncak kepala Yaren.
Yaren mendongak, apa semudah itu jalan pikiran Ayaz berubah.
__ADS_1
"Kau tidak percaya?" tanya Ayaz. Melihat wajah Yaren yang seperti mencari kebenaran atas kata-katanya itu, membuatnya bertanya.
"Apa kau..."
"Hiduplah bersamaku... Sebagai teman hidupku." ucap Ayaz.
Benarkah yang sedang berkata ini adalah Ayaz, benarkah Ayaz mengatakan itu? Untukku, maksudku... Dia tidak bercanda kan?
"Jadilah ratuku, tidak usah mencemaskan tentang hutang atau apapun, aku hanya ingin kau tinggal lebih lama lagi bersama pria brengsek ini, selain itu aku tidak akan meminta lebih."
*Dan satu lagi Yaren, kau juga harus mencintaiku*! Ayaz.
Bagaimana bisa, bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu, lalu apa kita akan berpisah nantinya? Sedang setiap hari perlakuanmu semakin membuatku nyaman saja. Yaren.
Pelan Yaren mengangguk, tanpa sadar sebenarnya keduanya memang sudah saling jatuh cinta, namun masih terlalu banyak pertimbangan untuk mengakuinya.
...***...
"Merve..." seru Sam, tatapan hangatnya selalu saja dibalas delikan oleh wanita itu.
"Iya Pak!" sahut Rymi ketus, jam istirahat begini Bosnya itu tidak pernah absen mengunjungi ruangannya.
"Mari berkencan!" ajak Sam tiba-tiba.
Rymi melotot mendengar ajakan Bosnya itu. Lagi dan lagi!
Namun kemudian, ia menghela napasnya dalam, percakapan antaranya dan Ayaz pagi-pagi tadi kembali terekam jelas.
Flashback.
"Kau kembali?" tanya Rymi, ia seolah tidak percaya, semalam Marco mengatakan Ayaz kembali bergabung dalam misi ini.
"Apa dia mengancamu?" tanya Rymi.
"Tidak juga."
"Lalu?"
Ayaz menoleh ke arah dedaunan yang masih basah didera embun pagi, arlojinya menunjukkan pukul lima pagi, begitu banyak orang yang datang untuk berolahraga di taman ini. Ayaz menggunakan kesempatan itu untuk mengajak Rymi bertemu.
"Aku harus mencari Ayah kandungku Rym." jelas Ayaz.
"Hemm, yah itu memang cukup untuk dijadikan alasan."
"Marco juga mengubah rencana, dia mengatakan untuk tidak akan melibatkan Samudra dalam hal ini."
"Kau percaya?" tanya Rymi heran.
"Itulah sebabnya aku mengajakmu bertemu." sahut Ayaz.
"Kenapa?"
"Tolong jaga Sam untukku." ucap Ayaz.
"Ayaz! Kau gila." pekik Rymi, tampaknya wanita itu tidak setuju.
__ADS_1
"Rym..." Ayaz menatap Rymi penuh harap.
"Kau mau aku melakukan apa?" tanya Rymi. Kelemahannya adalah Ayaz, ia bisa melakukan apapun untuk sahabatnya itu, atau mungkin Ayaz lebih dari sahabat baginya.
"Kau harus menjadi bayangannya, aku tidak yakin Marco akan menepati janjinya, bisa saja Ayahmu itu menyakiti Sam."
"Lagi pula, kau memang ditugaskan untuk mendekati Bosmu itu kan, aku mohon Rym... Kau bisa menyenangkan Marco namun bisa juga sekalian menjaganya untukku."
"Oh ya Tuhan, kalian berdua membuatku gila." berang Rymi.
"Rym."
"Ayaz! Aku takut menyakitinya." sahut Rymi.
"Kenapa harus menyakiti, kau bisa melanjutkannya, aku rasa sahabatku itu tidak terlalu buruk juga." ucap Ayaz memberikan pendapatnya.
"Sialan, seenaknya saja." dengus Rymi kesal.
"Kudengar dia juga berusaha mendekatimu, kau tinggal menerimanya saja." ujar Ayaz lagi.
"Aku tidak bisa Ayaz."
"Kenapa?"
"Aku takut menyakitinya, bukankah dia adalah orang yang berharga bagimu, aku tidak mau menyakitinya." jelas Rymi.
"Rym, aku tidak bisa mengandalkan siapapun, kalau bukan kau siapa lagi yang bisa menolongku."
"Marco tidak bisa lagi aku anggap sebagai orang yang bisa kupercayai, pria gila harta itu bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuannya."
"Kau kan juga akan masuk di perusahaan itu, mengapa tidak kau saja yang mengawasinya, menjadi bayangannya." tolak Rymi, wanita itu semakin kesal karena menganggap tidak ada yang mengerti akan perasaannya.
"Lalu, kau kan juga tau aku mungkin akan mendapatkan posisi semacam apa di sana?" ucap Ayaz lagi.
"Kesal sekali, apa tidak ada pilihan lain?" Rymi masih kesal.
"Lagi pula, kau sekretarisnya kan, kau yang paling dekat dengannya."
"Jangan terlalu membenci Rym, aku juga awalnya tidak menyukai Yaren, tapi lihatlah!"
"Ya itu karena kau memang ada jiwa bucinnya." sindir Rymi.
"Kau yakin tidak akan bucin dengannya?" tanya Ayaz, pria itu menatap remeh wanita yang sudah bagai adik baginya itu.
"Heh!" Rymi tersenyum samar.
"Tidak apa jika kau tidak bisa mencintainya, kau bisa terus membohonginya, aku hanya percaya padamu untuk berada di dekatnya saat kita melakukan misi ini. Jikapun dia tersakiti... Itu mungkin sudah pilihan, aku tidak akan memaksamu."
"Jalani saja dulu, dekat saja dengannya, jadilah bayangannya, kau bisa melakukannya untukku?" Ayaz menatap wajah Rymi dalam, ia menggantungkan harapan pada wanita itu. Kemudian, langkah kakinya berbalik pergi meninggalkan Rymi.
"Kau..."
Flashback off.
"Baiklah, atur saja jadwalnya!" sahut Rymi. Kali ini, mungkin demi Ayaz dia benar-benar akan melakukannya.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...