Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Berhenti bekerja.


__ADS_3

Ayaz begitu menikmati masa-masa pengantin barunya dengan Yaren, kalau bukan karena dirinya yang mempunyai segudang masalah mungkin Ayaz sudah menjadwalkan bulan madu untuk menyenangkan hati wanita yang tengah berbagi selimut dengannya ini.


Yaren tampak berantakan saat bangun tidur, tadi subuh mereka melakukannya lagi, seulas senyum bahagia menghiasi bibir Ayaz, dia menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta pada wanita ini.


Sebuah pesan dari seseorang membuyarkan tatapan memujanya pada Yaren, satu tangannya yang bebas berusaha mengambil ponselnya yang tersimpan di atas nakas.


📩 Kau sudah tau hasilnya?


"Sialan!" umpatnya, kemudian ia mengetikkan balasan untuk pesan itu.


...***...


"Ada apa?" tanya Rymi. Ia baru saja hendak pergi makan siang di luar kantor, namun Daddynya ini menelpon dan mengajaknya bertemu.


"Kita sudahi saja Rym." ucap Marco. Dahi Rymi mengkerut, sudahi apa?


"Kau aku bebaskan dari pekerjaan ini, kau boleh berhenti saat ini juga, tidak ada lagi misi ini." jelas Marco.


Rymi bertambah tidak mengerti, apa maksud dari perkataan Daddynya.


"Berhenti? Benarkah?" tanyanya.


"Kau, bukannya pernah berkata sudah muak akan pekerjaan ini, aku sedang berbaik hati."


"Daddy, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Rymi bisa menangkap kegundahan di wajah Daddynya.


"Rym, aku yakin darah kami yang sama bukanlah suatu kebetulan." ucap Marco.


"Daddy..."


"Jika dia anakku, ah tidak, bahkan aku sangat yakin kalau dia adalah anakku."


"Aku, sangat bersalah padanya, mencoba tidak lagi mempedulikan Nindi, nyatanya hal itu membawa Nindi dalam kehancuran, seharusnya aku menengok wanita itu sesekali, memastikan sekali lagi apa wanita itu bahagia, meski sakit seharusnya itu sudah biasa bagiku, seharusnya aku tetap bisa menahannya sekali lagi, tapi aku memilih untuk melupakannya, aku... Aku..."


"Daddy, sudah sudah, semuanya sudah terjadi, tidak untuk disesali, sekarang, tinggal bagaimana menyikapi yang ada di hadapan kita saja, itu yang paling penting." ujar Rymi menenangkan.

__ADS_1


Marco tampak menyedihkan, Rymi belum pernah melihat Marco semenyedihkan ini sebelumnya.


"Tuan..." sapa seseorang tiba-tiba.


Marco mendongak, melihat seseorang yang menjadi incaran awalnya berada tepat di dekatnya. Dia adalah Samudra.


"Ya!" sahut singkat Marco.


Rymi memalingkan wajahnya, mengapa di mana-mana ada pria itu pikirnya.


"Aku baru saja akan makan siang, melihat Tuan juga di sini aku merasa perlu menanyakan bagaimana keadaan Tuan, apakah sudah baikan?"


"Sudah, sudah lebih baik, terimakasih atas perhatiannya. Mari ber... Ssshhh." Marco sedikit meringis kala tulang kering di lututnya ditendang oleh Rymi di bawah meja, mencoba memaksakan senyum di hadapan Sam.


Mata Marco membulat, menatap Rymi tidak suka, untung saja dia bisa menahannya kalau tidak bisa dibayangkan betapa malunya dia.


Sementara Rymi, wanita itu tidak akan takut hanya karena gertakan Daddynya, dia memang tidak suka Sam berada di dekatnya, namun Marco malah dengan seenaknya hendak menawarkan bergabung.


"Ada apa Tuan?" tanya Sam, mendengar Marco yang tidak melanjutkan ucapannya membuatnya bertanya.


Sam dengan senang hati mendaratkan bokongnya di kursi, sejujurnya memang hal itulah yang dirinya mau, bisa bergabung dengan wanita yang disukainya dan mencoba dekat dengan pria paruh baya yang digadangnya sebagai calon mertua.


"Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini, bagaimana pekerjaanmu? Aku dengar, kamu adalah Bos di tempat putriku bekerja?" tanya Marco berbasa-basi. Diliriknya Rymi, wanita itu tampak memutar bola matanya malas.


"Ah iya, saya atasan Merve, tidak usah sungkan Tuan." sahut Sam.


Memang tidak sungkan, awalnya juga kau bahkan kuniatkan untuk dibunuh.


"Ah iya iya, apa Merve menyusahkanmu?" tanya Marco.


"Dad!" pekik Rymi.


"Tidak apa!"


"Sama sekali tidak Tuan, Merve sungguh bekerja dengan baik, dia pekerja keras." ucap Sam.

__ADS_1


Rymi menarik sudut bibirnya, mendengar jawaban Sam seperti itu tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide bagus, bukankah senang sekali rasanya jika mematahkan hati Sam sekali lagi hari ini.


"Aahh, terimakasih Pak!" Rymi menampilkan senyum termanisnya, "Kebetulan sekali Bapak bisa bergabung di sini, Begini Pak, tapi saya minta maaf dengan sangat sebelumnya, mungkin saya akan mengecewakan Pak Rangga, jadi... Sebenarnya, orang tua saya menyuruh saya berhenti bekerja, hadirnya beliau ke sini untuk menanyakan bagaimana finalnya keputusan saya. Saya sebenarnya juga tidak mau mengatakan ini terlalu cepat, karena sejujurnya saya juga merasa nyaman bekerja di perusahaan Bapak, tapi Daddy saya punya rencana lain, dia meminta saya untuk berhenti, dan sebagai anak yang patuh saya merasa harus menghormati keinginannya." ucap Rymi, seketika kali ini Marco lagi yang dibuatnya melotot tidak percaya.


Dasar anak durhaka, mengapa pula bawa-bawa aku, perlu digulingkan ini status anak angkat.


Dan Sam, jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi wajahnya, padam! Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu... Dah jadi nyanyi kan akhirnya.


"Apa benar begitu Tuan?" tanya Sam ragu.


Marco menatap canggung, Rymi benar-benar membawanya ke dalam situasi cukup mendebarkan. Dengan terpaksa Marco mengangguk, dan berkata, "Ya, sayang sekali aku harus minta maaf, anakku Merve, sepertinya memang tidak bisa lagi bekerja di perusahaan Bapak."


"Tapi kenapa?" tanya Sam, tidak puas hanya mendengar jawaban sepintas tanpa kejelasan.


"Ada masalah keluarga yang harus kami selesaikan!" jawab Marco.


"Oohh," Sam menatap Rymi, "Ada apa Merve?" bertanya, mencoba mencari jawaban lagi pada sekretarisnya itu.


"Memang ada masalah keluarga Pak, saya minta maaf, mungkin besok saya tidak akan masuk kerja lagi, saya akan..."


"Tidak bisa!" sanggah Sam, bagaimanapun di sini dia adalah Bosnya, tidak apa jika ia bersikap semaunya, sekali-sekali memanfaatkan jabatan rasanya masih pantas saja ia lakukan.


"Tidak bisa seenaknya berhenti, apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu dengan tuntas dan tidak akan menyebabkan kesulitan di kemudian hari? Lagi pula, aku belum punya penggantimu, setidaknya kau bisa keluar saat semuanya sudah aman terkendali." jelas Sam.


"Bapak tidak usah khawatir, saya cukup tau akan hal itu. Kalau begitu saya akan menyelesaikan pekerjaan saya secepatnya dan paling lambat sampai besok sore, dan mengenai pengganti, mohon Bapak bisa mencarikannya, saya bersedia membimbingnya sebentar jika memang diperlukan." ucap Rymi, meski kesal namun ia merasa harus profesional dan bertanggungjawab.


"Tidak..."


Marco yang hendak menambahkan langsung saja ucapannya dipotong oleh Rymi, "Mohon Bapak tidak mempersulit pengajuan resign saya, saya benar-benar punya alasan yang menyebabkan saya harus keluar dari perusahaan Bapak."


Sam menatap Rymi, mengapa rasanya wanita di hadapannya ini benar-benar ingin menghindarinya, apa benar hubungannya dan Rymi harus berakhir sampai besok sore, hubungan yang bahkan belum dimulai itu rasanya sangat menyedihkan harus berakhir tanpa kejelasan seperti ini.


Marco perlahan bangkit dan memundurkan langkahnya pelan, ia tau dari cara Sam menatap putrinya, pria itu menatap Rymi sebagai wanita yang disukainya, Marco merasa harus memberikan waktu untuk keduanya berbincang, sebab itulah ia memilih pergi meninggalkan kedua insan yang berbeda perasaan itu.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2